Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Apa Kabar BI?

08/10/2015 00:00
Apa Kabar BI?
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

KINI terbit keraguan, apakah bank sentral mampu mengantisipasi dan mencegah krisis finansial. Padahal, itulah harapan yang bersemi atas bank sentral setelah krisis finansial global 2008 agar krisis serupa tak terjadi lagi.

Salah satu keraguan itu ialah terhadap apa yang disebut 'makroprudensial' sebagai instrumen bank sentral. Makroprudensial yang intinya fokus memelihara stabilitas sistem finansial ditengarai hanya berhasil sebagai instrumen yang menjanjikan, tetapi masih jauh dari kenyataan sebagai alat bank sentral yang sukses dipakai.

Keraguan bahwa bank sentral mampu menjaga stabilitas finansial itu misalnya gamblang ditujukan kepada The Fed, bank sentral AS. Koran International New York Times edisi Selasa (6/10) memuat tulisan tajam yang menyatakan bahwa merupakan situasi berbahaya bila orang memersepsikan The Fed memiliki alat untuk mengatasi krisis finansial. Bahkan di akhir tulisan berjudul Policy Chiefs Doubt Ability to Head Off Next Crisis itu muncul sinisme, apakah The Fed memiliki instrumen lain selain kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial?

Bank Indonesia sebagai bank sentral menyatakan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan dalam mendukung kesinambungan perekonomian. Kata 'bauran' ialah kata kunci yang perlu dielaborasi karena BI dapat bersembunyi di dalam kata yang manis itu. Seberapa besar faktor 'makroprudensial' dalam bauran itu? Tidakkah ia dominan?

Seperti di belahan dunia lainnya, sebagai bank sentral negara emerging market, BI juga menanti keputusan The Fed. Ketidakpastian penaikan suku bunga The Fed juga berpengaruh besar pada faktor bauran. Buktinya, BI pun mengambil sikap yang sama dengan The Fed, yaitu berkeputusan untuk tidak mengambil keputusan. BI tetap mempertahankan BI rate 7,50%.

Di lain pihak, di dalam negeri yang terjadi bukan lagi tekanan inflasi terjaga, bahkan deflasi. Akan tetapi, instrumen makroprudensial BI membaca data ekonomi itu juga dengan superhati-hati. Deflasi dinilai terjadi karena sejumlah kelompok barang diatur pemerintah, terutama koreksi berbagai tarif angkutan sehingga tidak dinilai sebagai faktor pasar signifikan untuk menurunkan suku bunga.

Pada Agustus lalu, rata-rata rupiah melemah 2,9% ke level Rp13.789 per dolar AS. Selama 8 bulan (Januari-Agustus 2015), rata-rata cadangan devisa US$110,48 miliar, tertinggi Februari US$115,53 miliar, terendah Agustus sebesar US$105,3 miliar. Terendah, tapi setara dengan 7,1 bulan impor, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Sekalipun dalam kondisi rupiah terus melemah, BI terus menjaga cadangan devisa di atas angka psikologis US$100 miliar. Dalam bahasa sebaliknya, BI dibayangi ketakutan menembus angka psikologis, sehingga instrumen makroprudensialnya pun bekerja superhati-hati. Padahal, apalah bangganya memiliki cadangan devisa dua kali lebih besar standar kecukupan internasional, sedangkan rupiah memburuk? Mengapa tidak memilih cukup sesuai standar?

Kabar gembira, rupiah kemarin membaik. Namun, lebih karena kebijakan pemerintah, terutama harapan terhadap Paket Kebijakan Jilid 3, bukan karena BI. Kita bertanya, apa kabar BI? Kita menunggu kabar baik dari BI, misalnya, berani menurunkan suku bunga untuk memacu kredit.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.