Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Tembak Mati Cegah Covid-19

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
18/9/2020 05:00
Tembak Mati Cegah Covid-19
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PEMERINTAH Korea Utara menerapkan kebijakan tembak mati penyelundup untuk mencegah virus korona memasuki negara itu dari Tiongkok. Sejak Januari, Pyongyang menutup perbatasannya dengan Tiongkok, sekutu utamanya, demi mencegah menyusupnya virus korona. Pada Juli 2020, media melaporkan pemerintah telah menaikkan keadaan daruratnya ke tingkat maksimum. Korut yang miskin, yang sistem kesehatannya hancur, belum mengonfi rmasi satu pun kasus covid-19 yang melanda dunia sejak pertama kali muncul di Tiongkok.

Korut negara komunis dan otoriter. Negara komunis lainnya yang dianggap sukses menangani pandemi covid-19 ialah Tiongkok dan Vietnam. Kedua negara menerapkan kebijakan lockdown ketat dan keras, meski tidak sekeras Korea Utara dengan kebijakan tembak matinya. Dari situ, orang berkesimpulan negara-negara komunis dan otoriter sukses menangani pandemi covid-19.

Melihat kesuksesan Tiongkok dan Vietnam, juga Korea Utara, dalam menangani pandemi covid-19, sejumlah kalangan pada awal-awal pandemi covid-19 melanda Tanah Air mendesak pemerintah meniru negara-negara tersebut menerapkan lockdown. Bahkan sampai saat ini pun ada yang meratapi mengapa Indonesia dulu tidak melakukan lockdown. Untung saja tidak ada yang mendesak pemerintah Indonesia meniru Korea Utara, menerapkan tembak mati penyusup di perbatasan.

Prancis, Italia, Spanyol melakukan lockdown, tetapi gagal menekan penyebaran covid-19. Itu artinya lockdown tak menjamin keberhasilan menekan pandemi covid-19. Prancis dan Italia ialah negara demokrasi. Negara demokrasi lainnya yang dianggap gagal menangani pandemi covid-19 ialah Amerika, Inggris, India.

Melihat negara-negara komunis dan otoriter sukses menangani pandemi covid-19 dan negara-negara demokrasi gagal me nanganinya, lahir kesimpulan berikutnya bahwa negara komunis dan otoriter lebih sukses menangani covid-19 jika dibandingkan dengan negara-negara demokrasi.

Akan tetapi, Taiwan, Jerman, Selandia Baru, Australia, dan sejumlah negara Eropa dianggap berhasil menangani pandemi covid-19. Negara-negara tersebut menganut demokrasi.

Itu artinya kesimpulan negara komunis dan otoriter sukses atau lebih sukses menangani pandemi covid-19 tidak sepenuhnya benar. Tidak ada korelasi antara sistem pemerintahan dan gagal atau suksesnya penanganan pandemi covid-19. Sistem pemerintahan tidak menentukan kesuksesan penanganan pandemi covid-19.

Majalah the Economist edisi 29 Agustus 2020 merumuskan empat kategori pemimpin dunia dalam menghadapi pandemi covid-19. Kelompok pertama ialah pemimpin yang menganggap virus korona bukan masalah. Salah satunya Gurbanguly Berdymukhamedov. Presiden Turkmenistan ini mendenda siapa pun yang mengenakan masker. Belakangan dia memerintahkan rakyatnya mengenakan masker, tetapi bukan untuk melindungi dari virus korona, melainkan menghindari debu.

Kelompok kedua, pemimpin yang menggunakan paksaan maksimum sampai mengabaikan kebebasan sipil dalam menangani pandemi korona. Presiden Tiongkok Xi Jinping dan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un masuk kategori ini.

Kelompok ketiga ialah para pemimpin negara demokrasi yang sukses melawan virus dengan membatasi berbagai kegiatan masyarakat. Amerika dan negera-negara demokrasi di Eropa masuk kategori ini. Kelompok keempat ialah pemimpin yang berupaya keras menanggulangi pandemi covid-19, tetapi tidak mulus. Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan Presiden Indonesia Joko Widodo masuk kategori ini.

Serangkaian kategori semestinya eksklusif, tidak boleh ada persinggungan di antara satu kategori dan kategori lainnya. Namun, kategori ketiga dan keempat bersinggungan. Jokowi dan Duterte bisa dimasukkan ke kategori ketiga. Keduanya pemimpin negara demokrasi dan berupaya menahan laju penyebaran covid-19 dengan membatasi berbagai kegiatan masyarakat, terlepas berhasil atau gagal. Lalu, bila dilihat dari jumlah yang terjangkit covid-19 dan angka kesembuhan, Indonesia lebih sukses jika dibandingkan dengan Amerika.

Tidak ada rumus tunggal dan paling mujarab terkait kepemimpinan atau sistem pemerintahan untuk menghadapi pandemi covid-19. Yang tunggal dan paling mujarab dalam menghadapi pandemi virus korona ialah pakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan pakai sabun. Namun, tidak ada rumus tunggal bagaimana membuat masyarakat patuh memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Pemimpin semestinya menerapkan berbagai kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing dalam menghadapi pandemi covid-19.


covid-19.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.