Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Momentum Guru

02/10/2015 00:00
Momentum Guru
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MARI kita berbincang tentang guru tidak dengan rasa sesak di dada. Kita berbincang tentang para pendidik dengan harapan, mesti entah kapan. Setidaknya sejak 2015 hingga 2020 ada gelombang pensiun guru secara besar-besaran. Inilah momentum untuk merekrut guru-guru terbaik untuk membenahi pendidikan kita.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, Sulistyo, jumlahnya berkisar 500 ribu hingga 1 juta guru. Itulah para pengajar generasi pertama yang diangkat ketika SD inpres (instruksi presiden) secara besar-besaran didirikan pada 1970-an.

Lulusan sekolah pendidikan guru (SPG) tak mencukupi. Karena itu, banyak lulusan 'sekolah lain' diterima menjadi guru SD dengan pelatihan seadanya. Tak ada yang salah dengan guru. Ia hanya menjalankan kebijakan apa yang digariskan pemerintah.

Guru di ruang kelas (kemampuan guru mengajar) memang penentu pendidikan. Akan tetapi, jika kebijakan tambal-sulam, tak mempunyai kebijakan yang konsisten dan bermasa depan, apa hendak dikata?

Terlalu banyak penelitian yang mengatakan selama berpuluh tahun pendidikan kita tak kunjung naik kelas.

Mari kita tengok sekilas, aneka upaya perbaikan yang terasa tergesa-gesa.

Mulai kurikulum baru yang selalu muncul ketika seluruh programnya belum tuntas dilaksanakan di seluruh negeri (baca Podium berjudul 'Guru' edisi 9 Juni 2015). Lalu, pada 1990, SPG pun dihapus karena lulusannya dinilai tak layak lagi untuk menjadi guru SD.

Didirikanlah PGSD (pendidikan guru sekolah dasar), umumnya yang diterima lulusan SMA. Banyak lulusan SPG beralih profesi, padahal di daerah amat banyak SD kekurangan guru.

Pada 2000-an institut keguruan ilmu pendidikan (IKIP) yang semula sebagai 'penyedia' calon guru SMP dan SMA juga dihapus. Ia berubah menjadi universitas. Bidang keguruan hanya menjadi fakultas (fakultas keguruan ilmu pendidikan). Mutu pendidikan juga jalan di tempat!

Undang-Undang Guru dan Dosen dibuat. Anggaran pendidikan naik menjadi 20%, sekitar Rp450 triliun. Untuk meningkatkan mutu guru, muncul program sertifikasi guru.

Upaya yang sebenarnya baik. Namun, menyedihkan hasil uji kompetensi guru. Guru yang telah lulus sertifikasi tak lebih baik jika dibandingkan dengan guru yang belum disertifikasi.

Padahal, kita tahu program yang dilaksanakan sejak 2006 itu bermisi guru yang sejahtera harus bisa meningkatkan mutu pendidikan yang berkelanjutan.

Sertifikasi menghabiskan anggaran amat besar, Rp70 triliun per tahun.

Penelitian Rohemi dari Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang pada 2013 juga menunjukkan sertifikasi guru gagal.

Dengan jumlah guru Indonesia sekitar 3 juta orang, baik swasta maupun negeri, rasio guru dan siswa kita termasuk yang terbaik di dunia, yakni 1:14.

Banyak negara dengan rasio di bawah Indonesia, pendidikannya lebih baik. Sekitar 75% guru di Indonesia menumpuk di kota-kota, sementara desa masih banyak yang merana. Ini bertahun-tahun tak diselesaikan.

Rencana diangkatnya sekitar 440 ribu guru honorer menjadi PNS mulai 2016 mungkin itu kabar gembira bagi dunia kerja. Namun, apakah solusi bagi dunia pendidikan?

Dengan melihat berbagai upaya meningkatkan mutu pendidikan yang selalu gagal dalam tataran implementasi, sesungguhnya dunia pendidikan menghadapi persoalan amat serius.

Masa hingga 2020 untuk menggantikan bom pensiun guru, sungguh perlu mengerahkan pemikiran terbaik, matang, penuh visi, dan berani.

Jika tidak, kita akan kian dalam tenggelam! Momentum ini tak boleh terbuang percuma.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.