Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Lahan Gambut

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/7/2020 05:00
Lahan Gambut
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PADA 1995 Presiden Soeharto memikirkan perlunya ekstensifikasi lahan pertanian akibat terus berkurangnya pematang sawah di Pulau Jawa. Industrialisasi yang gencar dilakukan sejak 1988 membuat alih fungsi lahan pertanian terjadi besarbesaran. Ancaman kekurangan pangan diantisipasi karena jumlah penduduk Indonesia terus bertambah.

Ahli ekonomi Inggris Thomas Robert Malthus sejak akhir abad ke-19 sudah mengingatkan pentingnya memperhatikan kesediaan pangan. Dunia akan dihadapkan kepada kelangkaan pangan karena jumlah penduduk akan bertambah seperti deret ukur, sedangkan produksi pertanian hanya bertambah seperti deret hitung.

Langkah yang ditempuh Presiden Soeharto ketika itu ialah memanfaatkan lahan luas di Kalimantan Tengah untuk dijadikan lahan pertanian. Dana besar disiapkan untuk membangun bendungan, saluran irigasi, dan petak-petak persawahan. Sejuta hektare proyek yang digagas memunculkan harapan produksi yang melimpah.

Sayangnya, sampai akhir pemerintahan Presiden Soeharto, proyek itu tidak pernah terealisasi. Proyek raksasa itu bukan hanya mangkrak, tetapi menimbulkan korupsi yang luar biasa besarnya. Beberapa pejabat akhirnya harus mendekam di dalam penjara.

Seperempat abad kemudian ide itu kembali muncul. Presiden Joko Widodo mengharapkan lahan gambut di Kalteng dijadikan lumbung pangan. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek.

Kita tentu berharap untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Kita tidak boleh seperti keledai yang terantuk di batu yang sama dua kali. Jangan sampai proyek ini juga terbengkalai lagi dan akhirnya membawa mereka yang ditugasi untuk mengerjakannya kembali tersangkut masalah hukum.

Ada tiga hal yang setidaknya harus diperhatikan yakni manajemen, teknologi, dan keterlibatan masyarakat. Kita membutuhkan manajer yang andal dan orientasi pembangunan pertaniannya kuat. Dana besar yang tersedia tidak boleh sampai menggoyahkan orientasinya. Ia harus memiliki pikiran strategik untuk merealisasikan keinginan membangun lumbung pangan.

Kedua, pemimpin proyek harus memiliki pemahaman teknologi yang maju. Pertanian di lahan gambut akan menghadapi tantangan yang berat. Dibutuhkan hadirnya teknologi yang tinggi, mulai dari penyiapan lahan, pengolahan lahan, pemilihan bibit, hingga pemeliharaan dan pemanenan.

Terakhir yang tidak kalah pentingnya ialah menyiapkan orang yang akan bekerja di lahan gambut. Mereka harus diberi pelatihan mengenai karakter lahan gambut. Semua yang bekerja harus mempunyai disiplin tinggi serta paham tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di lahan gambut.

Kepemimpinan yang kuat dibutuhkan karena kita harus mengerahkan semua ahli pertanian terbaik untuk menggarap tanaman pangan di lahan gambut. Ini bukan proyek coba-coba, tetapi harus benar-benar berhasil. Kita tidak hanya akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat kalau proyek ini sekadar menjadi bancakan, tetapi ketersediaan pangan nasional juga akan terganggu.

Kita sudah berulang kali menyampaikan, wabah covid-19 yang sedang kita hadapi jangan membuat kita menjadi bangsa yang merugi. Inilah kesempatan untuk membangun Indonesia yang baru. Pertanian harus menjadi kekuatan dari bangsa ini untuk mengejar kemajuannya.

Apalagi sekarang banyak masyarakat membutuhkan lapangan pekerjaan. Kita tidak boleh lupa 60% bangsa ini masih hidup dari pertanian. Kita akan bisa menjadi kekuatan dunia apabila mampu menggabung keterampilan masyarakat, teknologi, dan ketersediaan lahan.

Ke depan bukan hanya kita yang membutuhkan ketersediaan pangan yang mencukupi, tetapi juga seluruh bangsa di dunia. Pada masa covid-19 orang semakin membutuhkan pangan yang berkualitas untuk menjaga imunitas. Semua negara di dunia lebih memikirkan untuk memenuhi kebutuhan bangsanya daripada bangsa lain.

Inilah momentum untuk mengubah kebiasaan untuk mengimpor bahan pangan menjadi tabiat memenuhi kebutuhan dengan kemampuan sendiri. Kita pernah membuktikan mampu melakukan itu pada 1984. Seluruh dunia memberikan penghormatan yang tinggi atas keberhasilan kita mengubah dari negara yang terjerat krisis pangan menjadi negara yang mampu melakukan swasembada.

Sanggupkah kita mengulangi keberhasilan itu? Dengan kemajuan yang telah dicapai seharusnya tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Kita hanya membutuhkan kemauan dan kesungguhan untuk merealisasikan mimpi besar bangsa ini. Bukan sebaliknya hanya menjadikan sekadar proyek berdana besar yang dipakai untuk kepentingan sesaat.

 

 

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.