Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Pembiaran Premanisme

Gaudensius Suhardi, Dewan Redaksi Media Group
02/7/2020 05:00
Pembiaran Premanisme
Gaudensius Suhardi, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KARANGAN bunga membanjiri Polres Metro Jakarta Barat pada 22 November 2018. Karangan bunga itu disertai pesan dukungan kepada kepolisian. Di antaranya datang dari warga Cengkareng berisi pesan hidup tenteram tanpa kriminalitas dan pesan hidup indah tanpa premanisme dari pedagang Petak Sembilan, Glodok.

Warga mengirim karangan bunga setelah sehari sebelumnya, 21 November 2018, Polres Jakarta Barat menangkap Hercules Rosario Marshal. “Hercules sudah berulang kali melakukan kejahatan premanisme. Kami ingin berikan efek jera,” kata Kapolres Jakarta Barat saat itu, Hengki Haryadi.

Pesan yang tersurat dalam karangan bunga itu sangat dalam. Warga, dari lubuh hati terdalam, merindukan hidup tenteram tanpa kehadiran premanisme. Tugas kepolisian salah satunya ialah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.

Keamanan dan ketertiban itu seperti timbul tenggelam. Premanisme kembali disorot setelah terjadi kekerasan antara duo kerabat Kei, John dan Nus. Kekerasan antarsaudara yang melibatkan pendukung masing-masing di ruang publik itu kembali menodai rasa aman warga. Polda Metro Jaya menangkap John Kei pada 22 Juni.

Memang, kali ini kantor polisi tidak dibanjiri karangan bunga. Meski demikian, janji Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis patut dipegang. Ia memastikan Polri tidak akan memberikan ruang kepada kelompok preman yang membuat resah dan takut masyarakat. “Kuncinya, negara tidak boleh kalah dengan preman,” kata Idham.

Harus tegas dikatakan bahwa otoritas keamanan selalu bersemangat menabuh genderang perang terhadap preman ketika ada kejadian besar seperti dalam kasus Hercules atau John Kei. Celakanya,ketegasan itu kerap bersifat sesaat. Tabiat pembiaran selalu saja terulang sehingga premanisme mendapatkan ruang yang nyaman untuk, kembali, dan kembali, mengangkangi hukum. Apalagi, Hercules dan John Kei berulang-ulang menjadi manusia rantai alias keluar masuk penjara.

Setiap pemimpin kepolisian dalam berbagai tingkatan selalu berjanji untuk memberantas preman. Timur Pradopo, misalnya, dalam 10 program prioritasnya saat mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di DPR pada 2010, menjadikan pemberantasan premanisme sebagai program 100 hari pertama.

Begitu juga Tito Karnavian saat menjabat Kapolda Metro Jaya pada 2015, berjanji untuk sikat preman. Tindakan tegas itu, menurut dia, bukan langsung menembak mati preman atau pelaku kriminalitas. “Tapi terukur, ada bukti, ajukan ke pengadilan untuk efek jera,” ujar Tito saat itu.

Penangkapan preman secara besar-besaran pernah dilakukan Polres Jakarta Barat pada 2018. Sepanjang tahun itu, Polres Jakarta Barat menangkap 1.105 preman sehingga menyabet piagam penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia atau Muri.

Premanisme di kota besar bukan barang baru. Fenomena ini muncul karena adanya kebutuhan penyedia jasa keamanan secara fi sik dan pada sisi lain ada uang jasa keamanan dari penyewaan kelompok preman tersebut. Fenomena ini berlangsung di ruang terbuka. Untuk memberantas premanisme perlu ketegasan yang berkelanjutan.

Tabiat premanisme memicu keresahan warga karena menghalalkan segala cara, dengan kerap menggunakan pendekatan kekerasan. Itu pula yang membedakan masyarakat terdidik dan primitif.

Yang disebut pertama akan menyelesaikan segala persoalan dengan pertimbangan akal sehat, rasionalitas, dan hati dingin. Mereka pasti akan mengedepankan dialog dan argumentasi. Adapun yang disebut kedua menghadapi persoalan apa saja dengan kekerasan, berkelahi, dan adu jotos. Kekuatan otot mengalahkan otak.

Kiranya tidak bijak menyerahkan persoalan premanisme itu hanya kepada kepolisian sebab para ahli telah mendefi nisikan kemiskinan sebagai akar dari premanisme, kejahatan. Bahkan, Kaisar Romawi Marcus Aurelius (121-180 M) menyatakan bahwa kemiskinan itu ibu dari segala kejahatan.

Hubungan kemiskinan dan kejahatan diurai secara apik dalam buku Sukses Membangun Kewirausahaan Sosial: Konsep, Teori, & Praktik karya Benedicta Evienia Prabawanti dan Susy YR Sanie Herman. Mengutip penelitian berbasis data eksplorasi dari Badan Pusat Statistik dan Polri, ditemukan sebuah hubungan yang kuat antara angka rasio kemiskinan dan tingkat kemiskinan.

Setiap kenaikan yang terjadi pada rasio angka kemiskinan, tingkat kriminalitas di dalam masyarakat mengalami kenaikan. Sebaliknya, bila setiap rasio angka kemiskinan menurun, tingkat kriminalitas dalam masyarakat juga menurun.

Pandemi covid-19 telah mengubah wajah negeri ini. Selain pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan anjlok, jumlah penganggur diperkirakan melonjak dan angka kemiskinan juga diperkirakan meningkat. Bukan tidak mungkin, tingkat kejahatan juga meningkat, premanisme tumbuh pesat.

Baik kiranya kepolisian mulai memetakan pusat-pusat premanisme di Ibu Kota dan mengambil langkah-langkah antisipasi. Jangan sampai terlambat mengantisipasi apalagi melakukan pembiaran

 

 

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Tahanan Istimewa

    26/3/2026 05:00

    YAQUT Cholil Qoumas memang telah kembali dijebloskan ke balik jeruji besi rumah tahanan KPK.

  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik