Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TAKDIR dan tragedi kini seru diperdebatkan. Adakah tragedi Mina yang menewaskan lebih dari 800 jemaah-- Iran menyebut 1.300 jemaah--pekan silam sebuah takdir? Para petinggi Arab Saudi menyebut tragedi Mina sebagai takdir Illahi.
"Jenis kecelakaan bisa dihindari. Namun, ini adalah takdir Allah," kata Menteri Kesehatan Arab Saudi, Khaled al-Falih. Namun, ia minta dunia bersabar menunggu hasil investigasi.
Bukankah ia sendiri terjebak dalam paradoks itu: takdir yang aksioma dan upaya investigasi yang perlu pembuktian?
Suara umara pun seperti tak cukup. Ulama besar Arab Saudi Sheikh Abdul Aziz al-Sheikh pun membela sang umara.
"Anda tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi karena untuk hal-hal yang tak bisa dikendalikan manusia, Anda tidak bisa disalahkan. Ini nasib dan takdir yang tak ter-elakkan," katanya kepada Putra Mahkota Mohammed, Mendagri Arab Saudi.
Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud juga memerintahkan pemenggalan 28 petugas yang tak mengikuti petunjuk. Namun, lagi-lagi, bukankah investigasi juga belum berakhir?
Dunia telanjur tak percaya. Terlebih seperti ditulis harian Libanon, al-Diyar, rombongan Pangeran Mohammad bin Salman Al Saud menjadi penyebab tragedi itu.
Rombongan pangeran itulah yang menyebabkan dua jalur melempar jumrah ditutup, justru ketika manusia tengah menyemut dalam panas tiada terkira. Injak-menginjak pun tak bisa dihindari.
Itu sebabnya Iran yang warganya paling banyak menjadi korban, sekitar 140 korban tewas, amat marah. Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei meminta pemerintah Saudi bertanggung jawab atas tragedi Mina.
"Dalam setiap bencana, Saudi mengatakan itu takdir Tuhan. Hal ini bukan semata-mata kehendak Tuhan, ini adalah inkompetensi manusia," kata penasihat operator tur travel haji dan umrah Inggris, Mohammed Jafari.
Ia menuduh tragedi Mina kesalahan keluarga kerajaan.
Pro-kontra juga terjadi di Indonesia.
Debat di media sosial, yang membela Arab Saudi dituduh sebagai pembela Wahabi, dan yang menentang sebagai pendukung Syiah.
Kita tak ada urusan dengan Syiah dan Wahabi. Kita hanya melihat manajemen pengelolaan haji yang dimonopoli Arab Saudi kian buruk.
Bukankah dua pekan sebelum tragedi Mina, ada mesin derek (crane) di Masjidil Haram menewaskan lebih dari 100 jemaah?
Sementara tragedi Mina, sejak 1990 telah delapan kali terjadi, lebih dari 3.000 jemaah meninggal. Kalau bukan kegagalan, apa yang lebih pantas dialamatkan pada negeri kaya minyak itu?
Tragedi demi tragedi terjadi. Selama itu pula umat Islam dunia terus menerima perkabungan itu sebagai takdir.
Akan tetapi, dalam ritual ibadah yang berat dan mahal secara material, dan mendatangkan keuntungan ekonomi yang besar pada negara penyelenggara, apakah takdir bisa terus menjadi tempat 'bersembunyi'?
Terlebih ketika jelas-jelas, ada kesalahan manusia?
Justru kelaziman, setiap perhelatan digelar, terlebih perhelatan raksasa bernama ibadah haji, yang melibatkan sekitar 2 juta jemaah dengan rupa-rupa kultur dari berbagai negara dan bangsa, harus dikelola dengan profesional dan manajemen yang transparan.
Saudi sebagai pengelola harus terbuka menerima masukan dari negeri mana pun, sejauh bisa memperbaiki pengelolaan haji.
Berhaji, menjadi tamu Allah, sudah selayaknya dilakukan dalam kenyamanan dan jaminan keselamatan. Bukan dalam ketegangan, ketakutan, dan bayang-bayang kematian yang memilukan.
Untuk itu, kita menunggu hasil investigasi yang objektif, independen, dan jujur, yang jadi modal kepercayaan kembali pada penyelenggaraan haji.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved