Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Tumbuh Negatif

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
19/6/2020 05:00
Tumbuh Negatif
(MI/EBET)

SUDAH berulangkali kita ingatkan, turbulensi hebat akan kita hadapi di kuartal II. Upaya kita bersama untuk menekan penularan covid-19 akan berpengaruh nyata terhadap perekonomian. Guncangannya akan sangat keras dan kalau kita tidak hati-hati akan membuat penumpang bisa cedera apalagi jika tidak mengencangkan sabuk keselamatan.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, selalu mengatakan salah satu kunci keberhasilan kita dalam menangani pandemi covid-19 ialah kemampuan untuk menyalurkan bantuan kepada rakyat. Mereka yang terkapar oleh pemutusan hubungan kerja jangan dibiarkan sampai tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya menyam- paikan pertumbuhan di kuartal II akan negatif. Untuk pertama kalinya sejak 1998, kita akan mengalami pertumbuhan minus 3,1%. Ini pun baru perkiraan. Jangan-jangan setelah Juni ini berakhir kontraksinya akan lebih dalam lagi.

Ini memang kenyataan yang harus dihadapi seluruh negara di dunia sebagai konsekuensi upaya untuk menekan penularan covid-19. Hanya, yang harus diperhatikan, kemampuan negara untuk merespons pertumbuhan yang negatif itu berbeda-beda.

Singapura, misalnya, menyediakan stimulus sampai US$100 miliar. Padahal, jumlah penduduknya tidak sampai 6 juta jiwa. Perdana Menteri Lee Hsien Loong sudah menyampaikan pidato kepada seluruh rakyat bahwa negara akan mengerahkan segala daya yang dimiliki untuk melewati masa-masa yang sulit ini. Bahkan para menteri diminta untuk bertemu langsung rakyat guna mengetahui apa yang perlu dilakukan pemerintah kepada mereka.

Kita pun sudah merespons risiko yang harus dihadapi. Stimu- lus yang dipersiapkan sudah dinaikkan dari Rp405 triliun men- jadi Rp766 triliun. Namun, kenaikan angka stimulus itu dianggap masih terlalu kecil dan tidak cukup untuk menyelesaikan masa- lah yang kita hadapi. Stimulus yang kita sediakan tidak sampai setengah stimulus yang disiapkan Singapura.

Padahal, besaran ekonomi Indonesia tiga kali ekonomi Singa- pura. Jumlah penduduk Indonesia lebih 50 kali penduduk Si- ngapura. Kalau stimulusnya tidak bisa menyelesaikan persoalan yang kita hadapi, kita akan sulit kembali ke situasi normal.

Kita sependapat dengan pandangan Menteri Keuangan bahwa stimulus itu harus akuntabel dan terukur. Justru karena akuntabel dan terukur, kita seharusnya bisa menghitung dengan lebih cermat kebutuhan untuk menghidupkan kembali mesin ekonomi yang terhenti ini. Kita membutuhkan adanya jump start agar ekonomi bisa bergulir lagi.

Kita juga ingin menggarisbawahi pernyataan Menteri Ke- uangan bahwa stimulus ini harus cepat dan tepat. Ibaratnya, kita memang tidak boleh sampai membuat mesin ekonomi yang terhenti ini sampai karatan. Kalau itu yang terjadi, biaya pemulihannya akan jauh lebih mahal lagi.

Sekarang ini banyak kalangan dunia usaha bertanya, bagai- mana mereka bisa mendapatkan stimulus untuk modal kerja. Sebuah hotel membutuhkan biaya operasional sekitar Rp2 miliar per bulan. Mereka membutuhkan minimal satu tahun modal kerja untuk menyerap kembali pegawai mereka yang sudah tiga bulan ini dirumahkan.

Pernyataan Menteri Keuangan harus diterjemahkan oleh perangkat di bawah untuk membangun sistem penanganan krisis. Siapa saja pengusaha yang berhak mendapatkan stimulus dan bagaimana cara mereka mengajukan? Berapa lama kemudian keputusan untuk mendapat stimulus bisa mereka dapatkan dan bagaimana pencairannya? Berapa tingkat bunga yang harus dibayarkan dan berapa lama periode pengembaliannya?

The devil is in detail. Kita tidak bisa hanya berhenti untuk menyampaikan besaran stimulus yang akan dikeluarkan pemerintah, tetapi bagaimana juga eksekusinya. Bagaimana stimulus yang ditetapkan bisa benar-benar menggerakkan kembali roda perekonomian, baik itu untuk usaha mikro, kecil, menengah, maupun besar.

Kecepatan untuk melakukan eksekusi sangat dibutuhkan karena kita dihadapkan kepada situasi krisis. Dalam situasi krisis, pilihan yang dihadapi bukan antara yang baik dan yang buruk, tetapi antara yang buruk dan kurang buruk. Sebuah pilihan yang tidak mudah, tetapi harus diambil.

Jangan lupa kita sudah menjadi negara dengan produk domestik bruto di atas US$1 triliun. Pohon yang semakin tinggi sudah pasti angin yang harus dihadapi akan semakin kencang. Terpaan ke depan akan semakin berat lagi karena kita memimpikan untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor empat terbesar di dunia.

Sebelum kita bisa mencapai tujuan besar itu, kita harus mampu menyelesaikan persoalan yang ada sekarang. Kita harus mau memindahkan mode yang harus kita lalui ke mode ‘sangat berat’. Pertumbuhan minus ini harus direspons dengan benar karena kita harus bisa membalikkan keadaan di kuartal III agar tidak semakin banyak lagi warga yang harus terkapar oleh virus PHK.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)