Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBURUKNYA perekonomian telah mendorong terbitnya keraguan pada kebenaran data ekonomi. Itulah yang terjadi atas data ekonomi Tiongkok. Seperti halnya banyak barang palsu diproduksi di Tiongkok, demikian pulalah data ekonominya dicurigai hasil pabrikasi.
Kepalsuan fundamen ekonomi itu antara lain ditengarai menyulitkan pengambilan keputusan, termasuk penaikan suku bunga The Fed, bank sentral AS.
Koran terkemuka Financial Times (17/9) menurunkan artikel bertajuk China's Economic Facts and Fakes Can be Hard to Tell Apart, gamblang menunjukkan ihwal fakta dan kepalsuan data ekonomi Tiongkok. Dikutip dalam tulisan itu kajian Harry Wu, ekonom dari The Conference Board, lembaga riset independen, selama 1978-2012 pertumbuhan ekonomi Tiongkok hanya 7,2% per tahun, 2,6% di bawah pertumbuhan resmi 9,8%. Bahkan pada 2008 pertumbuhan hanya 4,7%, sedangkan resmi 9,6%. Pada 2012 lebih parah lagi, cuma 4,1% berbanding pertumbuhan resmi 9,7%.
Tiongkok dinilai membengkakkan pertumbuhan produktivitas dan mengempiskan inflasi. Daripada memercayai angka GDP, lebih baik memercayai volume berbagai kegiatan ekonomi seperti pengapalan barang, kargo kereta api, pemakaian listrik, penjualan properti, dan jumlah warga bepergian ke luar negeri. Berdasarkan semua itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok cuma 4,3%, jauh di bawah estimasi resmi 7%.
Contoh lain, media Jepang Nikkei Asian Review (2/9) meragukan cadangan devisa Tiongkok, apakah benar segendut US$3,6 triliun. Selama dua pekan pada pertengahan Agustus lalu saja The People's Bank of China (PBOC), bank sentral Tiongkok, telah menjual US$106 miliar.
Pertama kali Tiongkok mendevaluasi renminbi 11 Agustus 2015 dan pertama kali pula dalam sejarah, November 2014 hingga Agustus 2015, bank sentral Tiongkok telah lima kali menurunkan suku bunga. Ada yang berpandangan, dengan asumsi 65% cadangan devisa dalam dolar AS dan utang mencapai US$1,5 triliun, cadangan devisa Tiongkok tidak cukup mampu mengatasi gejolak nilai tukar bila kian memburuk. Berapa sebenarnya, persisnya, cadangan devisa tersisa, jangan-jangan hanya Tuhan yang tahu.
Demikianlah, kejujuran penting, bahkan bertambah penting dalam ketidakpastian perekonomian. Dalam menghadapi realitas pahit orang harus membuka topeng. Fakta itu suci, harus dibersihkan dari yang palsu. Di meja operasi, pasien harus steril dari bedak dan lipstik. Di situ parfum ialah racun. Begitulah pula perlakuan terhadap perekonomian Tiongkok, yang tengah sakit.
Bagaimana dengan data ekonomi kita? Ambil contoh sapi. Layaklah ditengarai ada yang tidak beres menyangkut data kebutuhan dan suplai sapi sehingga terjadi krisis daging sapi, harganya sempat menggila. Kalau data sapi selama ini benar, tidak palsu, apa perlunya pemerintah sekarang berencana mengubah mekanisme impor sapi dari saat ini per kuartal menjadi tahunan? Dalam bahasa Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution seperti dikutip pers, penetapan volume impor sapi per tahun membuat pendataan kebutuhan daging sapi pemerintah lebih valid serta menjadikan perencanaan lebih terarah. Terbuka tafsir, lebih valid, karena sebelumnya kurang valid, bahkan bukan mustahil tidak valid sama sekali. Baguslah, pemerintah sekarang mengoreksinya.
Contoh lain soal beras. Pemerintah sekarang memutuskan mengimpor beras. Padahal, sebelumnya nyaring terdengar suara Bulog dan Kementerian Pertanian bahwa stok beras cukup. Yang muncul ke permukaan ialah terjadi penimbunan beras, bukan kelangkaan beras.
Contoh lain, belum terlalu lama kita impor bawang merah, kini diumumkan ekspor. Yang bilang Menteri Pertanian yang urus produksi, tanam-menanam, bukan Menteri Perdagangan yang urus ekspor.
Ketika perekonomian melemah, tak ada kebijakan bagus dapat diambil bila data ekonomi simpang siur, terlebih palsu. Diperlukan data yang benar, bukan hasil pertukangan yang terukir indah. Karena itu, Presiden Jokowi kiranya perlu menyuruh dilakukan audit data, setidaknya data yang dikeluarkan empat instansi--BPS, Bulog, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved