Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
AKHIR pekan lalu saya makan malam dengan seorang konglomerat. Saya bertanya, apa yang menjadi pertimbangan ketika dirinya hendak berinvestasi?
Sang konglomerat menjawab, pertama ialah stabilitas politik. Faktor kedua potensi pasar baik dalam maupun luar negeri.
Seorang pengusaha tidak perlu lagi diiming-imingi hal lain. Begitu dua hal itu ada, otomatis ia akan berinvestasi. Yang diharapkan pengusaha ketika menanamkan modalnya ialah bisnisnya berjalan tanpa gangguan dan produknya bisa diserap pasar.
Keuntungan pasti akan didapatkan apabila kedua faktor itu bisa dipenuhi.
Kini pemerintah berupaya menarik investasi. Paket September diharapkan bisa menggairahkan perekonomian yang lesu. Masuknya modal asing berupa investasi langsung diharapkan memperkuat nilai tukar rupiah yang terpuruk sekitar 18%.
Pertanyaannya apakah paket deregulasi itu mencukupi bagi masuknya investasi ke RI?
Kita meragukan itu karena prasyarat yang disampaikan konglomerat tadi tidak terpenuhi. Stabilitas politik belum juga tercapai. Bahkan sekarang pertentangan terjadi dalam pemerintahan sendiri.
Faktor kedua ialah pasar yang lesu. Pasar ekspor masih lemah akibat perekonomian global yang terpuruk. Permintaan di dalam negeri melemah akibat daya beli masyarakat menurun ditambah dengan meningkatnya pemutusan hubungan kerja. Dua pekan pertama bulan ini jumlah jaminan hari tua yang ditarik pekerja korban PHK mencapai 20 ribu orang.
Kita belum melihat upaya pemerintah mendorong konsumsi masyarakat. Pemerintah asyik dengan dirinya sendiri. Mereka mengejar-ngejar pajak demi pemenuhan target penerimaan sekitar Rp1.300 triliun. Alasannya, pajak itu dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur.
Kita tidak menyangkal, pembangunan infrastruktur itu perlu. Namun, pemenuhan target dengan melakukan kontraksi ekonomi berlebihan akhirnya mematikan pembangunan ekonomi itu sendiri.
Kontribusi belanja pemerintah terhadap pertumbuhan hanya 15%, sementara kontribusi belanja masyarakat mencapai 60%.
Ibarat memegang telur, pemerintah harus sangat berhati-hati. Jangan sampai menggenggam terlalu kuat sehingga telurnya pecah, tapi jangan terlalu longgar sehingga lepas dan pecah karena jatuh.
Pengelolaan ekonomi sebuah seni. Tidak keliru bila pejabat negara harus juga memiliki intuisi pengusaha. Mereka harus bisa melihat peluang, demi terciptanya kondisi ekonomi yang menguntungkan rakyat.
Kita lihat India dan Filipina jeli memanfaatkan kesempatan. Setelah mengetahui Indonesia menerapkan kebijakan penghiliran mineral yang tidak terkonsep baik, Filipina mendorong ekspor nikel. Hasilnya di kuartal II 2015 Filipina tumbuh 7%.
Amerika Serikat yang menyadari dihadapkan situasi resesi akibat tingginya pengangguran dan lemahnya daya beli mengambil kebijakan 0%.
Kebijakan yang diterapkan tujuh tahun terakhir itu membuat perekonomian AS menggeliat. Pengangguran turun 5,1%, inflasi 0,2%.
Kalau kita ingin lolos dari situasi resesi, pemerintah harus cerdik. Yang diperlukan pengusaha ialah optimalisasi industri mereka karena mereka kelebihan kapasitas. Optimalisasi itu hanya bisa tercapai apabila pasar domestik bergairah.
Untuk menggairahkan pasar domestik, ada dua cara, yakni memberikan transfer langsung atau menurunkan tarif pajak. Jadi, solusi yang kita butuhkan sekarang ini bukanlah menarik investasi, melainkan bagaimana menghidupkan bisnis yang sedang lesu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved