Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Investasi

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
23/9/2015 00:00
Investasi
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

AKHIR pekan lalu saya makan malam dengan seorang konglomerat. Saya bertanya, apa yang menjadi pertimbangan ketika dirinya hendak berinvestasi?

Sang konglomerat menjawab, pertama ialah stabilitas politik. Faktor kedua potensi pasar baik dalam maupun luar negeri.

Seorang pengusaha tidak perlu lagi diiming-imingi hal lain. Begitu dua hal itu ada, otomatis ia akan berinvestasi. Yang diharapkan pengusaha ketika menanamkan modalnya ialah bisnisnya berjalan tanpa gangguan dan produknya bisa diserap pasar.

Keuntungan pasti akan didapatkan apabila kedua faktor itu bisa dipenuhi.

Kini pemerintah berupaya menarik investasi. Paket September diharapkan bisa menggairahkan perekonomian yang lesu. Masuknya modal asing berupa investasi langsung diharapkan memperkuat nilai tukar rupiah yang terpuruk sekitar 18%.

Pertanyaannya apakah paket deregulasi itu mencukupi bagi masuknya investasi ke RI?

Kita meragukan itu karena prasyarat yang disampaikan konglomerat tadi tidak terpenuhi. Stabilitas politik belum juga tercapai. Bahkan sekarang pertentangan terjadi dalam pemerintahan sendiri.

Faktor kedua ialah pasar yang lesu. Pasar ekspor masih lemah akibat perekonomian global yang terpuruk. Permintaan di dalam negeri melemah akibat daya beli masyarakat menurun ditambah dengan meningkatnya pemutusan hubungan kerja. Dua pekan pertama bulan ini jumlah jaminan hari tua yang ditarik pekerja korban PHK mencapai 20 ribu orang.

Kita belum melihat upaya pemerintah mendorong konsumsi masyarakat. Pemerintah asyik dengan dirinya sendiri. Mereka mengejar-ngejar pajak demi pemenuhan target penerimaan sekitar Rp1.300 triliun. Alasannya, pajak itu dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur.

Kita tidak menyangkal, pembangunan infrastruktur itu perlu. Namun, pemenuhan target dengan melakukan kontraksi ekonomi berlebihan akhirnya mematikan pembangunan ekonomi itu sendiri.

Kontribusi belanja pemerintah terhadap pertumbuhan hanya 15%, sementara kontribusi belanja masyarakat mencapai 60%.

Ibarat memegang telur, pemerintah harus sangat berhati-hati. Jangan sampai menggenggam terlalu kuat sehingga telurnya pecah, tapi jangan terlalu longgar sehingga lepas dan pecah karena jatuh.

Pengelolaan ekonomi sebuah seni. Tidak keliru bila pejabat negara harus juga memiliki intuisi pengusaha. Mereka harus bisa melihat peluang, demi terciptanya kondisi ekonomi yang menguntungkan rakyat.

Kita lihat India dan Filipina jeli memanfaatkan kesempatan. Setelah mengetahui Indonesia menerapkan kebijakan penghiliran mineral yang tidak terkonsep baik, Filipina mendorong ekspor nikel. Hasilnya di kuartal II 2015 Filipina tumbuh 7%.

Amerika Serikat yang menyadari dihadapkan situasi resesi akibat tingginya pengangguran dan lemahnya daya beli mengambil kebijakan 0%.

Kebijakan yang diterapkan tujuh tahun terakhir itu membuat perekonomian AS menggeliat. Pengangguran turun 5,1%, inflasi 0,2%.

Kalau kita ingin lolos dari situasi resesi, pemerintah harus cerdik. Yang diperlukan pengusaha ialah optimalisasi industri mereka karena mereka kelebihan kapasitas. Optimalisasi itu hanya bisa tercapai apabila pasar domestik bergairah.

Untuk menggairahkan pasar domestik, ada dua cara, yakni memberikan transfer langsung atau menurunkan tarif pajak. Jadi, solusi yang kita butuhkan sekarang ini bukanlah menarik investasi, melainkan bagaimana menghidupkan bisnis yang sedang lesu.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.