Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA tahu sebuah semboyan tak serupa mantra. Ketika kata berkekuatan gaib bekerja, berubahlah ia dari yang semula. Semboyan tak serupa itu. Semboyan kadang terdengar nyaris sempurna; karenanya, kadang pula tertatih-tatih dalam praktik. Ia harapan yang belum 'menjadi'.
E Pluribus Unum, 'Dari Banyak Menjadi Satu'--seperti juga kita: Bhinneka Tunggal Ika--inilah semboyan dan pemikiran dasar Amerika Bersatu.
Semboyan yang pertama kali pada 1782, enam tahun setelah Deklarasi Amerika, boleh jadi bermakna politis: banyak koloni, tapi tetap dalam satu republik.
Namun, apa pun makna awalnya, sebuah negara bangsa tidaklah mati. Ia dinamis.
'Banyak' bisa berarti bangsa, suku, agama, keyakinan, adat, dan seterusnya.
Ia terus diuji.
Kukuh atau rapuh? Diana L Eck, penulis buku, A New Religious America, How a 'Christian Country' Has Become the World's Most Religiously Diverse Nation (2002), terasa tepat menceritakan aneka problem hidup bersama yang memang tak mudah.
Diana yang juga berkakek-nenek Swedia, pengajar ilmu perbandingan agama di Universitas Harvard, tak bicara teori.
Ia menulis hasil praksis kehidupan.
Ia merasakan detak jantung dan getaran napas dalam meneguhkan mimpi Satu Amerika itu.
Kerap melelahkan.
Rentetan kasus warga kulit hitam seperti Freddie Gray yang gugur di tahanan polisi Baltimore, Michael Brown di Forgusen, dan Eric Garner di New York seperti kian mengubur impian Amerika yang kini memasuki era 'post-racial'.
Kini, publik pun melihat kasus penahanan Ahmed Mohamed, siswa kelas 1 SMA MacArthur di Irving, Texas, pekan silam, sebagai sesuatu yang tunggal.
Ahmed yang ingin memperlihatkan jam buatannya pada sang guru agar bisa ikut dalam kontes robot justru dicurigai membawa bom.
Siswa dari keluarga imigran asal Sudan itu justru dilaporkan ke polisi. Polisi tak peduli penjelasan Ahmed.
Kasus Ahmed memang mendatangkan banjir simpati.
Presiden Barack Obama mengundangnya ke Gedung Putih, pula petinggi Facebook dan Google.
Hastag #IStandWithAhmed, mendapat banyak dukungan. Itu bukti setiap laku rasialis di Amerika akan mendapat perlawanan lebih besar.
Benar kata Diana, pluralitas Amerika hari ini bisa jadi tak pernah terbayangkan para pembuat deklarasi.
Rakyat tahu di negerinya ada Protestan, Katolik, Islam, Yahudi, Sikh, Hindu, Buddha, dan banyak kepercayaan lain, tapi masing-masing tak saling 'mengenal'.
Padahal, agama dan kepercayaan tak berwajah tunggal.
Cerita perusakan dan pembakaran masjid, sinagoge, kuil, wihara, gurdwara Sikh, dan sekian banyak pembunuhan berbau rasialisme memang bukan fiksi.
Namun, yang membuat skala penyerangan meningkat terhadap tempat ibadah dan kaum muslim, juga Sikh, dan mereka yang tampak 'berbeda', memang serangan 11 September 2011 pada World Trade Center.
Rasa malu, marah, terhina, dan frustrasi menyatu dan terekspresikan dalam agresivitas salah alamat.
Namun, tragedi itu juga memunculkan pemahaman dan kesadaran bersama yang menakjubkan.
Seolah-olah mereka disadarkan betapa citra Amerika yang satu, kuat, dan 'sempurna' itu sesungguhnya rapuh jika terus dibalut prasangka: musuh semua jenis kebenaran! Bahkan, untuk pertama kali pada 2002, Presiden George W Bush mengundang buka puasa bersama (iftar) di Gedung Putih.
Iftar lalu jadi 'tradisi' Gedung Putih. Kasus Ahmed, rasialisme pada kulit hitam, dan pada mereka yang 'berbeda', semacam warning, bahwa semboyan 'Satu Amerika, 'Amerika Baru yang Religius', memang bagian-bagiannya masih harus terus ditulis. Terus digemakan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved