Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Anggaran

04/3/2015 00:00
Anggaran
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group()

PADA 2013 pemerintahan Amerika Serikat pernah mengalami shutdown. Sekitar 800 ribu pegawai negeri di 'Negeri Paman Sam' itu harus dirumahkan tanpa menerima gaji.

Pemerintah tidak bisa membayar gaji pengawai karena tidak tersedia anggaran untuk itu.

Anggaran yang diajukan Presiden Barack Obama tersandera oleh Kongres karena ada mata anggaran yang tidak disetujui parlemen.

Ketika itu Obama mengusulkan asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin, Obamacare.

Kongres tidak menyetujui karena bebannya terlalu berat dan kalau dipaksakan, keberlanjutannya diragukan.

Obama terpaksa merevisi anggaran itu. Kompromi dilakukan karena eksekutif harus mendapat persetujuan Kongres ketika anggaran hendak dijalankan.

Begitulah praktik yang terjadi dalam sistem demokrasi.

Eksekutif tidak bisa berjalan sendirian. Ada proses yang saling mengawasi.

Parlemen mempunyai hak bujet untuk menyetujui anggaran yang diajukan pemerintah.

Kita tidak pernah mengalami kebuntuan anggaran pada tingkat nasional.

Yang terjadi ialah tarik-menarik anggaran pada tingkat daerah.

Kini sedang terjadi kekisruhan anggaran di DKI Jakarta.

Persoalannya bermula pada pengajuan Rancangan APBD 2015.

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengajukan anggaran ke Kementerian Dalam Negeri sesuai dengan sistem baru berbasis elektronik yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jakarta.

DPRD menganggap cara itu bertentangan dengan peraturan yang berlaku karena tidak didasari hasil pembahasan bersama eksekutif dan legislatif.

Ahok merasa tidak perlu menggunakan anggaran yang dibahas dengan DPRD karena dinilai ada dana 'siluman' sebesar Rp12,1 triliun.

DPRD tidak merasa menyusupkan dana 'siluman' karena semua anggaran dibahas bersama anak buah Ahok di satuan kerja perangkat daerah.

Sikap bersitegang antara Ahok dan DPRD berujung kepada langkah politik dan hukum.

DPRD menyetujui hak angket untuk menyelidiki pengajuan anggaran yang dilakukan gubernur.

Sebaliknya Ahok membawa kasus dana 'siluman' ke Komisi Pemberantasan Korupsi karena ada indikasi korupsi yang dilakukan DPRD.

Dengan melihat apa yang pernah terjadi di AS, bukan hal aneh bila ada tarik-menarik pembahasan anggaran di Jakarta.

Hanya, karena ini bagian dari sistem politik, seharusnya ditemukan bersama jalan keluarnya.

Bukankah politics is the art of the possible?

Sungguh aneh apabila yang terjadi saling serang yang mengarah ke kebuntuan.

Bahkan karena bersifat pribadi, perseteruan itu bisa berujung pemakzulan.

Kalau caranya seperti ini, yang akhirnya terkorbankan ialah sistem demokrasi dan kesejahteraan rakyat.

Sikap saling ngotot membuat inti persoalan terkait dengan anggaran tak terselesaikan dan akibatnya pembangunan daerah akan terbengkalai.

Kita sudah lihat bagaimana pegawai DKI Jakarta tidak bisa mendapatkan insentif kinerja.Kedua pihak seharusnya menyadari anggaran itu alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Tidak boleh ada penyelewengan penggunaan anggaran.

Namun, sesuai dengan sistem demokrasi anggaran itu harus ditetapkan bersama eksekutif dan legislatif. Sistem demokrasi hanya bisa berjalan apabila ketiga pilarnya--eksekutif, legislatif, dan yudikatif--bersinergi.

Mereka bahkan harus ditopang masyarakat madani.

Tidak bisa ada yang merasa menjadi Superman karena sebenarnya 'Superman is dead'.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.