Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
"YUNANI bangkrut gak masalah. Yang penting masih ada Yu Djum. Gak usah resah dan gelisah."
Begitulah ibu-ibu di Yogyakarta, di sebuah acara, menghibur diri di tengah kebangkrutan ekonomi Yunani, dan sesungguhnya juga kejatuhan rupiah yang bertubi-tubi.
Yang bicara dan yang mendengar sama-sama tertawa lepas. Mereka sesungguhnya melepas ketegangan.
Maka, esok harinya saya benar-benar makan dengan gayeng di warung gudeg Yu Djum yang gusto.
Yu Djum, salah satu warung gudeg terlaris di Yogya, siang itu amat padat pengunjung.
"Tenang saja, Pak. Silakan makan yang enak selagi masih ada Yu Djum," kata Suroso, 57, sopir taksi yang membawa saya.
Saya agak kaget, di tempat berbeda, ada nada yang sama mempromosikan sekaligus menghibur diri lewat 'Yu Djum'.
Yu Djum, mungkin juga hal-hal yang dekat dengan warga Yogya, bisa menjadi bahan 'pelipur lara' di tengah problem hidup yang memberat.
Di luar problem ekonomi saya menangkap ada keresahan warga Yogya setelah sabdatama atau perintah tertinggi Sultan Hamengku Buwono X, beberapa bulan silam.
Tukang becak, sopir taksi, dan abdi dalem, bahkan kaum terpelajar, yang saya ajak bicara tentang sabda raja tanpa sungkan mengungkapkan kekecewaan.
Demi putrinya, mengorbankan aturan kerajaan yang telah berlangsung ratusan tahun.
Menurut mereka, tanda-tanda ke arah itu amat besar.
Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, putri sulung Sultan, telah berganti nama menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram.
Meski Sultan telah menjelaskan bahwa sabda raja itu wahyu atau wangsit, dan ia tak kuasa menolak, warga Yogya tetap resah.
Juga, meski Ngarsa Dalem telah meminta warga menyikapi sabda raja dengan olah rasa, bukan olah pikir, tak bisa mencairkan kekecewaan.
"Kami tak percaya pada Ngarsa Dalem. Ini bukan soal perempuan yang akan menggantikan Ngarsa Dalem, tapi aturannya gak ada. Selain itu apa dia mampu?" kata Ngirun, 47, abdi dalem yang juga pemandu wisata di area Keraton Yogyakarta.
Suroso, sopir itu, juga mengkritik keraton yang meminjampakaikan tanah kepada pengusaha dan akhirnya menjadi kasus.
Eka Aryawan, pengusaha itu, mendapat hak pinjam pakai tanah keraton seluas 73 meter di pertigaan Gondamanan pada 2011.
Eka menuduh lima pedagang kaki lima menduduki tanah itu.
Ia meminta PN Yogyakarta mengosongkan lahan dan menghukum mereka membayar ganti rugi Rp1,112 miliar.
Tuntutan yang muskil. Selain itu, para pedagang juga merasa benar.
LBH Yogya yang pernah mengukur tanah itu tak menemukan bukti para pedagang melanggar.
Karena tak berdaya, pada Ahad (13/9) bertempat di Alun-alun Utara, para pedagang melakukan tapa pepe (duduk berjemur) sebagai tanda protes. Mereka meminta Sultan membatalkan surat perjanjian hak pinjam pakai pada Eka.
Rupanya, menurut LBH Yogya, selain di pertigaan Gondamanan, kekancingan (hak pinjam pakai lahan) dari keraton yang menimbulkan masalah juga terjadi di Gunung Kidul.
Pihak yang mendapat hak pinjam juga meminta para pedagang pindah.
Keistimewaan Yogyakarta, sesungguhnya ada pada raja.
Kearifan, rendah hati, kepekaan pada keadaan, dan keberpihakan pada rakyat, itulah yang membentuk wibawa raja.
Ini yang dulu lekat pada Sultan Hamengku Buwono IX.
Wibawa raja itulah yang membuat Yogyakarta istimewa.
Ini menurut pakar komunikasi Ashadi Siregar.
Berbagai keluhan itu, apakah ini tanda wibawa raja tengah meluruh?
Tak bisa dibayangkan jika tapa pepe kian masif.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved