Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA memberikan pengarahan kepada para peserta Lembaga Ketahanan Nasional, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbicara tentang kebakaran hutan yang tengah terjadi. Menurut SBY, jangan ada dusta di antara kita.
Sekitar 70% dari kebakaran hutan yang terjadi ialah akibat ulah manusia dan pelakunya ialah pengusaha.
SBY mengatakan pernyataan itu bukan hanya didasari tuduhan yang tidak berdasar. Menurut SBY, itulah data yang didapatkan saat 10 tahun menjabat presiden. Ia bahkan terpaksa menurunkan prajurit TNI ke lapangan untuk memadamkan kebakaran.
Pernyataan SBY menjadi menarik karena didasarkan atas pengalaman langsung sebagai presiden. Namun, kita juga bertanya mengapa ketika itu sedikit pengusaha yang diseret ke meja hijau. Kalau 70% kebakaran dilakukan pegusaha, seharusnya pengusaha itu dihukum.
Pembiaran merupakan masalah yang menyebabkan kebakaran hutan menjadi ritual. Setiap musim kemarau tiba, titik-titik api bertebaran di Sumatra dan Kalimantan. Asap pekat yang dihasilkan mengganggu kegiatan masyarakat.
Sekolah harus diliburkan, bandar udara ditutup, dan banyak warga menderita infeksi saluran pernapasan atas.
Isu kebakaran hutan menjadi masalah internasional karena asapnya menyebar ke mana-mana. Singapura dan Malaysia merupakan negara yang terkena dampaknya. Peringatan bahaya kesehatan disampaikan karena asap yang terisap memengaruhi paru-paru.
Menurut Pusat Riset Kehutanan Internasional (Cifor), kerugian akibat kebakaran hutan mencapai US$3,2 miliar atau lebih dari Rp40 triliun.
Kerugian terbesar terutama pada kesehatan masyarakat karena partikel halus dan zat kimia seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, dan nitrogen dioksida yang dilepaskan.
Apabila masuk ke paru-paru untuk jangka waktu lama, zat itu menyebabkan penurunan fungsi paru-paru.
Pembukaan lahan dengan cara pembakaran merupakan ciri petani zaman nomaden. Setelah Revolusi Hijau 1920-an, petani cenderung menetap dan meninggalkan cara pembakaran.
Apalagi ketika ilmu pengetahuan dan teknologi masuk, petani kian disadarkan bahwa cara pembakaran justru membuat lahan tidak subur karena organisme di dalam tanah mati.
Tentu ironis apabila di zaman berbasis iptek, kita masih menerapkan cara bertani yang kuno. Berarti ada yang keliru dalam menularkan iptek kepada masyarakat. Negara gagal mencerdaskan kehidupan masyarakat seperti perintah Pembukaan UUD 1945.
Sudah hampir empat dekade kebakaran hutan terjadi di Sumatra dan Kalimantan. Kita masih saja berkutat pada persoalan pemadaman dan mencari pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Tidak pernah kita beranjak maju untuk membangun kesadaran masyarakat menghentikan cara pembakaran ketika hendak membuka lahan.
Lebih menyedihkan lagi, Undang-Undang Nomor 32/2009 mengizinkan pembakaran lahan dalam pembukaan lahan.
Pasal 69 ayat 2 memberikan kelonggaran kepada petani untuk membuka lahan dengan cara membakar maksimal 2 hektare.
Ketika musim kemarau berat seperti sekarang, mustahil petani bisa mengontrol pembakaran pada luasan 2 ha.
Yang perlu kita lakukan tidak cukup memikirkan kepentingan jangka pendek.
Kalau sekadar itu, kita hanya berorientasi memadamkan kebakaran.
Sesudah itu kita lupa dan tahun depan kembali berkutat dengan persoalan yang sama serta sibuk mencari kambing hitam.
Kita butuh perubahan sikap lebih mendasar.
Bagaimana membangun sistem pertanian yang tangguh, tetapi berkelanjutan.
Hanya dengan menerapkan iptek, hal itu bisa dicapai sekaligus mampu meningkatkan produksi.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved