Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TRAGEDI haji terjadi lagi. Badai besar membuat mesin derek (crane) di Masjidil Haram terban, Jumat silam. Ia menimpa para jemaah yang umumnya tengah bertawaf (berputar tujuh kali mengelilingi Kabah). Sedikitnya 107 jemaah haji wafat dan 238 terluka. Sebanyak 10 jemaah wafat dari Indonesia.
Musim haji, lagi-lagi, menorehkan perkabungan karena kecelakaan. Mala yang alpa dinujum Arab Saudi.
Kita ingat horor yang mengerikan di terowongan Haratul Lisan, Mina, 2 Juli 1990. Ribuan jemaah berdesakan, saling injak, 631 jemaah Indonesia gugur di sana, dari keseluruhan 1.426 jemaah wafat.
Sejak itu Mina seperti lokus yang terus mengalunkan rekuiem yang menyayat-nyayat. Pada 1994, 270 jemaah haji mati dengan kasus sama. Tiga tahun kemudian (1997) kebakaran melanda perkampungan tenda di Mina, 340 calon haji mati dibakar panas api.
Mina, tempat mabit dan melempar jumrah, berjarak 5 kilometer dari Mekah, terus mengukir duka. Sepanjang 1998, 2001, 2004, dan 2006, 919 jemaah mati karena terinjak-injak. Arab Saudi seperti tak mengambil pelajaran serius dari kasus demi kasus.
Sejak sembilan tahun silam, Mina tak lagi menjadi horor, tetapi kali ini justru karena mesin derek, yang terus terpasang dalam proyek perluasan Masjidil Haram agar bisa menampung lebih banyak jemaah haji. Sayang, keselamatan jemaah diabaikan.
Kita tak sedang bicara takdir kematian, tapi bicara hak aman dan keselamatan jemaah yang harus disediakan.
Arab Saudi, negeri yang mendapat untung besar secara ekonomi karena haji, tak bisa sekadar bertanggung jawab hari ini. Namun, harus menjamin keselamatan di masa depan. Kini Saudi terbukti tak punya hitung-hitungan matang, di tengah badai yang mengamuk, apa akibatnya jejeran 15 crane bertengger di atas jutaan manusia di Masjidil Haram?
Di tengah duka mendalam, kita harus terus menuntut tanggung jawab Arab Saudi. Takdir kematian satu hal, keselamatan ialah sisi lain: hak para jemaah.
Tragedi mesin derek terjadi sehari sebelum muhibah Presiden Joko Widodo ke Arab Saudi.
Presiden memang disambut amat istimewa, diberi medali Star of the Order of Abdul Aziz Al Saud yang hanya diberikan kepada sedikit pemimpin negara seperti Barack Obama dari AS, Perdana Menteri David Cameron dari Inggris, dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
Namun, Jokowi tak boleh mongkok dan alpa bicara keselamatan jemaah.
Kita gembira ia berhasil menambah kuota haji dan menggagalkan hukuman mati beberapa TKI, tapi tak boleh mengendurkan tuntutan jaminan keselamatan dari Saudi.
Indonesia yang mendapat kuota haji terbanyak di dunia tidak saja harus memastikan kelancaran jemaahnya, tetapi juga mengusulkan apa saja yang berkaitan dengan keselamatan jemaah.
Seperti Bung Karno ketika berhaji pada 1955 mengusulkan agar Saudi membuat bangunan dua lantai untuk sai yang terbagi dalam dua jalur bangunan dua lantai.
Usul si Bung direalisasikan. Saudi merenovasi Masjidil Haram.
Bung Karno juga mengusulkan padang Arafah dihijaukan dengan pohon mimba--Raja Fadh waktu itu mengganti nama menjadi pohon soekarno--yang cocok untuk daerah tandus.
Si Bung mengirim beberapa ahli tanaman.
Kini pohon soekarno juga menghijaukan kota-kota lain, termasuk Mekah.
Berhaji ialah ibadah penyempurna dalam rukun Islam.
Namun, dengan tragedi yang bertubi-tubi di Tanah Suci, terlebih juga dengan aneka kendala di negeri sendiri, bisa jadi justru mereduksi kesempurnaan itu sendiri.
Arab Saudi harus serius dan teliti menangani haji.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved