Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Lobster

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
11/2/2020 05:10
Lobster
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SAAT menghadiri peringatan Hari Pers Nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Presiden Joko Widodo mengharapkan peran pers untuk terus mengawal perjalanan bangsa mencapai Indonesia Maju. Banyak hal yang akan dilakukan pemerintah, seperti pembangunan ibu kota baru negara.

Untuk pertama kalinya Presiden tidak hanya menjelaskan dalam bentuk verbal, tetapi juga visual. Bayangan ibu kota negara yang baru nanti tidak lagi merupakan sesuatu yang abstrak, tetapi menjadi sesuatu yang mudah dipahami seluruh rakyat.

Kita selalu diingatkan, cara berpikir manusia itu basisnya memang visual. Visual thinking membuat kita bisa kemudian belajar menyinkronkan apa yang dikatakan dan apa yang dilihat. Bahkan, dengan kemampuan memori yang besar, apa yang kita lihat itu akan terus melekat di dalam ingatan kita.

Menurut Presiden, pemindahan ibu kota negara yang akan dilakukan bukan sekadar memindahkan kantor pemerintah dan pegawai negeri sipil, tetapi juga akan mengubah pola pikir dan pola kerja bangsa ini. Kita harus bertransformasi termasuk dalam bidang ekonomi yang tak lagi sekadar ekstraktif, tetapi juga memberi nilai tambah dari sumber daya alam yang kita miliki.

Program hilirisasi dan industrialisasi yang dicanangkan pemerintah merupakan salah satu upaya transformasi ekonomi. Kalau meminjam istilah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kita harus mengubah orientasi dari resources follow industry menjadi industry follow resources. Kita harus paksa perusahaan-perusahaan besar dunia untuk mengolah sumber daya alam di Indonesia agar bangsa ini ikut serta dalam prosesnya dan menikmati juga nilai tambah yang dihasilkan.

Selalu pertanyaannya, apakah kita konsisten menerapkan kebijakan itu? Di sinilah kita sering merasa ragu. Kita sering tidak satu bahasa untuk membangun industri berbasis sumber daya alam itu. Seakan-akan yang namanya sumber daya alam itu hanya energi dan mineral.

Padahal, sumber daya alam yang jauh lebih luar biasa nilainya ialah plasma nuftah. Bahkan, dengan dua pertiga wilayah negara kita ialah laut, kekayaan alam yang luar biasa ialah makhluk hidup yang ada di laut. Kalau kita bisa mengolahnya secara benar, akan memberikan manfaat luar biasa bagi kehidupan rakyat.

Sekarang kita mendengar kabar, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membuka lagi ekspor benih lobster. Alasannya, jumlah benih lobster banyak sekali. Daripada dibiarkan mati karena seleksi alam lebih baik diekspor secara terkendali agar bisa memberikan devisa.

Cara berpikir seperti itu sama dengan apa yang kita lakukan untuk energi dan sumber daya mineral dulu. Karena produksi berlebih dan industri dalam negeri tidak mampu memanfaatkan, lebih baik sumber daya itu diekspor untuk mendapatkan devisa.

Kita lihat sekarang akibat dari cara berpikir seperti itu. Bukan hanya sumber daya alam kita terkuras, nilai tambahnya juga dinikmati bangsa lain. Presiden ketiga BJ Habibie menyebutnya sebagai  neokolonialisme model baru akibat kebodohan kita.

Kita melakukan kesalahan yang sama apabila plasma nuftah sekadar dijadikan sumber devisa negara. Kalau memang kita belum mampu membudidayakannya, kita ajari bangsa ini untuk bisa membudidayakan lobster secara benar. Kalau perlu, kita undang investor luar untuk membudidayakan lobster di Indonesia.

Jangan terlalu mudah mengambil alasan bangsa Indonesia tidak mampu. Kita justru harus memacu bangsa ini untuk tidak kalah dari bangsa lain. Apalagi kalau sampai kalah dari bangsa Vietnam, yang baru pada 1975 selesai menghadapi perang dan mulai membangun bangsanya.

Memang, tidak mudah untuk membangun etos kerja. Akan tetapi, itulah yang harus dilakukan bangsa ini. Jangan biarkan kita terus menjadi bangsa yang lembek. Kita harus membangun disiplin yang kuat dan etos kerja yang tinggi agar bisa menghasilkan produk yang membanggakan. Bahkan, dari produk itu kita harus mampu mereproduksinya agar bernilai tambah lebih tinggi lagi.

Kita selalu diingatkan bahwa kekuatan yang kita miliki ada di bidang energi dan sumber daya mineral serta pertanian dalam arti luas. Itulah yang harus kita jadikan pilar pembangunan industri agar memiliki daya saing yang kuat.

Sungguh ironis kalau sekarang ini kita harus mengimpor energi dan bahan jadi mineral dari luar negeri karena kita tidak pernah mau mengolahnya. Kita akan semakin sedih kalau suatu saat lobster pun harus kita impor karena benihnya tidak mampu kita budidayakan dan kemudian kita ramai-ramai mengekspornya ke luar.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik