Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Paket September

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
12/9/2015 00:00
Paket September
()
PEMERINTAH mengeluarkan Paket September untuk menggairahkan perekonomian yang lesu. Tingginya angka pengangguran dan inflasi memunculkan ancaman resesi. Langkah yang perlu dilakukan ialah memberikan stimulus ekonomi, perpaduan antara stimulus fiskal dan pelonggaran moneter.

Kita berharap Paket September bisa menjawab kelesuan yang terjadi. Kita menginginkan agar pengangguran bisa dikurangi dan daya beli masyarakat kembali ditingkatkan. Tanpa itu, paket kebijakan yang dikeluarkan tidak akan ada artinya.

Tantangan yang harus bisa dijawab sekarang ialah bagaimana mendapatkan quick win dari paket kebijakan tersebut. Pemerintah tidak bisa hanya berpikir jangka panjang, tetapi bagaimana persoalan jangka pendek bisa ditangani. Tekanan pada nilai tukar rupiah terjadi karena kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan dolar AS serta ketidakpercayaan pasar.

Untuk impor minyak saja, Pertamina butuh dana sekitar US$70 juta per hari. Satu bulan berarti dibutuhkan sekitar US$2 miliar. Pada sisi lain, penerimaan dolar dari hasil ekspor menurun tajam karena volume dan harga juga turun. Belum lagi ada keengganan pengusaha mengonversi dolar hasil ekspor sehingga pasokan menjadi terbatas. Itulah yang membuat nilai tukar rupiah makin tertekan.

Dengan Paket September ini pemerintah mengharapkan ada investasi masuk. Akan tetapi, dalam kondisi ekonomi global seperti sekarang, harapan itu sangatlah sulit. Yang bisa dilakukan pemerintah ialah memanfaatkan investasi yang sudah ada di Indonesia dan mendorong mereka melakukan reinvestasi.

Reinvestasi yang sudah dan akan dilakukan sebenarnya banyak, hanya saja tidak termanfaatkan. Contoh investasi yang dilakukan untuk biofuel. Sudah ratusan juta dolar investasi ditanamkan, dengan produksi lebih dari 7 juta ton per tahun. Akan tetapi, investasi itu mangkrak karena tidak ada kebijakan harga yang membuat pabrik layak beroperasi. Kalau CPO-Fund bisa cepat dijalankan dan Pertamina diminta untuk menggunakan biofuel sebagai campuran solar, bukan hanya devisa yang bisa dihemat, nilai ekonomi yang bisa disumbangkan pun sangat besar.

Contoh lain reinvestasi di sektor pertambangan. PT Freeport sudah sepakat menanamkan modal US$2 miliar untuk membangun pengolahan tembaga di Gresik. Namun, mereka berharap mendapat jaminan untuk melakukan penambangan bawah tanah. Freeport sudah siap dengan investasi US$15 miliar untuk membangun infrastruktur bawah tanah.

Dana investasi itu dibawa dari perbankan luar negeri, bukan bank dalam negeri. Namun, pemerintah tidak berani mengambil keputusan, padahal investasi Freeport itu besarnya sama dengan anggaran pembangunan pemerintah.

Tantangan yang kita hadapi, bagaimana mengaplikasikan Paket September yang sudah diumumkan. Kalau perilaku pemerintahnya tetap tidak berubah dan tidak berani mengambil keputusan, paket itu sekadar macan kertas. Tak ada manfaat apa pun bagi perbaikan ekonomi rakyat.

The devil is in detail. Tugas pemerintah ialah membuat semua rencana itu berjalan. Kemudahan untuk berinvestasi benar-benar menjadi kemudahan. Jangan seperti penerapan sistem satu pintu di Badan Koordinasi Penanaman Modal. Benar semua kementerian menempatkan orangnya di BKPM, tetapi surat permohonan izin investasi tetap dibawa ke kementerian teknis dan ditangani business as usual.

Kita tidak suka dengan era Orde Baru karena otoriter. Namun, berbisnis di era Orde Baru menyenangkan karena ada kepastian. Apalagi pemimpinnya berani mengambil keputusan dan komit pada janjinya. "My words is my bond," itulah yang diperlukan apabila Paket September ingin berhasil.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.