Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Banjir bukan Takdir

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
04/1/2020 05:30
Banjir bukan Takdir
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI)

DALAM setiap bencana, kata jurnalis Eric Weiner, “Kita membutuhkan orang yang disalahkan selain Tuhan….” Eric Weiner mengatakan ini dalam buku The Geography of Bliss.

Begitulah, ketika Jakarta dan sekitarnya mengalami bencana banjir persis di pergantian tahun, orang berang, membutuhkan orang lain untuk dipersalahkan. Orang marah mungkin karena pergantian tahun semestinya menjadi saat bagi mereka untuk meninggalkan kenangan mendalam, tetapi malah menghadapi genangan terdalam.

Gubernur DKI Anies Baswedan pagi-pagi mengatakan sebaiknya kita tidak saling menyalahkan. Anies berkata begitu mungkin karena dia tahu betul bahwa orang bakal mempersalahkannya. Bisa juga Anies berkata seperti itu karena dia tahu banjir Jakarta memang kesalahannya, kegagalannya. Anies salah memangkas anggaran pengendalian banjir. Anies gagal mengendalikan banjir dengan program naturalisasinya.

Namun, ada warganet yang justru meminta kita tidak menyalahkan Anies. Katanya, “Jangan salahkan Anies karena dia tidak melakukan apa-apa.” Waduh! Orang memang kemudian ramai-ramai mengarahkan telunjuk ke hidung Anies.

Anies kebanjiran tuduhan tak becus menangani banjir. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan banjir terjadi gara-gara Anies tidak melanjutkan program normalisasi. Para warganet bahkan meminta Anies mundur.

Anies punya program naturalisasi untuk mengatasi banjir, bukan normalisasi. Banyak yang tak paham apa itu naturalisasi. Istilah naturalisasi serupa kicauan burung, indah didengar, tetapi tak ada yang tahu artinya. Setahu saya naturalisasi istilah di dunia sepak bola, yakni ketika seorang pemain berkewarganegaraan asing mengubah kewarganegaraannya supaya bisa membela tim negara barunya.

Ada tiga kemungkinan mengapa Anies menggunakan terminologi naturalisasi, bukan normalisasi.

Pertama, dia mungkin membayangkan normalisasi itu pembetonan. Padahal, normalisasi intinya mengembalikan sungai ke kondisi normal, antara lain lebar dan dalamnya.

Kedua, Anies barangkali membayangkan normalisasi berarti penggusuran. Anies emoh melakukan ini karena termakan janji kampanye di Pilkada DKI 2017 bahwa dia tidak akan menggusur warga. Sejumlah orang berpendapat, penggusuran bakal menggerus popularitas dan elektabilitas Anies andai dia maju di Pilpres 2024.

Normalisasi sebetulnya melibatkan relokasi warga tepi sungai yang sudah membuat sungai tidak normal lebarnya ke rumah susun yang lebih manusiawi. Lagi pula, memangnya sudah pasti ada parpol yang mau mengusung Anies di Pilpres 2024?

Ketiga, Anies sepertinya membayangkan satu-satunya cara mengatasi banjir ialah dengan membiarkannya terserap habis ke bumi. Kata Anies, itu hukum alam, sunatullah. Masakah Anies tak tahu bahwa tanah Jakarta telanjur banyak yang tertutup beton sehingga air hujan perlu disalurkan ke gorong-gorong lalu ke sungai dan berakhir di laut?

Masakah Anies tidak tahu bahwa jika curah hujan sangat tinggi tanah pun tak mampu serta-merta menyerap habis air sehingga perlu dialirkan ke gorong-gorong lalu ke sungai dan berakhir di laut? Ujung-ujungnya diperlukan normalisasi sungai juga.

Para pembela Anies menjawab banjir terjadi bukan cuma di Jakarta, melainkan di Depok, Tangerang, dan Bekasi, yang semuanya masuk Jawa Barat, tetapi mengapa cuma Anies yang dipersalahkan.

Jawabannya gampang bahwa ini remah-remah Pilkada DKI 2017. Salah sendiri kenapa pakai politik identitas segala di pilkada. Lagi pula, kita mengkritik Pemkab Bogor juga kok supaya melakukan normalisasi di hulu. Pun para pembela Anies menjawab bahwa banjir Jakarta terjadi sejak zaman dahulu kala. Lalu, kenapa kalau banjir terjadi sejak dahulu kala? Menganggap banjir cuma takdir? Kita pasrah saja tidak melakukan apa-apa, begitu?

Bukankah kita semestinya berikhtiar, bukan pasrah, supaya banjir yang terjadi sejak dulu kala itu lebih terkendali kini? Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib warga Jakarta yang kebanjiran jika mereka tidak mau berusaha mengubahnya?

Kata kuncinya ikhtiar, usaha. Substansi segala kemarahan orang kepada Anies ialah tuntutan tentang apa ikhtiar yang sudah dilakukan Pak Gubernur untuk mengantisipasi banjir di Jakarta.

Dalam kasus banjir ini terkesan tanggung jawab berarti rakyat yang menanggung, Anies cuma menjawab. Kita mengapresiasi Anies yang bertanggung jawab dengan mengutamakan penyelamatan warga korban banjir. Akan tetapi, orang lebih menuntut Anies bertanggung jawab melaksanakan program pengendalian banjir setelah banjir ini surut.

Tambah anggaran pengendalian banjir yang kemarin dipangkas. Lakukan program normalisasi. Tak usahlah gengsi, keminter, untuk meneruskan program pendahulu Anda meski Anda doktor, sedangkan Ahok ‘provokator’.

Kerja samalah dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lain untuk pengendalian banjir yang lebih komprehensif. Udah gitu aja!

 

 



Berita Lainnya
  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita