Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA membayangkan pekerjaan mengurus negara sangat berat, semakin berat. Sekurang-kurangnya ada dua tugas berat negara. Pertama, menaklukkan radikalisme yang sudah menyusup ke kementerian dan lembaga. Kedua, menyejahterakan rakyat di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu.
Diperlukan konsentrasi penuh untuk menjalankan tugas mahaberat itu. Mengurus negara tidak boleh paruh waktu, disambi dengan mengurus yang lain. Orang yang mau mengurus negara harus selesai dulu mengurus yang lain. Mengurus negara harus sepenuh waktu sepenuh hati.
Ketika sehabis Pilpres 2019 Presiden Jokowi mengatakan akan mengangkat kalangan milenial menjadi pembantunya, saya bertanya dalam hati, apakah kalangan milenial yang katanya antikemapanan itu bisa menjalankan tugas negara.
Ketika Nadiem Makarim disebut-sebut sebagai calon menteri, saya bertanya dalam hati, apakah Nadiem tega 'menelantarkan' 'balita' bernama Gojek yang susah payah dilahirkan dan dibesarkannya. Ternyata Nadiem rela meninggalkan Gojek, berkonsentrasi penuh mengurus pendidikan dan kebudayaan sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan.
Erick Thohir bahkan menyatakan secara terbuka menolak diundang ke seminar atau acara seremonial, mungkin karena ingin konsentrasi membenahi BUMN. Arya Sinulingga menyatakan keluar dari partai politik dan pekerjaan lamanya, barangkali juga lantaran tidak mau tugasnya mengurus komunikasi publik Kementerian BUMN direcoki urusan lain-lain.
Akan tetapi, sejumlah pembantu Presiden masih merangkap jabatan puncak di parpol. Beberapa di antaranya merangkap jabatan menteri bidang ekonomi yang berhubungan dengan urusan menyejahterakan rakyat, salah satu urusan berat selain meredam radikalisme.
Kamis (21/11), Presiden mengangkat sejumlah milenial sebagai staf khusus presiden. 'Istana Bertabur Milenial', begitu bunyi headline harian ini kemarin. Banyak yang menilai Presiden melakukan terobosan meski tak sedikit yang menilainya sebagai pemborosan.
Presiden membolehkan staf khusus milenial ini tidak bekerja penuh waktu karena mereka punya pekerjaan mengurus startup mereka. Meski bekerja paruh waktu, mereka kelihatannya menerima gaji penuh sebagai staf khusus presiden. Maka, penghasilan mereka dobel, dari pekerjaan sebagai staf khusus presiden dan dari pekerjaan sebagai CEO atau founder startup mereka.
Enak sekali mereka. Pantas saja di foto-foto mereka tampak semringah, tanpa beban, tidak serupa orang yang akan ketiban tugas berat mengurus negara. Kita juga mau tuh bekerja paruh waktu, tetapi mendapat gaji penuh plus gaji dari pekerjaan lama kita. Jangan-jangan ini bikin Arya Sinulingga menyesal meninggalkan parpol dan pekerjaan lamanya?
Presiden menjadikan mereka sebagai staf khusus untuk teman diskusi. Presiden mungkin menganggap anak-anak milenial kaum yang berpikiran liar dalam arti out of the box sehingga tidak boleh dikungkung dengan aturan untuk konsentrasi ke satu pekerjaan. Itulah sebabnya Presiden mengizinkan mereka bekerja paruh waktu, sewaktu-waktu.
Mohon maaf, bila dasar pemikirannya seperti itu, mengapa Bapak Presiden harus menjadikan mereka staf khusus? Bukankah Bapak bisa mengundang mereka sepekan sekali atau sebulan sekali untuk mendiskusikan pemikiran out of the box mereka, sebagaimana Bapak mengundang warganet atau pimpinan media berdiskusi?
Akan tetapi, jangan lupa, mengangkat pembantu-pembantunya menjadi hak prerogatif presiden. Terserah presiden. Tak boleh protes apalagi ikut campur. Dalam bahasa orang Medan, "Suka-suka presiden lah, mau apa kau?"
Kalau begitu, sudahlah, anggap saja ini semua cuma ungkapan iri generasi kolonial kepada generasi milenial.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved