Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Berdebat Salam Berebut Surga

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
16/11/2019 05:30
Berdebat Salam Berebut Surga
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI)

SALAM itu universal. Universal dalam dua hal. Pertama, setiap kelompok masyarakat di muka bumi, bahkan setiap individu, punya tradisi menyampaikan salam. Bahkan, binatang pun saling memberi salam. Hal kedua terkait dengan substansi makna salam.

Salam kiranya merupakan ekspresi atau respons atas kehadiran orang lain. Ekspresi atau respons itu bisa berupa gerakan dan/atau ucapan, bergantung pada tradisi, kebudayaan, dan kebiasaan.

Kita menyampaikan salam bisa dengan menganggukkan kepala, membungkukkan badan, melambaikan tangan, berjabat tangan, mencium tangan, berpelukan, cium pipi kiri-kanan alias cipika-cipiki.

Kita bisa juga menyampaikan salam seraya berucap assalamualaikum, shalom, om swastiastu, namo buddhaya, salam kebaikan, selamat pagi, semangat pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Pun kita bisa mengombinasikan ucapan dan gerakan. Sesama muslim, bukan muslim dengan muslimah yang bukan muhrim, di Timur Tengah sering kali mengucapkan assalamualaikum lalu diikuti dengan saling merangkul atau cipika-cipiki. Di Barat, laki-laki dan perempuan, meski bukan muhrim, biasa mengucapkan good morning atau how are you sambil cipika-cipiki.

Apa pun ekspresinya, dengan gerakan, dengan ucapan, atau kombinasi keduanya, substansi makna salam ialah menghormati, mendoakan, serta merayakan kehadiran dan keberadaan orang lain. Menyampaikan salam berarti bersilaturahim. Menebar salam berarti menebar kebaikan.

Menebar kebaikan semestinya kepada siapa pun, tidak pandang bulu, tak peduli latar belakang agama, budaya, tradisi. Salam justru hendak menerobos sekat-sekat kultural. Salam hendak merayakan keberagaman.

Itulah sebabnya Presiden Jokowi memborong semua ekspresi ucapan salam agama-agama resmi di Indonesia di awal setiap pidato.

Presiden Jokowi, dengan mengucapkan salam borongan itu, hendak bersilaturahim, mendoakan, serta menebar kebaikan kepada semua penganut agama-agama.

Kita pun terbiasa mendengar salam borongan Presiden Jokowi dan menerimanya sebagai satu kearifan negarawan sampai terbit fatwa yang melarang mencampuradukkan salam agama-agama.

Perbincangan tentang fatwa itu berlangsung di dunia nyata maupun maya. Di tengah pro-kontra itu, Presiden tetap memborong salam ketika mengawali pidatonya. Banyak yang mengapresiasi Presiden.

Akan tetapi, mohon maaf, semestinya Bapak Presiden juga mengucapkan salam agama-agama lokal, semisal sampurasun, bukan cuma salam-salam agama impor.

Bayangkan betapa panjangnya pidato Presiden bila harus melakukan itu. Daripada repot, kata Gus Dur, ucapkan saja selamat pagi, siang, sore, atau malam. Toh, maknanya serupa.

Namun, ide lama Gus Dur itu juga mengundang pro-kontra ketika itu. Kita memang gemar mempersoalkan salam sejak dulu.

Seorang teman di satu grup pertukaran pesan berkomentar kira-kira, "Negeri lain sudah terbang ke matahari, kita masih sibuk diskusi ucapan salam."

Kita sepertinya sedang berebut terbang ke surga.

 

 

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.