Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SUATU malam di kepadatan jalanan Jakarta, sopir taksi yang membawa saya ke sebuah acara bercerita ihwal kerjanya. Lelaki lulusan sebuah sekolah kejuruan itu, dengan bahasa yang santun dan tata bahasa yang rapi, menuturkan sebelum menjadi sopir taksi ia mencoba rupa-rupa pekerjaan.
Mulai tukang bangunan, tenaga kebersihan, penjual alat pembersih mobil, satpam, hingga sopir pribadi, sebelum menjadi sopir taksi. Akbar namanya, 33 tahun usianya.
"Maaf, Bapak muslim, kan?"
Saya terkejut, jarang sopir taksi bertanya agama.
"Memangnya kenapa?" tanya saya penasaran.
"Ini saja, Pak, saya bahkan pernah bekerja 'membelah jalan'. Tapi, hanya kuat sebulan," katanya tanpa menjelaskan apa itu membelah jalan.
Apa hubungan agama dan 'membelah jalan'?
Maksudnya mencari sumbangan di tengah jalan untuk pembangunan masjid atau surau. Ia bilang, pekerjaan membelah jalanlah yang amat menyiksa. Tidak saja ia berpanas dan berdebu, tapi merasa bersalah pada pemakai jalan.
Jalanan dibagi dua dengan pembatas drum atau benda lain. Amat menganggu. Kerap kendaraan besar sampai harus ke parit. Itu mempercepat kerusakan jalan.
"Saya pernah hampir tertabrak mobil. Besoknya saya langsung berhenti," katanya.
Bukan sesuatu yang jauh.
Hampir saban hari, di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, saya melewati para 'pembelah jalan', di ujung jalan yang agak menikung menjelang tol. Tak ketinggalan dengan 'jaring kupu-kupu'--meminjam istilah seorang komedian--di tangan. Kami kerap bersungut-sungut, di tengah kemacetan Jakarta yang sudah akut. Di negeri ini lokasi aktivitas 'membelah jalan' tak terhingga jumlahnya.
Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sampang dan Pasuruhan setahu saya pernah mengeluarkan fatwa haram bagi aktivitas pencari amal di tengah jalan raya. Alih-alih surut, titik-titik lokasi membelah jalan justru kian bertambah. Ada yang berpendapat, jika efeknya mempersempit jalan, itu haram. Kalau tak mempersempit, itu halal.
Kementerian Agama secara halus menganjurkan agar umat membangun tempat ibadah tak meminta-minta di jalanan.
Tulisan Moch Cholid Wardi dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdhatyut Thulab Sampang, Madura, berjudul Pencarian Dana Masjid di Jalan Raya dalam Perspektif Hukum Islam, punya beberapa alasan yang kuat kenapa aktivitas serupa itu ia nilai haram.
Pertama, sesuai dengan sebuah hadis yang mengatakan jika ada rintangan di tengah jalan, yang menyingkirkan rintangan itu masuk kategori shadaqoh. Meminta amal di tengah jalan ialah rintangan. Ia berpotensi menghadirkan penderitaan orang lain.
Kedua, meminta-minta dalam konteks baik individu maupun sosial tak sejalan dengan napas Islam. Islam menegaskan 'tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah'.
Ketiga, secara sosiologis, jalanan milik umum. Ia bukan hanya milik orang Islam. Implikasinya terhinanya martabat dan citra Islam.
Keempat, apakah persentase pembagiannya menurut hukum Islam sah?
Kalau tak ada pendapatan bagi yang mencari, itu tak mungkin.
Saya boleh menambahkan yang kelima, bagaimana auditnya?
Bukankah seluruh dana publik harus bisa dipertanggungjawabkan?
Siapa yang bisa menjamin tak ada manipulasi?
Mestinya negara, umat Islam khususnya (Dewan Masjid), serius mencari solusi atas persoalan itu. Jangan memelihara kultur meminta-minta dan mengganggu umum pula. Banyak juga masjid didirikan, terkadang, untuk gengsi tetapi kurang dikelola secara profesional.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved