Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Bukan Produktivitas, melainkan Sensitivitas

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
03/10/2019 05:10
Bukan Produktivitas, melainkan Sensitivitas
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

DPR baru telah dilantik. Inilah DPR yang memikul beban legislasi warisan DPR sebelumnya, yakni RUU yang ditunda pengesahannya akibat tekanan publik.

DPR dikritik produktivitasnya rendah dalam menghasilkan undang-undang. DPR pun dikritik karena menjelang akhir jabatan ngebut mengesahkan sejumlah RUU. DPR juga dikritik karena banyaknya undang-undang diuji materi di MK.

Kiranya saatnya kita menjernihkan sejumlah pokok pikiran buat wakil rakyat yang terhormat. Pertama, jangan perlakukan dirimu sebagai buruh pabrik, pekerja pembuat undang-undang yang mengejar produktivitas. Kalian bukan produsen seperti dalam dunia industri. Itulah sebabnya di DPR sana tidak ada dan tidak diperlukan serikat buruh legislator.

Saran itu memang keluar dari arus besar. Buanglah jauh-jauh pikiran menghasilkan sebanyak-banyaknya undang-undang. Kalian bukan mesin, bukan operator, penghasil kuantitas.

Kedua, penolakan besar-besaran terhadap revisi UU KPK dan sejumlah RUU kiranya memberi pelajaran pokok betapa mendasarnya perkara 'mendengarkan suara publik'. Suara publik tidak selamanya enak didengar. Suara publik tidak selalu merdu. Justru semakin sumbang, semakin tidak enak didengar, politis maupun moral justru semakin wajib didengar.

Kemampuan mendengarkan suara publik yang tidak enak didengar tapi wajib didengar hanya dimiliki mereka yang berjiwa dan berpikiran besar. Mengesahkan RUU hanyalah ujung sebuah dialog yang alot dan panjang.

Yang namanya 'uji publik' bukan urusan formalitas, urusan basa-basi, urusan ecek-ecek. Tidak berani menghadapi uji publik yang pahit ialah bukti kekerdilan jiwa dan pikiran karena sarat kepentingan/agenda tersembunyi.

Ketiga, buruknya kepercayaan kepublikan memakan energi yang lebih mahal. Demokrasi (pileg dan pilpres) ongkosnya mahal sekali, lalu seperti hendak terbakar habis oleh masyarakat yang tersinggung berat bahkan marah lalu berdemonstrasi akibat revisi undang-undang dan RUU yang tidak peduli akan suasana kebatinan publik.

Setelah pileg dan pilpres, sebetulnya kita tidak lagi bicara aspirasi kepublikan. Bukankah pilihan di TPS merupakan eskpresi siapa caleg dan siapa pula capres-cawapres yang dipercaya?

Keempat, hemat saya, meminjam pandangan Emile Durkheim, fungsi legislatif hendaknya bergeser dari hasrat besar membuat hukum represif menjadi berhasrat besar membuat hukum restitutif. Hukum represif petunjuk besarnya soliditas mekanis, yakni untuk menghukum atas nama masyarakat yang tersinggung, bahkan untuk membalas dendam. Sebaliknya, hukum restitutif petunjuk besarnya solidaritas organis, yakni hukum untuk memulihkan atau melindungi hak-hak privat.

Kosongnya penjara kiranya indeks masyarakat berkeadaban soliditas organis, sedangkan penuhnya penjara bahkan membeludak merupakan indeks masyarakat soliditas mekanis. Hukum dibikin untuk menghukum, bukan untuk memulihkan.

Kelima, devosi (kesetiaan, kecintaan, ketaatan) bahwa telah dipercaya kiranya kualitas yang mudah tererosi ketika berada di ketinggian kekuasaan. Di ketinggian itu kemajalan gampang bertumbuh. Padahal sensitivitas/kepekaan sebagai wakil rakyat kini menjadi ukuran pokok.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)