Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Jangan Bunuh Diri

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
01/10/2019 05:10
Jangan Bunuh Diri
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI)

SEBAGAI sebuah daerah administrasi khusus, begitu banyak pujian yang diberikan kepada Hong Kong. ‘Negara kota’ itu terus tumbuh untuk menyejahterakan rakyatnya. Sejak masih menjadi bagian dari Inggris maupun kemudian menjadi bagian dari Tiongkok pada 1997, Hong Kong bisa tetap eksis sebagai sebuah daerah administrasi khusus yang mandiri.

Tiongkok pun dengan besar hati menempatkan Hong Kong sebagai sebuah wilayah yang otonom. Pemerintah Beijing mau menjalankan prinsip ‘satu negara, dua sistem’. Hong Kong dibiarkan menjadi ‘daerah’ demokratis di negara yang sentralistis.

Namun, masa-masa yang menyenangkan itu sekarang berada dalam bahaya. Unjuk rasa yang tidak berujung membuat Hong Kong menghadapi ketidakpastian. Semua orang lupa akan tujuan bernegara yang harus sama-sama diperjuangkan. Sudah lebih dari empat bulan negeri itu diisi oleh aksi-aksi demonstrasi.

Sekarang semua seperti lupa bahwa Hong Kong adalah kota perdagangan. Padahal semua bisa hidup dan makmur karena perdagangan bebas yang beratus-ratus tahun mereka jalani. Sekarang semua kegiatan itu nyaris berhenti karena tidak mungkin orang berdagang di tengah kekacauan.

Unjuk rasa yang semula hanya memprotes rancangan undang-undang ekstradisi bergerak semakin liar. Meski RUU itu diputuskan untuk dicabut, tuntutan terus berkembang, dari pencopotan kepala daerah administrasi khusus sampai kepada keinginan berpisah dari Tiongkok. Hong Kong seakan hendak bunuh diri.

Apa yang terjadi di Hong Kong harus menjadi pembelajaran bagi kita. Bahwa aksi demonstrasi jangan sampai merusak rumah besar kita. Kalau demokrasi hanya dipakai untuk sekadar kebebasan melakukan apa yang kita maui, sebenarnya kita sedang melakukan zero sum game.

Kita seharusnya mau belajar menjadi bangsa yang dewasa seperti bangsa Korea Selatan. Mereka membangun demokrasi dengan perjuangan yang sangat mahal. Namun, setelah gerakan prodemokrasi 1987, semua komponen bangsa bahu-membahu membangun negara sehingga menjadikan Korsel sebagai negara terdepan dalam penguasaan teknologi dan inovasi.

Setelah demokrasi dibangun, para mahasiswa kembali ke bangku kuliah untuk menimba ilmu. Para ilmuwan kembali ke laboratorium untuk melanjutkan riset. Tentara kembali ke barak untuk berlatih. Pegawai negeri kembali bekerja melayani rakyat.

Demokrasi pada akhirnya harus membawa bangsa itu untuk bekerja sebab kemajuan itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Harus ada kemauan keras dari semua pihak untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsanya.

Bangsa Korea bisa menjadi kekuatan ekonomi nomor 11 di dunia karena mereka bangsa yang mau bekerja keras. Samuel L Huntington bahkan menyebutkan bangsa Korea merupakan bangsa yang mampu membangun etos kerja yang tinggi, disip­lin, sehingga bisa menghasilkan produksi. Bahkan, produksi itu mereka reproduksi menjadi produk yang bernilai tambah lebih tinggi.

Kita harus berani mengatakan, kita belum berhasil membangun etos kerja yang tinggi. Pada kita masih ada sikap untuk be­kerja sekadarnya saja. Bahkan, disiplin pun masih lemah. Namun, kita sudah ingin melompat menikmati gaya hidup, life style.

Setelah reformasi 1998 kita sepertinya terjebak kepada cara pandang bahwa yang hebat itu ialah yang berani berbicara. Semakin vokal suaranya dianggap yang sudah paling berjasa. Padahal yang hebat itu seharusnya yang bekerja keras.

Kita tentu tidak bisa membiarkan pandangan keliru itu terus berkembang sebab kita hidup di dunia yang semakin terbuka. Semua berlomba-lomba menjadi bangsa yang hebat. Bangsa yang hebat itu ialah bangsa yang paling keras kerjanya, paling produktif kinerjanya, paling maju membangun peradabannya.

Masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus kita selesaikan. Paling utama ialah meningkatkan kualitas rata-rata pendidikan bangsa ini. Kita harus membukakan pandangan bahwa kehidupan ini tidak sekadar hitam dan putih. Dibutuhkan sikap bijak untuk mau mendengar pendapat yang lain dan mengelola perbedaan guna mencapai perbaikan bersama.

Kita harus ingat waktu untuk mencapai kemajuan itu semakin singkat. Setelah 2030 kita akan mengakhiri masa bonus demografi. Kalau pada waktu itu kita belum mencapai kesejahtera­an yang tinggi, kita akan menjadi bangsa yang tua sebelum kaya. Sebelum itu terlambat, jangan sia-siakan waktu yang tersisa ini untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mengumbar kemarahan yang tidak berujung.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?