Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Kearifan Lokal

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
24/9/2019 05:10
Kearifan Lokal
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(Dok.MI/Ebet)

PENERBANGAN dari Bangkok, Thailand, menuju Siem Reap, Kamboja, dilakukan sore hari. Perempuan kulit hitam asal Amerika Serikat yang duduk di sebelah saya tertarik oleh warna kuning api yang ada di darat. Dia pun bertanya, "Apakah itu nyala api? Itu ada kebakaran?"

Saya menjawab, "Iya, itu adalah api." Kebiasaan masyarakat di wilayah Asia Tenggara, mereka selalu membakar sampah hasil panenan mereka. Membakar merupakan hal yang dianggap paling mudah untuk membersihkan lahan agar mereka segera dapat menanaminya kembali.

Masyarakat Kamboja, Laos, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia masih mengenal kebiasaan membakar itu. Bahkan, kebiasaan itu dikategorikan sebagai kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat.

Di Indonesia, membakar lahan malah dimasukkan ke peraturan daerah, peraturan menteri lingkungan hidup, dan bahkan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009. Di dalam peraturan yang ada, setiap keluarga diperbolehkan untuk membakar lahan sampai 2 hektare.

Memang, dalam peraturan itu dibuat persyaratan tentang pembakaran lahan agar tidak menimbulkan kebakaran hutan. Akan tetapi, menjaga lompatan api apalagi di musim kemarau yang sangat kering tidaklah mudah.

Australia dan Amerika Serikat menetapkan aturan yang ketat untuk melarang pembakaran atau membuang puntung rokok. Meski demikian, kedua negara itu tetap tidak bisa menghindarkan diri dari kebakaran hutan karena percikan api bisa juga terjadi akibat hubungan arus pendek atau petir yang menyambar.

Atas dasar itulah, pantas jika kita segera meninjau ulang aturan tentang diperbolehkannya pembakaran lahan. Kabut asap yang sekarang tengah melanda Sumatra dan Kalimantan merupakan dampak dari pembakaran lahan. Sudah banyak anggota masyarakat, terutama bayi, yang menjadi korban.

Lagi-lagi kita pun menjadi sorotan negara tetangga terutama Singapura dan Malaysia. Mereka merasakan langsung dampak dari kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Sumatra, terutama Riau, dengan buruknya kualitas udara.

Sudah lama kita mengingatkan pemerintah dan anggota legislatif untuk meninjau ulang dan merevisi aturan yang memperbolehkan pembakaran lahan tersebut. Bangsa ini harus naik kelas dan tidak bisa membenarkan lagi bahwa pembakaran lahan itu bagian dari kearifan lokal.

Pelarangan total terhadap pembakaran lahan akan mempermudah penanganan bencana asap. Sekarang ini kasus bencana asap lebih dimanfaatkan sebagai isu politik. Bahkan, kita terus berputar-putar tentang siapa yang melakukan pembakaran.

Sekarang ini paling mudah menyalahkan para pengusaha karena mereka dianggap lapar lahan. Padahal, para pengusaha sendiri mengatakan mereka tidak mau lagi menggunakan lahan yang tidak jelas asal-usulnya, apalagi yang bekas lahan terbakar. Sebaliknya, para petani mengaku diiming-imingi keuntungan untuk membakar lahan.

Akan lebih mudah kalau pembakaran lahan dinyatakan sebagai tindakan terlarang. Siapa pun yang melakukan pembakaran, dialah yang harus bertanggung jawab. Dengan begitu, tidak bisa lagi ada sikap saling menyalahkan dan akhirnya aparat menghukum saja pihak yang dianggap paling lemah untuk disalahkan.

Cara seperti itu tidak pernah akan bisa menyelesaikan masalah karena kemudian orang akan tetap melakukan pembakaran lahan. Orang tidak pernah merasa jera karena pasti yang memikul tanggung jawab ialah pengusaha. Masyarakat sendiri tetap melakukan pembakaran lahan atas nama kearifan lokal tadi.

Kita harus segera memperbaiki diri karena dunia semakin peduli kepada lingkungan. Minggu lalu, unjuk rasa dilakukan kaum muda di seluruh dunia untuk mendesak dilakukannya penyelamatan planet tempat kita tinggal. Tanpa ada kesungguhan dari semua pihak, kehidupan umat manusia akan terancam.

Pembakaran lahan tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga membuat dunia semakin panas karena asap kabut yang ditimbulkan menyebabkan pantulan panas dari bumi tidak bisa lepas ke udara, dan malah dipantulkan lagi ke bumi. Peningkatan panas 1 derajat Celsius saja di bumi akan menyebabkan berkurangnya lapisan es di kutub dan otomatis membuat tinggi air laut semakin meningkat.

Upaya penyelamatan bumi, sekali lagi, tidak bisa hanya dengan saling menyalahkan. Seperti anak-anak muda dunia, mereka tidak menyalahkan satu-dua pemimpin negara, tetapi memberikan pemikiran untuk menyelesaikan masalah yang penting ini. Kita pun jangan sekadar berteriak-teriak untuk mencari kambing hitam dari kebakaran lahan, tetapi harus mencari jalan yang solutif agar bencana asap tidak kembali terjadi. Salah satu yang mendesak tadi, segera revisi peraturan tentang diperbolehkannya pembakaran lahan oleh masyarakat.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)