Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Angin Lalu

Saur Hutabarat | Dewan Redaksi Media Group
02/3/2015 00:00
Angin Lalu
(MI/Furqon Ulya Himawan)
DI tengah masyarakat selalu ada suara rakyat yang tiada terdengar atau terdengar, tetapi tak didengarkan. Sebaliknya, selalu ada pemerintah yang mendengar, tapi tak mendengarkan, hearing without listening.

Umumnya jarang sekali pemerintah peduli terhadap suara yang nyaris tiada terdengar. Telinga kekuasaan peka terhadap yang vokal. Kendati demikian, kebanyakan cenderung mendengarkan suara yang memang cocok untuk didengarkan.

Sebutlah suara perihal moratorium. Terdengar, tetapi tiada didengarkan. Bagai angin lalu. Tentu ada suara kencang bak anjing menggonggong, dengan jawaban yang juga jelas, kafilah berlalu. Jadi, tak usah heran bila moratorium telah disuarakan, misalnya, tetapi pemekaran daerah dan pembangunan mal, jalan terus.

Suara terdengar, tetapi tak didengarkan itu antara lain terpapar di spanduk di Jalan Kaliurang Km 11, Sleman, Yogya. Isinya, 'Menolak apartemen di Dusun Gadingan'. Ada juga statemen 'Kearifan lokal wajib dijaga'. Membacanya pekan lalu sempat membuat saya tercenung.

Apakah perlunya spanduk setelah warga menyampaikan aspirasinya kepada DPRD? Apakah spanduk lebih berwibawa dan berkuasa ketimbang DPRD Kabupaten Sleman? Sebelumnya, warga Dusun Gadingan, Desa Sardonoharjo, Ngaglik, telah mendatangi DPRD Kabupaten Sleman menyampaikan penolakan mereka, yang intinya pembangunan apartemen bakal mengeringkan sumur penduduk dan limbah apartemen mencemarkan lingkungan warga.

Protes warga Dusun Gadingan bukan protes pertama menolak rencana pembangunan apartemen di Daerah Istimewa Yogya. Dua tahun lalu, tepatnya 2 Oktober 2012, warga Dusun Gejayan, Desa Condong Catur, Sleman, mendatangi DPRD yang sama, menyampaikan penolakan rencana pembangunan apartemen juga dengan alasan yang sama. Apartemen yang dimaksud kini menjadi hunian, antara lain, dijual dengan predikat apartemen khusus mahasiswi.

Apartemen ialah tanda perubahan. Orang tua masa kini berduit dan sadar berinvestasi, tentu lebih memilih membeli unit apartemen ketimbang anaknya indekos. Sambil menyelam minum air. Ketika anak diwisuda sarjana, harga apartemen telah melejit naik. Apartemen bertumbuh juga untuk disewakan harian, mingguan, bulanan, sebagai alternatif hotel.

Protes serupa pun dilayangkan karena maraknya pembangunan hotel. Alasannya sama, menyedot air tanah, mengeringkan sumur penduduk. Keringnya sumur warga akibat pembangunan hotel bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan hari ini. Karena itu, warga yang tinggal di sekitar hotel protes.

Akan tetapi, jawaban pelaku bisnis standar/normatif, yaitu semua persyaratan/aturan termasuk perihal pengadaan air tanah telah digenapkan. Demikianlah, formalisme/legalisme menang berhadapan dengan realisme, sekalipun yang terakhir itu derita rakyat.

Pertambahan hotel dan apartemen jelas meningkatkan kebutuhan air tanah. Pemakaian bertambah tanpa disertai pengisian kembali air ke dalam tanah karena buruknya resapan air hujan.

Air tanah ialah air bersih alami ciptaan Sang Khalik Langit dan Bumi. Tak kecuali di DIY, betapa pun istimewanya negeri itu. Membiarkan air tanah dikeringkan oleh siapa pun, termasuk industri, jelas tergolong dosa besar.

Tak bisa lain, pemerintah harus memperbaiki resapan air hujan untuk memulihkan persediaan air tanah, juga segera membereskan persediaan air bersih buatan manusia. Bahkan, moratorium hotel baru. Tak baik negara (pemda dan DPRD) pura-pura tidak tahu, mendengar, tapi tak mendengarkan, memperlakukan suara rakyat bagai angin lalu. Bisa tuli beneran.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.