Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Menegasi Fakta

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
25/8/2015 00:00
Menegasi Fakta
()
FAKTA satu. Di Bandung, Yayasan Kebudayaan Rancage yang diketuai sastrawan Ajib Rosidi, pekan silam, menganugerahkan Hadiah Sastra kepada para pengarang yang menulis dalam bahasa daerah. Tahun ini yang menerima ialah mereka yang menulis sastra dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali, Batak Toba. Hadiah Rancage bertujuan agar sastra dan bahasa daerah berkembang dan akhirnya memperkuat bahasa dan sastra Indonesia.

Dalam sambutan penganugerahan itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi menegaskan sastrawan dan karya-karyanya memiliki potensi besar menjadi inspirasi dan menjaga nilai keindonesiaan.

Fakta dua. Di sebuah seminar di Surabaya, Guru Besar Universitas Setsunan, Jepang, Urano Takao meminta agar kaum muda di Indonesia mencintai bahasa Indonesia. Jangan malah berlomba belajar bahasa asing, tapi melupakan bahasa sendiri. Di negeri Urano, bahasa dan budaya Jepang amat dijunjung tinggi.

Fakta tiga. Untuk merespons rupiah yang kian loyo, kalangan dunia usaha meminta agar kita meningkatkan kecintaan produk dalam negeri dan mengurangi impor. "Timbulkanlah nasionalisme yang benar dengan mencintai produk kita sendiri," kata Dirut PT Jababeka SD Darmono. Mencintai produk sendiri tentu di dalamnya mencintai bahasa dan budaya sendiri.

Fakta empat. Presiden Jokowi diwartakan memerintahkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi M Hanif Dhakiri agar mengubah aturan, tidak lagi mensyaratkan warga asing yang bekerja di Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia. Tujuannya agar investasi asing deras mengalir dan ekonomi kita sehat, syukur perkasa.

Itulah fakta bahwa Jokowi menegasikan fakta yang justru berkehendak menguatkan Indonesia. Menguatkan ekonomi yang loyo tentu tugas berat pemerintahan Jokowi. Sejak ia naik takhta, rupiah seperti terus menunjukkan 'perlawanan'. Namun, mengorbankan bahasa sendiri demi pasar tak saja sangat asumtif, tetapi juga mencerminkan inferioritas serius. Padahal, mental inferior itu selama ini justru ingin dikikis dengan revolusi mental oleh Jokowi.

Kita paham ada beban Jokowi memulihkan ekonomi, terlebih pemutusan hubungan kerja mulai jadi momok. Akan tetapi, dengan meniadakan syarat bahasa Indonesia bagi tenaga asing di Indonesia, ia menegasikan bahasa Indonesia. Ia seperti menekuk lutut sedalam-dalamnya. Alih-alih dengan gagah 'menyiarkan' bahasa Indonesia yang masuk tujuh bahasa berpenutur terbesar di dunia, ia justru membatasinya.

Lalu, apa arti Trisakti (tekad berdaulat di bidang politik, mandiri ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya), yang menjadi janji Jokowi selama ini? Bagaimana bisa mandiri jika menghadapi kondisi seperti ini saja mudah mengorbankan miliknya yang paling berharga? Bukankah para tenaga kerja kita di Taiwan, Timur Tengah, Hong Kong, dan Singapura juga dituntut berkomunikasi dengan bahasa 'majikan' mereka? Wibawa sebuah bangsa salah satunya juga dipupuk penghormatannya pada bahasa sendiri.

Semoga para pembantu Jokowi, khususnya Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan, bisa menjadi 'pembisik' yang baik. Bila melihat fakta-fakta itu saja--mungkin masih banyak fakta lain--Trisakti justru diteguhkan mereka yang berada di luar otoritas negara, tapi justru diluruhkan otoritas tertinggi negara.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.