Rabu 29 Mei 2019, 05:30 WIB

Warisan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | podium
Warisan

MI
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

AKAN kita kenang seperti apa Pemilihan Umum 2019? Kita pantas prihatin demokrasi yang kita bangun sejak 1999, kini menjadi porak-peranda. Padahal empat pemilu langsung pertama yang kita lakukan nyaris tidak pernah dinodai oleh tetesan darah.

Baru kali ini ada korban karena tidak mau menerima hasil pemilu. Bahkan lebih prihatinnya ada skenario untuk melakukan upaya pembunuhan kepada elite politik. Ada pihak yang sudah merancang untuk menembak empat tokoh politik dan satu pelaku lembaga survei.

Kita bersyukur polisi bisa membongkar skenario jahat itu. Kita tidak boleh membiarkan demokrasi yang kita bangun menjadi sebuah tradisi yang buruk. Sekali demokrasi dinodai dengan tetesan darah, maka ia akan menjadi kebiasaan yang terus berulang.

Demokrasi yang sudah kita pilih untuk dijalankan harus dirawat baik-baik. Sebesar apa pun ambisi untuk merebut kekuasaan tidak boleh menabrak aturan demokrasi yang antikekerasan. Amerika Serikat yang sudah ratusan membangun demokrasi pun terus menjaga baik-baik demokrasi mereka. Tidak boleh ada keinginan untuk mengambil alih kekuasaan secara inkonstitusional.

Kita tahu bagaimana brutalnya Pemilihan Presiden AS 2016 yang lalu. Donald Trump melakukan berbagai cara untuk memojokkan Hillary Clinton. Konspirasinya dengan Rusia dipakai untuk meretas surat elektronik milik Hillary.

Ketika hari pemilihan tiba dan rakyat AS memutuskan untuk menjadikan Trump sebagai presiden, apakah Hillary dan kubu Demokrat berteriak-teriak curang dan tidak mau mengakui hasil pemilu? Dengan kedewasaan politiknya, Hillary mengakui kemenangan Trump. Sebagai istri Presiden Bill Clinton, ia pun menghadiri pelantikan Trump di beranda Capitol Hill.

Bagaimana lalu tuduhan kecurangan yang dilakukan Trump? Kecurangan itu merupakan persoalan hukum, bukan persoalan politik. Penyelidikan atas dugaan kecurangan dilakukan di Kongres AS dengan menunjuk penyelidik khusus, bukan membuat kerusuhan di jalanan. Rakyat tidak perlu diajak ikut terlibat dan fokus saja untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Begitulah fatsun politik harus dijalankan. Para elite jangan hanya memikirkan ego mereka, tetapi harus memikirkan warisan apa yang akan ditinggalkan dalam pembangunan demokrasi di negara ini. Jangan lupa apa yang dilakukan pemimpin politik akan menjadi catatan sejarah dan menjadi pelajaran generasi mendatang.

Kita harus berlomba-lomba meninggalkan warisan terbaik agar dikenang sebagai pahlawan demokrasi di negara ini. Kita perlu belajar dari George Washington. Sepanjang sejarah ia dikenang sebagai presiden terbesar AS karena ia merupakan orang yang menolak untuk terus dipilih sebagai presiden meski rakyat menghendakinya.

Pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno perlu becermin diri dan bertanya ingin dikenang sebagai pemimpin apa oleh bangsa ini? Tindakan untuk terus membakar emosi massa dan membiarkan kerusuhan terjadi dua malam berturut-turut akan menjadi catatan hitam dalam kiprah mereka sebagai pemain politik.

Tidak pernah bosan kita sampaikan, demokrasi bukan sekadar urusan perebutan kekuasaan. Tujuan demokrasi bukanlah untuk merebut kekuasaan. Demokrasi adalah alat untuk membangun peradaban dan dengan itulah kita kemudian bersama-sama memperbaiki kehidupan kita.

Perbaikan kehidupan hanya akan terjadi kalau seluruh rakyat mau bekerja keras. Tugas kita sebagai masyarakat ialah bekerja sesuai bidang keahlian yang kita punyai. Pemimpin dan juga negara hanya memberikan kesempatan yang sama kepada kita untuk bisa menjalankan pekerjaan sebaik mungkin.

Kalau pemimpin tidak bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada rakyatnya untuk bekerja, sebenarnya ia tidak sedang berupaya memperbaiki kehidupan rakyatnya. Kerusuhan yang terjadi kemarin terbukti membuat saudara-saudara kita yang bekerja di Tanah Abang, misalnya, benar-benar tidak bisa berjualan. Miliaran rupiah kerugian yang harus dirasakan para pedagang di sana karena bisnis mereka praktis terhenti.

Kerugian yang tidak terlihat jauh lebih besar lagi. Dua malam kelam itu membuat orang bisnis takut. Mereka praktis tidak bisa menjalankan kegiatan perkantoran secara normal. Pesan kepada dunia pun buruk karena kita dianggap tidak pandai mengelola perbedaan.

Enough is enough. Cukup sudah tontonan demokrasi yang buruk itu kita lakukan. Kita jangan lanjutkan lagi tindakan-tindakan tidak pantas seperti itu. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Marilah kita terus mencintai negara ini. Kita bangun negara ini agar menjadi rumah yang nyaman bagi kita semua.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More