Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Reshuffle

15/8/2015 00:00
Reshuffle
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SUDAH begitu lama isu perombakan kabinet itu berembus. Presiden Joko Widodo akhirnya merombak. Tiga menteri koordinator diganti dan tiga menteri dicopot. Tiga menteri koordinator baru yang ditunjuk, yakni Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Rizal Ramli, dan Menko Polhukam Luhut Panjaitan.

Sementara itu, tiga menteri baru: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Ketika Presiden tidak kunjung melakukan reshuffle, komentar miring bermunculan. Saat perombakan dilakukan, komentar miring pun tidak berhenti dilontarkan. Inilah demokrasi Indonesia.

Semua bebas menyampaikan pendapat dan sepertinya tidak ada yang benar dilakukan pemerintah. Padahal, tidak pernah ada keputusan yang memuaskan semua orang, tidak pernah ada keputusan sempurna. Bahkan sering kali keputusan itu bukan pilihan antara baik dan buruk, tetapi buruk dan kurang buruk.

Ada sebuah cerita Kahlil Gibran tentang ke sempurnaan.

Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya, "Bagaimana agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?" Sang Guru menjawab,

"Berjalanlah lurus di taman bunga lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu, tetapi jangan pernah kembali jalan ke belakang!"

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa.

Lalu Sang Guru bertanya, "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?"

Gibran menjawab, "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tetapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan ada yang lebih indah.

Namun, ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi ialah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi!"

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata, "Ya, itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya karena sejatinya kesempurnaan hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan."

Dengan ilustrasi itu kita jangan berharap ke sempurnaaan dari reshuffle Jokowi. Kita harus menerima segala kekurangan, tetapi selanjutnya bagaimana membuat yang terbaik. Kita tidak boleh gagal dengan pemerintahan ini karena akan memengaruhi kehidupan rakyat.

Perombakan kabinet hanya obat sementara dari situasi krisis yang kita hadapi. Yang selanjutnya kita harapkan ialah perbaikan kinerja pemerintah. Ini penting karena situasi global semakin menakutkan. Perang mata uang yang kita khawatirkan mulai terjadi.

Tiongkok membalas langkah Uni Eropa dan Jepang dengan mendevaluasi mata uang yuan. Kita lihat pasar saham global bergejolak. Pasar uang pun bergerak tidak terkendali. Itu ikut memukul indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia dan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati 13.800 per dolar AS.

Kesannya, reshuffle tidak direspons pasar. Padahal, sebenarnya momentum perombakan yang tidak tepat. Kita tidak bisa lagi mundur. Penilaian negatif justru harus menjadi pemacu para menteri baru bekerja lebih giat.

Tunjukkan kehadiran menteri baru menjadi momentum perbaikan perekonomian nasional, terutama para menteri koordinator harus menunjukkan kemampuan koordinasi yang lebih baik. Kita mendambakan kerja sama tim kabinet lebih baik.

Para menteri bukan saling 'berkelahi' di depan umum, tetapi mampu menyinkronisasi kebijakan bagi tercapainya Indonesia yang lebih hebat.

Dirgahayu RI!



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.