Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Diaspora

14/8/2015 00:00
Diaspora
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

DIASPORA memang lekat dengan puak Yahudi. Kata tefutzah, yang dalam bahasa Ibrani berarti 'tersebar' atau galut yang berarti 'pembuangan', merupakan cerita tercerai-berainya kaum Yahudi di berbagai belahan dunia. Mereka terbuang setelah Kerajaan Yehuda dikalahkan bangsa Khaldea pada 588 SM.

Itu sebabnya lema diaspora, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3 (2005), dijelaskan sebagai 'masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya bangsa Yahudi sebelum negara Israeal berdiri pada 1948'.

Pada 2005, jumlah diaspora Yahudi di AS sekitar 5,28 juta orang, sementara penduduk Yahudi di Israel hanya 5,23 juta jiwa. Selain di Amerika juga tersebar di berbagai negara dengan jumlah sekitar 2,5 juta manusia.

Di Amerika, diaspora Yahudi menempati posisi penting di banyak bidang. Namun, sesuai jumlah penduduknya yang 1,3 miliar manusia, Tiongkok memiliki diaspora terbesar di dunia, sekitar 40 juta jiwa. Mereka ada yang tetap menjadi warga negeri baru, tak sedikit yang kembali dan membangun negeri.

Seperti juga diaspora India yang sukses dengan Silicon Valley-nya di Amerika, belum lagi para dokter dan CEO di banyak perusahaan multinasional.

Tiongkok kini mengguncang dunia karena sukses melakukan 'akulturasi' dari berbagai ajaran dan 'mazhab'; Budhisme, Marxisme-Leninisme, komunisme, kapitalisme, ekonomi pasar, teori manajemen Barat, dan teknologi Barat.

Bagian-bagian yang terlihat tak berhubungan, tapi bisa 'disatukan' oleh Tiongkok. Mereka belajar nilai-nilai keunggulan dari banyak bangsa, kemudian dibawanya pulang.

Seperti pengakuan CEO Chery, Yin Tongyao, yang dikutip John dan Doris Naisbit dalam buku China's Megatrends (2010),

"Belajar pengendalian dari orang Jepang, kegigihan dari orang Korea, akurasi dari orang Jerman, dan strategi pemasaran dari orang Amerika."

Semuanya tetap terwadahi dalam kuali besar yang disebut nilai-nilai Tiongkok.

Bangsa yang sebelum era Deng Xiaoping terkungkung dalam kepompong komunisme Mao Zedong yang kaku, kini menjadi kupu-kupu indah yang bebas terbang, menawan.

Indonesia kini juga tengah memaknai orang-orang rantau itu. Kongres Diaspora Indonesia III yang bertema Diaspora bakti bangsa di Jakarta, Rabu (12/8), ialah upaya untuk mewadahi potensi besar itu.

Kini ada sekitar 8 juta manusia Indonesia yang tersebar di 56 negara; 70% masih berstatus warga negara Indonesia, 30% pindah kewarganegaraan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menghadiri kongres tersebut berharap orang-orang rantau itu tetap mengabdi kepada bangsa mereka. Kalla pun mengemukakan, mereka yang memiliki paspor Indonesia tidak berarti lebih baik nasionalismenya daripada mereka yang memilih kewarganegaraan lain.

Para pejabat lancung, saudagar pengemplang pajak, pemain kartel, politisi yang bisa dibeli, penegak hukum yang berdagang perkara, pastilah barisan perusak Republik.

Diaspora Indonesia merupakan potensi yang mestinya diwadahi dan diberi jalan pulang untuk menguatkan Indonesia yang dalam usia ke-70 masih gagap merumuskan identitas diri.

Pancasila diakui, tapi dalam praktik diingkari begitu rupa.

Kini, ia entah siapa.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.