Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI-HARI ini dan selanjutnya, kita masih berharap pada seorang Susi. Menteri Kelautan dan Perikanan yang terus galak pada para lanun yang berpuluh tahun menjarah laut kita. Bersyukur tak ada tanda-tanda ia surut lalu menyerah pada para penjarah. Terbayang jika Susi Pudjiastuti hilang nyali karena lelah atau 'terbeli', misalnya, selesailah sebuah riwayat perang besar melawan penjahat laut yang licik dan licin itu.
Rabu (25/2) silam, Susi berang bukan kepalang. Kapal Fu Yuan Yu 80 yang habis masa izinnya pada 2013 masih beroperasi di perairan kita. "Saya berharap KSAL dan kementerian kami bisa menangkap mereka hari ini," katanya. Ia menjelaskan kapal itu satu grup dengan kapal MV Hai Va yang telah ditangkap. Untuk mengelabui, kapal berganti bendera Panama, Tiongkok, Indonesia.
Sejak Susi menenggelamkan kapal-kapal asing penjarah ikan, kita merasa tangan-tangan negara mulai bekerja. Segera kita tahu dari Jokowi ada sekitar 7.000 kapal yang selama ini beroperasi liar. Sebagian besar memakai nomor wajib pajak palsu, sebagian lagi tidak terdaftar. Sebagian kepemilikannya pun tak jelas: kapal berbendera Indonesia, tetapi pemiliknya ada di luar negeri. Tak salah jika Susi menyebut cara mereka bekerja serupa organisasi mafia.
Ia berlakukan moratorium izin kapal baru dan meninjau ulang semua izin tangkap kapal ikan di atas 30 gross ton, sejak 6 November 2014 hingga 30 April 2015. Kita segera tahu siapa saja yang 'bermain' di laut kita. Pengusaha Indonesia yang tega 'menjual lautnya' pada asing. Menurut Susi, kapal-kapal besar milik asing, yang 'berbungkus' perusahaan Indonesia, ialah bahtera yang di negerinya sendiri dilarang beroperasi. Itu sebabnya setelah moratorium, Susi tak sudi kapal-kapal eks asing melaut di Indonesia.
Kekayaan laut kita yang dijarah asing, kata Susi, setara Rp3.000 triliun. Jumlah itu, seperti pernah diungkap seorang bankir, setara dengan kekayaan orang Indonesia, baik perseorangan maupun korporasi, yang tersimpan di bank-bank luar negeri karena menghindari pajak. Maka, kata Susi, "Kalau ada yang masih berani bermain-main, akan saya sikat." Ia ingin nelayan kita sejahtera dari lautnya sendiri. Ia ingin ikan Indonesia membanjiri pasar ikan dunia.
Namun, untuk mewujudkan keinginan Susi memang tak mudah. Mereka yang terbiasa mengeruk keuntungan lewat jalan tak legal, pasti akan melawan dengan bermacam cara.
Kita tahu Susi bukan datang dari dunia 'yang lazim' sebagai petinggi negeri: pendidikannya yang putus di sekolah menengah, rajah di kakinya, rokok dalam hidupnya. Namun, kita segera tahu hidupnya tak 'bergincu'. Ia menjadi diri sendiri sepenuhnya.
Di tangan Menteri Susi, laut yang lama kita punggungi menjadi penting kembali. Namun, nyali seorang Susi tak boleh dibiarkan sendiri 'bertempur' di laut yang keras. Saatnya Angkatan Laut, Polri, dan semua pihak yang mencintai negeri ini, bekerja sama menyelamatkan laut kita yang kaya, tetapi nelayannya miskin. Kita memang lelah bertanya, kenapa terlalu lama laut kita dijarah? Tetapi, sudahlah. Saatnya 'Angkatan Baru' mengemban tanggung jawab yang alpa ditunaikan 'angkatan lama'. Sejarah tak akan alpa mencatatnya.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved