Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Bauran Kebijakan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
01/12/2018 05:30
Bauran Kebijakan
()

PEMAPARAN Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Pertemuan Tahunan BI begitu terang benderang. Potensi ancaman, baik dalam bidang perdagangan maupun keuangan, begitu nyata. Namun, BI akan berjuang untuk menjaga nilai tukar rupiah pada kisaran yang wajar dan tingkat inflasi yang terkendali, yakni 2,5%-4,5%.

Yang menarik ialah ajakan Gubernur BI kepada pemerintah untuk membuat bauran kebijakan fiskal dan moneter agar dihasilkan kebijakan ekonomi yang memberi manfaat optimal bagi bergeraknya ekonomi di tingkat masyarakat. BI sudah melonggarkan kebijakan loan to value untuk menggerakkan sektor properti. Kepada perbankan, BI juga melonggarkan giro wajib minimum agar likuiditas perbankan bisa lebih besar.

Tidak hanya itu, BI sejak September lalu menyiapkan kebijakan lindung nilai yang memungkinkan dunia usaha tidak terimbas gejolak nilai tukar. Selama ini non-delivery forward hanya bisa dilakukan di luar negeri. Para pengusaha bukan hanya harus membayar biaya yang mahal, upaya menjaga nilai tukar rupiah pun tidak terjadi.

Dengan ada fasilitas domestic non-delivery forward, para pengusaha mendapat kemudahan dan BI pun tinggal memantau pergerakan nilai tukar dari besarnya permintaan yang ada.

Pemerintah sendiri kita tahu terus berupaya untuk memperbaiki iklim usaha demi masuknya investasi yang bisa membuka lapangan pekerjaan dan mendorong ekspor. Sudah ada 16 paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan dengan tujuan utamanya mendapatkan investasi asing langsung.

Idealnya kebijakan BI dan pemerintah dibuat selaras agar bauran kebijakan memberikan dampak yang lebih nyata. Seperti kebijakan BI untuk memberikan kelonggaran kredit properti. BI melihat sektor properti dan otomotif merupakan penggerak ekonomi yang nyata. Dampaknya terhadap pertumbuhan itu langsung dan signifikan.

Mengapa? Karena sektor properti menyerap tenaga kerja yang besar. Minimal dibutuhkan 10 orang untuk membangun sebuah rumah. Belum lagi bahan bangunan, mulai dari kayu, bata, pasir, kapur, semen, genting, sampai keramik bisa dibuat di dalam negeri. Kredit yang diberikan untuk pembangunan perumahan bisa memutar roda ekonomi yang lebih besar.

Untuk itu, pemerintah seharusnya mempermudahkan alokasi penggunaan lahan untuk perumahan. Izin mendirikan bangunan tidak dipersulit. Agar properti yang dibangun bisa dibeli oleh masyarakat, pemerintah perlu membangun infrastruktur dasar menuju dan keluar daerah permukiman itu.

Kalau arahnya bisa dibuat seperti itu, BI dan perbankan tidak ragu untuk mengucurkan kredit karena pasti kredit itu akan bisa lancar. Bahkan tingkat suku bunga bisa dibuat lebih rendah karena risiko yang lebih kecil. Tujuan pemerintah untuk menyediakan rumah bagi masyarakat pun bisa tercapai.

Banyak kerja sama yang bisa dilakukan pemerintah dan BI, termasuk dalam pembangunan industri. Kalau pemerintah memang serius untuk menjadikan lima industri yakni makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, elektronik, otomotif, dan kimia sebagai industri unggulan, BI dan perbankan bisa mengalokasikan kredit khusus agar terbangun industri nasional yang kukuh.

Sekarang ini, karena pemerintah tidak tampak serius, perbankan masih menempatkan industri tekstil dan produk tekstil sebagai industri yang sudah sunset. Akibatnya, pengusaha tekstil dan produk tekstil kesulitan untuk mendapatkan kredit bagi revitalisasi pabrik mereka. Tidak usah heran apabila ekspor tekstil dan produk tekstil kita kalah jauh dari Vietnam, misalnya.

Dalam menghadapi 2019 yang penuh tantangan, alangkah eloknya apabila sinergi dan kolaborasi itu tidak hanya di mulut. Pemerintah dan BI perlu duduk bersama-sama untuk mengetahui arah kebijakan yang akan dijalankan pemerintah dan di sisi mana BI bisa ikut memperkuat kebijakan fiskal yang sudah ditetapkan.

Sejak menjabat sebagai Gubernur BI, Perry Warjiyo ingin menjadikan BI bukan hanya menjadi lembaga yang sekadar menjaga tingkat inflasi dan nilai tukar. BI siap untuk memainkan peran sebagai lembaga yang bisa ikut memperkuat perekonomian Indonesia.

Ketika perekonomian Indonesia bisa semakin kuat, otomatis pekerjaan BI pun bisa menjadi lebih ringan.

Apabila investasi terus bertambah dan ekspor bisa ditingkatkan, otomatis cadangan devisa bisa ikut bertambah. Surplus perdagangan akan membuat neraca transaksi berjalan bisa lebih baik dan akibat lebih lanjutnya BI tidak perlu repot untuk mengendalikan nilai tukar rupiah.

Sekarang ini BI lebih banyak berperan sebagai pemadam kebakaran. Ketika BI tidak membantu menggerakkan perekonomian, alokasi kredit bisa salah sasaran. Ketika kredit lebih banyak untuk kepentingan konsumtif, bukan yang produktif, akhirnya hanya besaran kredit yang meningkat, tetapi dampaknya untuk ikut menjaga nilai tukar dan mengendalikan inflasi tidak bisa didapat.

Kebersamaan itu memang indah. Itulah yang perlu terus dilakukan pemerintah dan BI. Apalagi sekarang ini hubungan di antara keduanya begitu dekat. Meski merupakan lembaga independen, BI dan Otoritas Jasa Keuangan sering diajak untuk ikut dalam sidang kabinet. Dengan itu setidaknya keduanya bisa saling tahu arah kebijakan yang akan ditempuh dan secara profesional bisa menjalankan tugas serta tanggung jawab masing-masing kepada negara ini.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.