Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA politik kini ada yang tengah berjalan melawan akal sehat. Yang rasional disisihkan, yang emosional dikedepankan. Donald Trump, politikus rasialis, yang setiap hari tanpa henti memproduksi kebohongan, tetapi berjaya dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Banyak lembaga survei dan analis politik yang menubuat rival Trump, Hillary Clinton, pasti akan dilantik menjadi presiden perempuan pertama Amerika Serikat. Dunia tercengang.
Namun, apa pun ceritanya, Trump dan timnya dinilai pandai mengisi 'ruang kosong' yang tak digunakan kubu lawan. Ia mengaduk-aduk emosi dalam rapat-rapat raksasa dengan kebohongan yang terus-menerus, yang tak sempat dicerna orang ramai. Slogan Donald Trump, Make America Great Again, telah membius publik. Artinya, apa pun hal buruk tentang dan dari Trump, para calon pemilihnya tak peduli. Ia telah menjadi harapan baru warga Amerika.
Fenomena itu tak aneh bagi ilmu pengetahuan, terutama neurosains. Neurosains adalah suatu bidang penelitian saintifik tentang sistem saraf, utamanya otak dan pikiran. Manipulasi otak dengan hal-hal yang tak rasional dan tak relevan dalam kontestasi politik memang seperti menjadi tren baru di banyak negara.
Dalam diskusi terpumpun bertema Neurosains, media, dan masa depan politik Indonesia, di Jakarta, Senin (26/11) lalu, dokter spesialis bedah saraf Roslan Yusni Hasan atau akrab disapa Ryu Hasan mengungkapkan otak manusia cenderung lebih responsif terhadap hal-hal yang mengutamakan emosi daripada rasionalitas.
Menurut Ryu, fenomena terpilihnya Donald Trump di Amerika Serikat dan Jair Bosonaro di Brasil ialah contoh paling konkret aplikasi neurosains dalam politik. Trump oleh banyak media bahkan disebut sebagai pembohong yang berulang dan berulang.
Respons emosi karena memberi keuntungan agar terhindar dari ancaman.
"Sesuatu yang sifatnya ancaman akan lebih cepat direspons. Misalnya ketika ada pesan berantai di media sosial, kita langsung menyebarkan tanpa konfirmasi terlebih dahulu," kata Ryu (Media Indonesia, 27/11).
Neurosains juga mengkaji kesadaran dan kepekaan otak dari segi biologi, persepsi, ingatan, dan kaitannya dengan pembelajaran. Teori neurosains mengatakan sistem saraf dan otak merupakan asas fisis bagi proses pembelajaran manusia.
Menurut Ryu, melalui riset neurosains, respons warga di sebuah negara dipetakan lalu ditindaklanjuti dengan strategi-strategi kampanye agar mereka memilih salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Yang terang-terangan sebagai pengagum Donald Trump ialah politikus sayap kanan Brasil, yang juga sukses pada pemilu presiden Oktober lalu. Yang diam-diam bisa jadi banyak jumlahnya.
Di era digital, media sosial punya kecepatan dan daya jangkau yang luas untuk menyebarkan informasi yang belum tentu benar itu. Terlebih jika di media sosial banyak yang menemukan informasi yang sesuai dengan selera mereka. Bukan sesuai dengan faktanya. Mereka tak peduli dengan fakta. Mereka yang telah 'tersihir' oleh kata-kata tak peduli fakta. Tak peduli argumen dan rasionalitas.
Dalam politik Indonesia yang panas dan membelah-belah ini, para ahli neurosains semestinya lebih aktif melakukan riset dan memublikasikan hasilnya sebab dalam politik yang banal harus banyak yang memberikan ‘cermin besar’. Riset dan publikasi itu penting agar masyarakat tahu apa yang tengah terjadi dan bisa mengambil sikap.
Dengan riset neurosains, respons publik pada pernyataan kontroversial pasangan calon presiden dan wakil presiden bisa diapresiasi. Jika masyarakat kita lebih sehat secara emosional dan sosial, tentu tak terbawa arus.
Masyarakat yang sehat bisa membandingkan mana politikus yang lurus mana yang tidak; pasangan capres-cawapres mana yang bisa dipercaya? Akal sehat kita harus tegas mengatakan kubu cawapres dan cawapres yang paling banyak menyebarkan kabar bohong, terlebih fitnah, mestinya tak usah dipilih.
Jika kian banyak politikus yang hobi berbohong terpilih, ini akan menambah daftar politikus lancung yang menang. Jika ini benar-benar terjadi, alangkah celakanya bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa ini. Karena itu, ikhtiar maksimalnya ialah mengatakan tidak kepada mereka yang tanpa beban terus menyebarkan kabar bohong.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved