Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DI momen Hari Guru ini mari kita berbincang lagi nasib guru honorer. Keberadaan mereka penting karena mengisi kekurangan guru negeri untuk mencerdasakan anak bangsa, tetapi nasib mereka berada di lorong gelap.
Ada banyak mantan murid mereka menjadi polisi, tentara, aparat sipil negara, dan berbagai profesi lain. Akan tetapi, mereka tetap pada posisinya semula: guru berupah amat rendah.
Itulah yang saya dengar dari beberapa pengurus Forum Guru Honorer Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu pekan silam. Tujuh guru menemui saya dan mengungkapkan betapa gelapnya nasib mereka. Berbagai upaya telah mereka lakukan, tetapi ujung dari seluruh usaha itu ialah kesia-siaan. Tak ada jalan keluar yang sedikit saja mematrikan harapan.
Bayangkan, mereka berpendidikan S-1, telah mengajar rata-rata 14 tahun, tetapi berhonor Rp400 ribu per bulan yang diambil dari BOS (bantuan operasional sekolah). Di daerah lain ada yang berhonor lebih rendah lagi. Di Banyumas, sejak tiga tahun lalu berdasarkan SK bupati, mereka mendapat dana kesra Rp400 ribu per bulan yang mereka terima setiap tiga bulan sekali.
Mereka umumnya masih menumpang di rumah orangtua masing-masing. Bagaimana untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anak mereka? Inilah ironisnya, para pendidik itu justru harus pontang-panting membiayai sekolah anak-anak mereka sendiri. Bagaimana mereka dituntut memberikan pendidikan terbaik? Inilah pertanyaan yang bertahun-tahun tak menemu jawab.
Bandingkan dengan para guru berstatus PNS, selain gaji, mendapat dana sertifikasi yang jumlahnya cukup besar. Mestinya penghasilan guru honorer jangan terlalu jauh dari guru negeri. Ada ketidakadilan dan secara psikologis tak sehat di lingkungan pendidikan.
“Kadang-kadang kami ingin kerja apa saja. Namun, persoalannya, jika kami nekat bekerja yang sangat kasar, murid-murid kami tak tahu mana guru honorer atau guru tetap. Mereka tahunya kami adalah guru mereka. Ini yang secara psikologis bagi para guru honorer tak mudah. Masyarakat juga tahunya kami guru, tak semua tahu statusnya apa,” kata Suyatno, guru bidang studi TIK (teknologi informasi komunikasi) di SMP Negeri 1 Ajibarang.
Ada sekitar 3.000 guru honorer di Banyumas. Itulah yang menjadi bagian sekitar 1,53 juta guru honorer dari total 3,2 juta guru yang ada di Indonesia. Perinciannya 735.820 orang mengajar di sekolah negeri dan 798.200 orang mengajar di sekolah swasta.
Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, banyaknya guru honorer disebabkan kurangnya tenaga pengajar PNS. Saat ini Indonesia kekurangan guru PNS hampir 1 juta orang. Itu membuat dinas pendidikan dan kepala sekolah mengangkat tenaga honorer supaya proses belajar-mengajar tak terhambat. Alternatif lain, melakukan mutasi guru berstatus PNS dari daerah yang berlebih ke daerah kekurangan. Kewenangan itu ada di tangan kepala daerah.
Selama ini honor guru tak tetap memang diambil dari BOS yang besarannya bervariasi. Namun, ada sekolah yang tak berani memberi honor dari BOS karena takut bermasalah. Selain Banyumas, ada beberapa pemda yang memberikan honor dari APBD, tetapi persentasenya tak banyak.
Hanya DKI Jakarta yang memberi honor guru sesuai dengan UMP, yang tahun ini Rp3,6 juta. Para pegawai honorer juga akan menerima jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pensiun, serta gaji ketiga belas. Jakarta memang punya APBD-P sangat besar, yakni Rp83,26 triliun tahun ini. Provinsi dan daerah lain yang APBD-nya kecil tentu tak mampu melakukannya.
Di tengah awan kelabu bagi para guru honorer itu, Mendikbud mengembuskan angin segar tahun depan gaji guru honorer naik sehingga kesenjangan antara porsi kerja dan hasil yang didapatkan bisa merata dan adil.
Seluruh guru honorer pastilah menunggu dengan gelora harapan apa yang dijanjikan Mendikbud. Adalah zalim jika para guru honorer yang jasanya amat nyata bagi bangsa bernasib tetap merana. Presiden Jokowi harus melakukan langkah berani mengangkat derajat guru honorer. Terlebih 2019 pemerintah mulai fokus membangun sumber daya manusia.
Selamat Hari Guru Nasional.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved