Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Derita Panjang Guru Honorer

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
27/11/2018 05:10
Derita Panjang Guru Honorer
(MI/Ebet)

DI momen Hari Guru ini mari kita berbincang lagi nasib guru honorer. Keberadaan mereka penting karena mengisi kekurangan guru negeri untuk mencerdasakan anak bangsa, tetapi nasib mereka berada di lorong gelap.

Ada banyak mantan murid mereka menjadi polisi, tentara, aparat sipil negara, dan berbagai profesi lain. Akan tetapi, mereka tetap pada posisinya semula: guru berupah amat rendah.

Itulah yang saya dengar dari beberapa pengurus Forum Guru Honorer Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu pekan silam. Tujuh guru menemui saya dan mengungkapkan betapa gelapnya nasib mereka. Berbagai upaya telah mereka lakukan, tetapi ujung dari seluruh usaha itu ialah kesia-siaan. Tak ada jalan keluar yang sedikit saja mematrikan harapan.

Bayangkan, mereka berpendidikan S-1, telah mengajar rata-rata 14 tahun, tetapi berhonor Rp400 ribu per bulan yang diambil dari BOS (bantuan operasional sekolah). Di daerah lain ada yang berhonor lebih rendah lagi. Di Banyumas, sejak tiga tahun lalu berdasarkan SK bupati, mereka mendapat dana kesra Rp400 ribu per bulan yang mereka terima setiap tiga bulan sekali.

Mereka umumnya masih menumpang di rumah orangtua masing-masing. Bagaimana untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anak mereka? Inilah ironisnya, para pendidik itu justru harus pontang-panting membiayai sekolah anak-anak mereka sendiri. Bagaimana mereka dituntut memberikan pendidikan terbaik? Inilah pertanyaan yang bertahun-tahun tak menemu jawab.

Bandingkan dengan para guru berstatus PNS, selain gaji, mendapat dana sertifikasi yang jumlahnya cukup besar. Mestinya penghasilan guru honorer jangan terlalu jauh dari guru negeri. Ada ketidakadilan dan secara psikologis tak sehat di lingkungan pendidikan.

“Kadang-kadang kami ingin kerja apa saja. Namun, persoalannya, jika kami nekat bekerja yang sangat kasar, murid-murid kami tak tahu mana guru honorer atau guru tetap. Mereka tahunya kami adalah guru mereka. Ini yang secara psikologis bagi para guru honorer tak mudah. Masyarakat juga tahunya kami guru, tak semua tahu statusnya apa,” kata Suyatno, guru bidang studi TIK (teknologi informasi komunikasi) di SMP Negeri 1 Ajibarang.

Ada sekitar 3.000 guru honorer di Banyumas. Itulah yang menjadi bagian sekitar 1,53 juta guru honorer dari total 3,2 juta guru yang ada di Indonesia. Perinciannya 735.820 orang mengajar di sekolah negeri dan 798.200 orang mengajar di sekolah swasta.

Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, banyaknya guru honorer disebabkan kurangnya tenaga pengajar PNS. Saat ini Indonesia kekurangan guru PNS hampir 1 juta orang. Itu membuat dinas pendidikan dan kepala sekolah mengangkat tenaga honorer supaya proses belajar-mengajar tak terhambat. Alternatif lain, melakukan mutasi guru berstatus PNS dari daerah yang berlebih ke daerah kekurangan. Kewenangan itu ada di tangan kepala daerah.

Selama ini honor guru tak tetap memang diambil dari BOS yang besarannya bervariasi. Namun, ada sekolah yang tak berani memberi honor dari BOS karena takut bermasalah. Selain Banyumas, ada beberapa pemda yang memberikan honor dari APBD, tetapi persentasenya tak banyak.

Hanya DKI Jakarta yang memberi honor guru sesuai dengan UMP, yang tahun ini  Rp3,6 juta. Para pegawai honorer juga akan menerima jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pensiun, serta gaji ketiga belas. Jakarta memang punya APBD-P sangat besar, yakni Rp83,26 triliun tahun ini. Provinsi dan daerah lain yang APBD-nya kecil tentu tak mampu melakukannya.

Di tengah awan kelabu bagi para guru honorer itu, Mendikbud mengembuskan angin segar tahun depan gaji guru honorer naik sehingga kesenjangan antara porsi kerja dan hasil yang didapatkan bisa merata dan adil.

Seluruh guru honorer pastilah menunggu dengan gelora harapan apa yang dijanjikan Mendikbud. Adalah zalim jika para guru honorer yang jasanya amat nyata bagi bangsa bernasib tetap merana. Presiden Jokowi harus melakukan langkah berani mengangkat derajat guru honorer. Terlebih 2019 pemerintah mulai fokus membangun sumber daya manusia.

Selamat Hari Guru Nasional.



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.