Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Nostalgia Orba?

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
16/11/2018 05:30
Nostalgia Orba?
()

DI sebuah jalan raya di Solo, spanduk bergambar Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) dan Partai Berkarya dipasang membentang. Spanduk berukuran besar itu bertengger di atas ketinggian sekitar 5 meter di atas jalan raya. Senyum Tommy merekah menggambarkan optimisme, yang jika partainya menang pemilu mendatang, rakyat akan sejahtera.

Di sebuah jalan lain lagi juga di Solo, partai mengusung slogan 'Enak Zamanku, to?' lengkap dengan gambar Soeharto, ayah Tommy, penguasa Orde Baru yang bertakhta 32 tahun. Slogan itu seolah menyindir zaman ini, bahwa di era Soeharto kehidupan lebih enak. Sebuah romantisme yang dikonstruksi sangat simplistis.

Partai Berkarya yang didirikan Tommy dengan para saudaranya itu lolos verifikasi KPU untuk maju di Pemilu 2019. Ada semangat partai ini mempersatukan keenam anak-anak Soeharto, terutama Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Siti Hediati (bekas istri Prabowo Subianto) yang memang pernah aktif di Golkar. Sejumlah jenderal juga ada di partai ini. Semangat rindu Orde Baru itulah yang tengah dibangkitkan.

Saya mengingat sepenggal perjalanan Tommy, sang 'Pangeran Cendana' itu, ketika menjadi pelarian kasus pembunuhan hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Ia ditangkap oleh Tim Kobra, yang dipimpin Komisaris Tito Karnavian, Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya (kini Jenderal Tito Karnavian, Kapolri). Putra kesayangan Soeharto itu divonis 15 tahun penjara, tapi hanya menjalani hukuman 10 tahun.

Di banyak tempat, gambar Tommy selalu hadir dengan ekspresi berseri-seri. Solo pastilah istimewa, kota kelahiran sang ibunda Tommy, Ny Suhartinah (Tien Soeharto). Di kota ini ada Dalem Kalitan, rumah keluarga Cendana. Di Solo, putra Soeharto ini juga punya sejumlah hotel. Meski ia pernah menjadi orang rantai kasus pembunuhan, namanya tak lantas temaram. Terlebih di mata anak-anak muda yang berjarak dengan reformasi.

Demokrasi memang punya kearifan yang luar biasa pada seluruh warga negara. Bayangkan, ketika reformasi diteguhkan, salah satu titik tekannya ialah mengadili Soeharto serta para kroninya. Tommy juga terlibat pembunuhan seorang hakim agung. Kini, keluarga Cendana tengah hadir kembali seolah hendak membersihkan dari masa silam yang kelam itu.

Kakak Tommy, Titiek Soeharto, yang juga kader Partai Berkarya, dalam sebuah kampanye di Cilegon, Banten, mengkritik pemerintah Jokowi yang tak berpihak pada bangsa sendiri, tapi pada aseng (mengacu pada sekelompok etnik yang dipersepsikan China), sindiran yang memang kerap dilontarkan oposisi kepada pemerintahan Jokowi.

Titiek juga mengkritik kondisi hari ini bahwa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ia dan keluarga Cendana jelas termasuk golongan kaya. Menurut majalah Time, pada 1999 kekayaan Soeharto dan anak-anaknya mencapai US$15 miliar (setara Rp200 triliun). Jumlah yang teramat fantastis di sebuah negara yang disebut Titiek tingkat kesenjangannya amat tinggi; yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Siapa yang memberi izin beberapa perusahaan konglomerat? Soemitro Djojohadikoesumo, yang pernah menjadi menteri perdagangan masa awal Soeharto berkuasa, pernah mengungkapkan ada beberapa izin usaha para konglomerat yang langsung minta izin ke Presiden Soeharto.

Meski selaku menteri ia tidak mengizinkan, kalau langsung ke Soeharto, Soemitro tidak bisa menghalanginya. Namun, bukan berarti ia diam. Ia pernah pula bicara secara terbuka soal izin-izin kepada Soeharto, tapi tetap tak digubris.

Demokrasi memang ajaib. Masih banyak di antara kita yang di dalam memorinya menyimpan trauma saat disebut Orba. Asosiasi ingatannya ialah 'sepatu lars' yang bisa mencelakai kita kapan saja.

Kini, mereka (anak-anak keluarga Soeharto) tengah menyusun kekuatan kembali. Ada pesan kuat dari mereka, "Kami belum habis. Bahkan, bisa makin eksis." Itulah kira-kira yang ingin mereka sampaikan.

Namun, kita percaya politik juga mempunyai kalkulasinya sendiri sebab di luar legal formal sebuah soal ada soal kepantasan. Benarkah Orde Baru yang menimbulkan banyak kengerian dan trauma kini benar-benar jadi nostalgia?



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.