Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
AIR yang bersih tidak selalu jernih. Air yang jernih kiranya berkat bersih. Pikiran yang terakhir itu membawa saya lebih menyukai penggunaan kata 'kejernihan' sebagai kata kunci daripada kata 'kebersihan' dalam memandang perkara-perkara kepublikan.
Di kaca yang kotor bagaimana orang bisa becermin dengan jernih? Pertanyaan itu membawa orang kepada jawaban bahwa yang pertama perlu dibikin bersih ialah sang kaca, sang alat, bukan sang diri.
Demikianlah diperlukan alat untuk menangkap kejujuran manusia. Akan tetapi, kejujuran nilainya teramat tinggi sehingga sepertinya tiada alat yang paling jernih sekalipun yang mampu secara langsung menangkap kejujuran.
Untuk dapat menangkap kejujuran, orang menempuh jalan terbalik, yaitu melalui ketidakjujuran. Faktanya ialah manusia menciptakan lie detector, bukan honesty detector. Kenapa?
Jawabnya tidak enak, karena kejujuran tidak disukai. Buktinya ilmuwan yang meneliti seberapa dapat dipercaya lie detector malah diancam diperkarakan dibawa ke muka hukum.
Dua ilmuwan di bidang forensik, Anders Eriksson dan Francisco Lacerda, mengkaji hasil studi selama 50 tahun menyimpulkan bahwa tidak ada bukti secara ilmiah yang mendukung klaim pabrik lie detector. Dua ilmuwan itu bahkan gamblang menyebut dengan alasan etika serius agar institusi dan otoritas yang otoritatif tidak terlibat dalam penggunaan mesin lie detector.
Kajian dua ilmuwan forensik itu berjudul Charlantry in Forensic Speech Science: A Problem to be Taken Seriously, panjangnya 25 halaman, dipublikasikan di The International Jurnal of Speech, Language and the Law (Desember 2007). Kedua ilmuwan itu berasal dari Swedia. Anders Eriksson dari Universitas Gothenburg dan Francisco Lacerda dari Universitas Stockholm.
Nemesysco Limited, pabrik pembuat mesin lie detector dan lawyer-nya sangat keberatan atas kajian dua ilmuwan itu. Menurut mereka artikel itu berisi tuduhan serius. Pada 4 Desember 2008, managing director penerbit jurnal menyampaikan keberatan itu di situs jurnal dan mengumumkan bahwa artikel itu tidak tersedia lagi dalam bentuk elektronik di situs Equinox.
Terlepas dari persoalan hukum, saya berpandangan keberatan pabrik pembuat mesin pendeteksi kebohongan beserta lawyer-nya itu menunjukkan mereka tidak suka dengan kejujuran ilmiah. Namun, saya bersyukur artikel ilmiah itu kemarin masih bisa saya baca di internet.
Kata charlantry dalam judul artikel ilmiah itu mengandung makna 'penipuan'. Kesimpulan yang menyakitkan bagi pabrik. Bayangkan, pendeteksi kebohongan disimpulkan berbuat penipuan.
Cerita di atas hanya mau bilang jalan 'terbalik' melalui ketidakjujuran untuk menangkap kejujuran, menggunakan alat pendeteksi kebohongan, kiranya malah membawa orang semakin jauh dari kejujuran.
Penyebabnya ialah tidak menyertakan kejernihan diri. Tanpa kejernihan, bagaimanakah orang dapat berkaca dengan jujur?
Air yang bersih tidak selalu jernih. Air yang jernih berkat bersih. Kiranya di situ orang dapat berkaca dengan jernih perihal kejujuran.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved