Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Belajar Dari JT610

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
07/11/2018 05:00
Belajar Dari JT610
()

FILM besutan Clint Eastwood dengan judul Sully membukakan mata kita tentang dunia penerbangan. Apalagi film itu berangkat dari sebuah kisah nyata. Film tentang perjuangan seorang pilot US Airways, Chesley Sullenberger, menyelamatkan jiwa 155 penumpang setelah mesin pesawatnya terbakar karena ada burung yang masuk ke mesin jet.
        
Dalam film itu diceritakan bagaimana seorang pilot harus mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang begitu pendek. Ia harus memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di bandar udara terdekat atau di landasan terbatas yang tersedia. Karena ketinggian pesawat terus menurun, akhirnya dia putuskan untuk mendarat di Sungai Hudson yang dingin karena hendak memasuki musim dingin.
         
Dari film itu kita menjadi lebih paham bahwa dunia penerbangan bukan hanya urusan Kementerian Perhubungan, perusahaan penerbangan, petugas darat, awak penerbangan, dan penumpang. Di sana juga terlibat industri pembuat pesawat terbang, industri perawatannya, pengelola bandara, dan komite pengawas keselamatan penerbangan. Bahkan ketika terjadi kecelakaan seperti di Sungai Hudson, ada peran kapal penyelamat, helikopter tim search and rescue, petugas medis, ambulans, rumah sakit, dan petugas keamanan.
          
Setelah kecelakaan terjadi, pilot dimintai pertanggungjawaban. Sebuah panel ahli duduk untuk meminta penjelasan atas pilihan pilot mendaratkan pesawat di atas sungai karena sangat berisiko. Tegangan permukaan air yang kuat bisa memecahkan pesawat apabila sudut masuknya salah. Apalagi hasil simulasi dari industri pembuat pesawat sempat menunjukkan bahwa pilot seharusnya bisa mendaratkan pesawat di dua bandara terdekat yang ada di sekitar New York.
         
Pilot Sully bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan baik. Ia mengatakan ada waktu yang dibutuhkan sebelum dirinya mengambil keputusan dan itulah yang membuat pesawat tidak mungkin mencapai bandara terdekat sekalipun. Setelah dilakukan penyesuaian antara waktu berpikir dan mengambil keputusan selama 35 detik, simulasi memang menunjukkan bahwa pesawat akan jatuh di permukiman penduduk sebelum sampai ke landasan pacu.
          
Film yang menceritakan secara rinci semua drama yang terjadi sejak awal penerbangan, saat-saat krisis terjadi, dan pascakecelakaan memberi gambaran kepada kita tentang apa yang terjadi dengan pesawat Lion Air JT601. Pesawat itu sempat meminta untuk kembali ke bandara karena ada masalah yang dihadapi. Sayang, pesawat yang sudah terbang sekitar 5.000 kaki itu tidak bisa kembali, tetapi justru terjun menukik dan pecah ketika menghantam permukaan air di perairan dekat Karawang.
          
Kita belum bisa menarik kesimpulan apa pun atas peristiwa yang tragis itu. Apalagi pilot dan kopilot termasuk 188 korban yang meninggal dunia. Kita hanya bisa merekonstruksi dari flight data recorder yang ditemukan tim penyelam. Yang pasti kita harus kehilangan 188 penumpang. Bagi keluarga korban, kehilangan sanak keluarga yang begitu tiba-tiba merupakan cobaan yang berat.
          
Kita tentu berharap ke depan kejadian seperti ini tidak terulang. Kuncinya semua pemangku kepentingan jangan pernah mengabaikan soal keselamatan. Hal itu harus ditempatkan pada posisi yang pertama.
          
Dunia penerbangan sendiri sudah membuat aturan yang begitu ketat. Tidak boleh ada toleransi sedikit pun dalam menjalankan aturan, termasuk perawatan pesawat yang tidak bisa ditunda-tunda.
          
Dalam kasus pesawat Lion Air JT610 sudah ada empat keluhan yang berkaitan dengan kondisi pesawat. Bahkan semalam sebelum peristiwa nahas terjadi, pesawat tersebut tertunda lebih dari 2 jam di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, sebelum bisa terbang ke Jakarta. Pesawat itu tidak sempat lagi menjalani pemeriksaan mendalam karena keesokan paginya sudah harus terbang yang pertama ke Pangkalpinang.
           
Pelajaran bagi perusahaan penerbangan untuk memperhatikan keluhan dari para pilot. Bagian teknik harus memastikan semua persoalan sudah ditangani karena ketika pesawat sudah mengudara, tidak ada ruang lagi untuk terjadinya kesalahan.
          
Komite Nasional Keselamatan Transportasi mempunyai tugas untuk mengungkap semua proses yang terjadi. Dari hasil analisis, evaluasi, dan pemeriksaan panel kepada direksi Lion Air akan kita ketahui apa yang menjadi penyebab dari musibah ini.
          
Pengungkapan secara tuntas diperlukan karena ini berkaitan dengan keselamatan penerbangan. Tidak boleh ada satu pun dari sistem besar penerbangan ini yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Koreksi perlu dilakukan agar semua pihak menjalankan aturan secara sungguh-sungguh.
          
Apalagi aturan penerbangan ini tidak hanya berlaku pada satu negara. Semua negara anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional harus bisa memenuhi aturan ini. Mereka yang tidak mampu menjalankan aturan yang sudah disepakati dilarang untuk melakukan penerbangan internasional.
          
Kita sekarang ini termasuk negara yang memenuhi regulasi dan karena itu diperkenankan untuk bisa menerbangkan pesawat berkode Indonesia ke seluruh dunia. Jangan sampai karena nila setitik rusak susu sebelanga. Industri penerbangan bukan hanya menjadi alat transportasi modern yang menyatukan dunia, melainkan juga menjadi pendukung pariwisata. Sekarang kita sedang gencar untuk membangun itu.

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.