Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
“TERNYATA dia garong juga ya, pak? Padahal tampangnya alim, tapi kelakuannya zalim. Kalau KPK yang menersangkakan sulit untuk berkelit. Untuk pejabat yang melakukan korupsi sebaiknya dimiskinkan saja. Biar jera! Hartanya langsung buat kaum duafa.” Ia memberondongnya tiba-tiba.
“Kan baru tersangka. Belum tentu korupsi. Artinya, belum tentu garong juga. Kita tunggu saja proses hukumnya. Siapa tahu dia bebas.” Saya menjawab normatif saja.
Kutipan pertama ialah komentar seorang penumpang kereta api tujuan Gambir-Solo, yang duduk persis di sebelah saya. Ia mengomentari foto utama Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan di halaman depan Media Indonesia edisi Sabtu (3/3) yang ditahan KPK, yang tengah saya baca.
Taufik mengenakan rompi warna jingga, uniform tahanan KPK dan kopiah hitam. Senyumnya selalu mengembang, langkahnya pasti, dan tak menjauh dari kerubutan wartawan. Politikus Partai Amanat Nasional itu tak sedikit pun memperlihatkan rasa jeri. Banyak tahanan KPK serupa itu; kerap pula mereka melambaikan tangan kepada khalayak.
Pantas pula laki-laki berbadan langsing itu, yang saat berkenalan menyebutkan namanya Sriyanto, berkomentar dengan nada tinggi. Tanpa basa-basi. Penumpang lain di depan dan belakang tempat duduk kami, tentulah mendengar dengan jelas. Ia tak peduli.
Ia sudah setahun ini tak mau lagi menyebut pejabat korupsi sebagai koruptor. Ia menyebutnya garong atau begal. “Koruptor itu seperti punya konotasi biasa saja. Tak punya efek apa pun. Lebih pas sebut aja garong atau begal,” katanya berapi-api.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011), garong berarti perampok; kawanan pencuri (penyamun, dst).’ Dalam Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia (2016), garong ialah penjarah, penyamun, perampok.
Ternyata kosakata garong ialah singkatan gerombolan romusha ngamuk. Syahdan, jalur Tagogapu-Padalarang, Jawa Barat, 1945-1947, jadi jalur yang amat ditakuti, khususnya di sore hari. Pasalnya, waktu-waktu serupa itu, hingga malam hari, hampir seluruh gerombolan bersenjata mulai beroperasi.
Para garong itu kelompok-kelompok liar, yakni bekas romusha, para pekerja paksa di era pendudukan Jepang yang kembali pulang dari kerja di berbagai negara. Termasuk salah satunya pulang dari Thailand. Para garong itu terdiri atas kelompok-kelompok bersenjata yang tidak bergabung dengan tentara dan laskar (Republik) atau Belanda.
Yang membuat masyarakat tak pernah mengerti, kenapa mereka melakukan aksi kriminal dan tak segan-segan melukai korbannya. Mereka memang bersenjata api laras pendek.
Garong juga tak peduli korbannya dari pihak Republik atau Hindia Belanda. Wajar pula mereka dicari pihak keamanan Republik dan terus diburu Belanda.
Selain di Sumedang, praktik garong di masa Revolusi juga terjadi di Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah. Seperti ditulis M Alie Humaide, peneliti LIPI, Gaboengan Romusha Ngamoek: Pertarungan Kekerasan di Kaki Pegunungan Dieng Banjarnegara (1942-1957).
Dalam penelitiannya, Humaedi menemukan adanya kelompok-kelompok penjahat di wilayah-wilayah, seperti Kalibening, Karangkobar, Batur, Paweden, Pekalongan, Wonosobo, dan Wanayasa. Mereka ialah anak-anak muda yang pernah dipekerjakan oleh bala tentara Jepang di wilayah keresidenan masing-masing.
Di wilayah Banyumas, ternyata garong ialah nama kelompok yang hampir semuanya penjahat. Mereka melakukan perampokan kepada siapa pun. Tak peduli dengan para korban, tanpa pandang bulu. Ini berkebalikan dengan mereka yang disebut maling suci. Kelompok ini hanya menyasar orang-orang kaya yang pro-Belanda. Mereka pun kerap membagikan hasil aksinya kepada mereka yang tak berpunya.
Namun, tak ada korupsi dengan tujuan suci. Ia sebenar-benarnya kejahatan yang menyengsarakan. Yang praktiknya telah pada tahap amat gawat darurat. Contoh yang amat benderang, ya korupsi tugu antikorupsi di Riau itu.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved