Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Politik Kebohongan sejak dalam Pikiran

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
25/10/2018 05:00
Politik Kebohongan sejak dalam Pikiran
()

SULIT dimengerti bila ada anak bangsa yang suka dibohongi dalam pemilu presiden. Lebih sulit lagi untuk dipahami bila ada anak bangsa yang tidak tahu telah dibohongi. Semua itu kiranya hanya dalam prakonsepsi.

Penjajahan yang paling mengerikan ialah penjajahan kebohongan. Inilah penjajahan alam pikiran, bukan penjajahan alam fisik. Karena itu, harus dilawan sejak dalam pikiran.

Apakah indahnya berbohong? Jawabnya, bila tidak ketahuan. Untuk sampai ke tahap itu diperlukan seni berbohong.

Pembaca yang budiman, saya tidak bercanda, juga tidak sedang membohongi publik bahwa indahnya berbohong bila tidak ketahuan. Maaf, saya tidak bermaksud mengajari Anda seni berbohong.

Katanya tidak ada orang yang tidak berdosa. Di antaranya berdosa karena pernah berbohong dalam hidupnya. Yang perlu digarisbawahi ialah kata 'pernah', walau hanya sekali dalam hidup yang panjang katakanlah sampai umur 80 tahun. Pembohong demikian ini bukan pembohong sejati.

Ada sejumlah syarat untuk menjadi pembohong sejati. Pertama, dengan sadar berbohong. Bukan khilaf. Kedua, konsisten berbohong. Bahasa kerennya, taat asas dalam berbohong.

Ketiga, berbohong sebagai kebiasaan. Tiada hari tanpa kebohongan, di antaranya berupa hoaks via media sosial.

Keempat, berbohong menjadi karakter. Dirinya ialah kebohongan itu sendiri. Kebohongan itu berupa sosok yang punya KTP, paspor, hak berserikat, hak bersuara, juga hak pilih. Tidak mengherankan bila kebisingan yang mengandung kebohongan bersahut-sahutan di tahun politik.

Puncaknya, kelima, tidak sadar berbohong karena berbohong telah menjadi kebenaran. Karena itu, dibela mati-matian.

Kapankah kebohongan terbongkar? Sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali jatuh juga. Apakah Ratna Sarumpaet tergolong jatuh yang macam itu? Tidak usah menghakiminya secara sosial. Cukuplah ia dihakimi menurut hukum. Bukankah kedudukannya di tahanan kepolisian sebagai tersangka?

Kebohongan Ratna Sarumpaet berkaitan dengan Pilpres 2019, yaitu patut ditengarai ia melakukannya untuk mencoreng pemerintahan Jokowi di satu pihak, menaikkan citra Prabowo di lain pihak. Cukuplah kebohongan politik sampai di situ.

Sedikitnya ada tiga orang besar di dunia yang pendapatnya tentang kebohongan kiranya perlu dikedepankan. Kata Abraham Lincoln, presiden ke-16 AS, "No man has a good enough memory to be a successful liar."

Tidak ada orang yang punya ingatan cukup baik untuk menjadi pembohong yang sukses. Siksaan buat pembohong ialah harus mengingat semua kebohongannya. Siapa bisa?

Tidak ada orang yang sempurna, termasuk sempurna sebagai pembohong. Suatu saat lupa akan kebohongannya, dan terkuaklah karakter sebagai pembohong. Kata Lao Tzu, filsuf Tiongkok, "Perhatikan karaktermu, karena dapat menentukan nasibmu."

Sebaliknya bagi orang benar. Kata Mark Twain, pengarang novel AS, "If you tell the truth, you don't have to remember anything." Jika Anda mengatakan yang benar, Anda tidak harus mengingat apa pun. Jalan orang benar ialah lurus tanpa beban.

Rakyat yang punya hak pilih kiranya sependapat dengan filsuf Jerman Friedrich Nietzsche. Katanya, "I'm not upset that you lied to me. I'm upset that from now on I can't believe you."

Saya tidak kecewa karena Anda membohongi saya. Saya kecewa karena sejak sekarang saya tidak memercayaimu. Sejak sekarang? Ya, sejak sekarang, tidak perlu menunggu sampai 17 April 2019, hari pencoblosan.

Maknanya gamblang, pembohong kiranya tidak akan dipercaya rakyat. Tanpa dipercaya, siapa yang bakal memilih Anda menjadi presiden dan wakil presiden?

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.