Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pertalite

29/7/2015 00:00
Pertalite
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PERTAMINA akhirnya meluncurkan pertalite. Produk yang sempat dipertanyakan anggota DPR itu ternyata disambut positif pasar. Konsumen merasa cocok karena RON pertalite lebih tinggi daripada premium, tetapi harga lebih murah daripada pertamax.

Sebagai korporasi, Pertamina cerdas membaca kebutuhan konsumen. Dengan varian lebih banyak, Pertamina tidak hanya memenuhi semua segmen pasar, tetapi juga memperkuat posisi menghadapi persaingan.

Kita sudah membuka pasar bahan bakar minyak. Pertamina bukan satu-satunya pemain dalam penjualan BBM.

Kita sudah mengizinkan perusahaan Inggris, Shell, perusahaan Prancis, Total, dan perusahaan Malaysia, Petronas, menjual BBM di dalam negeri.

Dengan persaingan lebih terbuka, Pertamina harus diberi kesempatan menjadi korporasi yang sesungguhnya. Jangan mempersempit ruang gerak mereka.

Kita sempat mempertanyakan ketika DPR menghambat langkah Pertamina memasarkan pertalite. Hanya karena alasan tidak melaporkan terlebih dahulu ke Komisi VII DPR, Pertamina dianggap menabrak aturan. DPR sudah berperan seperti eksekutif korporasi.

DPR sebaiknya kembali kepada fungsi sebagai pengawas pemerintah. DPR justru harus mendorong BUMN menjadi pemenang dalam persaingan agar mereka bisa ikut memberi kontribusi kepada kesejahteraan rakyat.

Pertamina harus didorong untuk tidak kalah dari Petronas dan benar-benar menjadi national oil company andal. Apalagi dalam memproduksi pertalite, Pertamina memanfaatkan kilang dalam negeri.

Keberatan DPR memunculkan dugaan adanya pihak yang keberatan bisnisnya terganggu sehingga lebih suka kita mengimpor premium karena ada kickback yang mereka dapatkan.

Masyarakat lebih cerdas karena dengan RON yang lebih tinggi, kinerja mesin kendaraan menjadi lebih baik. Pembakaran yang tidak perlu berkurang sehingga suara mesin lebih halus. Belum lagi emisi gas buang lebih rendah sehingga lebih sesuai dengan standar lingkungan. Khusus untuk yang terakhir, kita hargai langkah Pertamina mengembangkan energi bersih.

Sebelum Lebaran lalu Pertamina meresmikan unit 5 pembangkit listrik panas bumi (PLPB) di Kamojang, Jawa Barat. Dengan tambahan 35 Mw yang dihasilkan, produksi listrik Pertamina dari panas bumi mencapai 402 Mw.

Pertamina kini sedang mengembangkan proyek baru PLPB sebesar 655 Mw. Hingga 2025, Pertamina menargetkan bisa mengembangkan panas bumi hingga 2.300 Mw.

Memang investasi yang dibutuhkan tidak sedikit. Namun, potensi panas bumi Indonesia yang mencapai 28.000 Mw sayang apabila tidak dioptimalkan.

Sekarang ini baru sekitar 4% dari potensi itu yang dimanfaatkan. Padahal, ketimbang energi dari fosil, PLPB lebih ramah lingkungan.

Yang kita butuhkan ialah keberpihakan pemerintah. Kuncinya terletak pada kemauan pemerintah untuk menetapkan harga beli listrik yang lebih ekonomis.

Sekarang ini minat investor rendah karena harga listrik panas bumi hanya US$0,06 per Kw. Kalau pemerintah berani menetapkan harga US$0,11 per Kw, pengembangan panas bumi akan lebih pesat.

Presiden Joko Widodo saat meresmikan PLPB di Kamojang mendukung agar Kementerian Keuangan berani menetapkan harga listrik panas bumi yang lebih kompetitif, yang akan menguntungkan perekonomian nasional.

Tinggal sekarang bagaimana merealisasikan pemikiran itu.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.