Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Belajar bukan Urusan Rangking di Kelas

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
18/10/2018 05:30
Belajar bukan Urusan Rangking di Kelas
()

BELAJAR ialah perkara menyenangkan. Tidak dengan bersungut-sungut atau kening berkerut-kerut. Demikianlah suasana kebatinan belajar yang seyogianya ditanamkan kepada siapa pun, dengan keyakinan lebih dini ditanamkan kepada anak, lebih baik.

Belajar urusan seumur hidup. Orang tidak berhenti belajar setelah diwisuda. Semakin tinggi gelar akademis disandang, semakin tiada henti belajar.

Dalam kenyataan belum tentu demikian. Semakin panjang gelar, malah semakin pendek usia belajar. Bahkan berhenti belajar, sebelum berhenti bernapas.

Belajar yang tersulit kiranya bukan di dalam kelas, bukan pula bab demi bab buku babon, melainkan belajar dari kehidupan. Saya pikir inilah makna terdalam belajar seumur hidup.

Kehidupan ialah karunia yang menyenangkan. Karena itu, belajarlah dengan menyenangkan. Dalam pandangan ini ruang kelas hanya bagian sangat kecil semesta kehidupan yang luas.

Sekolah bukan penjara dan kelas bukan sel. Guru bukan pula sipir penjara, melainkan insan yang dipercaya untuk diberi titipan kehidupan yang menyenangkan.

Pertanyaannya, apa implikasi konkret semua pandangan itu dalam kebijakan negara di bidang pendidikan? Suatu hari saya seperti tidak percaya akan apa yang saya baca di majalah The Economist (1 September 2018). Editorial majalah itu berisi pokok pikiran bahwa pendidikan di Singapura terbaik di dunia. Bukan di Finlandia, sebagaimana yang selama ini saya pahami.

Anak-anak Singapura tidak saja unggul dalam matematika, membaca, dan sains yang menjadi ukuran PISA (Programme for International Student Assessment), tetapi juga dilaporkan bahagia, lebih bahagia daripada anak-anak Finlandia. Apa kunci keberhasilan Singapura?

Kata The Economist, sementara negara lain sering mengubah pendidikan secara tetelan dan tidak terkoordinasikan, Singapura mencoba melihat sistem sebagai keseluruhan. Mereka berinvestasi sangat hebat dalam riset pendidikan. Semua perubahan diuji lebih dulu, hasilnya dipantau dengan cermat, sebelum diluncurkan. Perhatian mendalam dicurahkan kepada bagaimana ide-ide baru diterapkan di sekolah dan bagaimana hasilnya.

Koran The Straits Times (29/9) melaporkan perkembangan terbaru perubahan pendidikan yang diterapkan Singapura tahun depan. Kata Menteri Pendidikan Singapura Ong Ye Kung, sistem rangking di sekolah dasar dan menengah bakal dihapus. Tidak ada lagi dalam rapor peringkat anak di kelas. Nilai anak dideskripsikan secara kualitatif. Apa alasannya?

"Belajar bukan sebuah kompetisi," kata Menteri Ong Ye Kung. Belajar bukan persaingan di kelas untuk merebut rangking 1, rangking 2, rangking 3, dan seterusnya.

Fokus mereka ialah kemajuan belajar, bukan perbandingan rangking. Pendidikan bukan hanya bagaimana menjadi pintar, melainkan bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.

Apa yang terbayang ketika membaca pendapat Menteri Pendidikan Singapura itu? Yang terbayang ialah keadaan sebaliknya di negeri sendiri, yaitu percakapan orangtua dalam pertemuan keluarga yang saling bercerita dengan membanggakan rangking anak masing-masing. Itulah kebanggaan yang tidak laku di Singapura.

Terus terang saban kali melihat anak SD pergi ke sekolah dengan tas berat karena penuh buku di punggungnya, hati saya menjerit protes. Protes karena sekolah ialah siksaan, belajar ialah beban untuk meraih rangking yang disimbolkan melalui tas yang berat itu.

Berikut omongan awam yang mengandung kebenaran. Katanya, mereka yang rankingnya bagus di kelas, hingga di masa tuanya menjadi pegawai. Sebaliknya mereka yang di kelas tidak pernah mendapat rangking, yang nilainya rata-rata kelas, malah jadi bos. Kenapa? Karena mereka punya kelebihan; kreatif, mampu menciptakan pekerjaan sebagai entrepreneur.

Tiap kali belajar dan tiap kali itu pula bersungut-sungut atau kening berkerut-berkerut dalam rentang waktu yang panjang (seumur hidup), kiranya malah berakibat sebaliknya, yaitu bisa bikin umur lebih pendek karena kehilangan keceriaan dalam belajar. Terutama belajar kehidupan, belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Masa depan bangsa dan negara akhirnya bergantung pada sumber daya manusia yang terus belajar sebagai perkara yang menyenangkan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.