Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Berani Maju

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
17/10/2018 05:30
Berani Maju
()

SENIOR Managing Executive Officer MUFG untuk kawasan Asia, Takayoshi Futae, kaget melihat sikap sebagian bangsa Indonesia yang takut akan masa depan negeri ini. Ia mengatakan, tidak ada yang harus ditakuti bangsa Indonesia karena peluang untuk maju dan berkembang dari negara ini begitu terbuka lebar.

Apa dasar pertimbangannya? Indonesia mempunyai generasi muda yang besar jumlahnya. Ada kelas menengah yang juga besar jumlahnya. Indonesia mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Indonesia mempunyai sumber energi. “Lalu, apa yang harus Anda takutkan? Indonesia hanya tinggal maju,” kata Futae.

MUFG sudah hadir selama 50 tahun di Indonesia dengan nama Bank of Tokyo. Sekarang MUFG tidak hanya ingin menjadi bank investasi, tetapi juga akan menjadi bank ritel. Dengan mengakuisisi 40% saham Bank Danamon, MUFG akan menyasar sektor industri, infrastruktur, dan juga usaha mikro, kecil, dan menengah.

Futae menjelaskan, MUFG akan memadukan pengalaman yang ada di Jepang, AS, dan Singapura. Dengan jejaring yang dimiliki, MUFG berhasil membangun ekosistem industri otomotif di Thailand. Pengalaman itu sekarang akan diterapkan di Indonesia yang juga menetapkan industri otomotif sebagai salah satu unggulannya. MUFG ingin menjadi bagian kemajuan Indonesia.

Bukan hanya perusahaan Jepang yang melihat prospek cerah di Indonesia. Pengusaha Korea Song Si-han berniat untuk mengembangkan bisnisnya di sini karena ada peluang besar yang ia lihat di Indonesia.

“Saya pernah bekerja di Indonesia mulai 1986 hingga 1989. Saya sekarang kembali ke sini dan akan berbisnis di sini karena 12 tahun mendatang Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 5 di dunia,” ujar Song.

Memang, tergantung dari sudut mana kita melihat masa depan. Orang yang berpikiran positif akan melihat masa depan sebagai sesuatu yang menantang dan penuh harapan. Sebaliknya, mereka yang berpikiran negatif akan melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan.
Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid sering mengkritik orang yang selalu mendengungkan teriakan, “berani mati.” Menurut Gus Dur, orang hidup itu seharusnya mendengungkan teriakan “berani hidup”, bukan sebaliknya “berani mati.”

Cara pandang seperti yang dilontarkan Gus Dur itulah yang dibutuhkan kita sekarang. Terutama para cerdik pandai jangan terjebak kepada kepentingan politik jangka pendek sehingga lupa membangunkan harapan dari warganya.

Tugas para pemimpin itu bukan menyebarkan ketakutan. Presiden Bank Dunia Kim Jim-young mengajak kita untuk menerapkan prinsip yang ditanamkan Presiden Soekarno ketika mendorong negara-negara di Asia dan Afrika untuk berani menyatakan kemerdekaannya. Pemimpin itu harus selalu menggaungkan harapan dan determinasi, idealisme, dan keberanian untuk bermimpi serta meraih mimpi itu.

Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang baru saja berakhir membukakan kesempatan bagi Indonesia untuk meraih kemajuan. Ada komitmen investasi yang disepakati dan itu mencapai nilai US$13,6 miliar, atau sekitar Rp205 triliun. Sementara itu, komitmen untuk pembiayaan kolaborasi (blended finance) dalam menopang tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) mencapai US$2,34 miliar, atau sekitar Rp35 triliun.

Semua komitmen itu barulah awal, belum akhir. Tugas kita sekarang bagaimana menindaklanjutinya. Bagaimana membuat semua komitmen itu menjadi proyek yang benar-benar diimplementasikan agar memberi manfaat bagi rakyat banyak.

Sikap get things done harus menjadi sikap dari kita apabila ingin menjadikan negara ini menjadi negara maju. Kita jangan berhenti pada sekadar berkata-kata, tetapi harus sampai kepada perbuatan.

Kita harus belajar dari para pengusaha. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang ada di atas kertas. Pekerjaan itu baru dianggap tuntas ketika sudah diterapkan di lapangan, bisa menghasilkan, dan memberikan manfaat yang nyata.

Mereka pun tidak pernah mengeluh dan menyerah ketika menghadapi kendala. Mereka selalu mencari cara untuk bisa memecahkan dan maju ke depan. Tidak usah heran apabila perusahaan mereka terus berkembang dan maju. Kita bisa lihat perusahaan dan juga badan usaha milik negara yang terus bertumbuh di tengah persepsi yang coba dibangun segelintir orang bahwa kondisi negara ini dalam keadaan sulit.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.