Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
JUDUL itu pertanyaan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pertanyaan menggugat karena aparat sipil 'tidak tampak' di tengah warga korban bencana. Ke mana aparat sipil?
Kata Wapres JK, "Minggu lalu, saya ke Palu melihat (penanganan) bencana. Semua yang memegang kendali tentara. Semua bantuan lewat korem, satgas lewat korem, yang mengatur tentara. Ke mana aparat sipil? Ke mana Kantor gubernur? Ke mana kantor wali kota?"
JK memberondongkan semua pertanyaan itu ketika memberi pembekalan kepada 88 birokrat pemegang jabatan pimpinan madya dan calon pemegang jabatan pimpinan madya di Istana Wapres, Senin (8/10). Mereka sasaran yang tepat untuk digugat.
Kenapa? Manajer lapis tengah bertanggung jawab kepada manajemen puncak atas berfungsinya unit kerja. Mereka menyiapkan panduan untuk beroperasinya staf di jajaran bawah dan mendorong untuk berkinerja lebih baik.
JK asli sipil. Dia bukan tokoh yang menjadi sipil karena purnawirawan. Pertanyaannya yang menggugat aparat sipil itu ialah pertanyaan dari sipil untuk sipil, di tengah sistem politik yang ditegakkan di atas supremasi sipil setelah dwifungsi ABRI direformasi.
Supremasi sipil itu, antara lain, hanya sipil yang punya hak suara dalam pemilu (pileg, pilpres, pilkada). Padahal, reformasi membuat tentara tidak punya wakil di parlemen sehingga aspirasi mereka sepenuhnya dipercayakan kepada sipil yang dipilih rakyat.
Supremasi sipil itu juga diperlihatkan melalui kedudukan menteri pertahanan yang diisi sipil. Setelah reformasi, baru di masa pemerintahan Jokowi sekarang posisi itu diberikan kepada purnawirawan.
Di tengah supremasi sipil itu, di tengah duka yang mendalam akibat gempa dan tsunami, sekarang muncul pertanyaan menggugat dari seorang wakil presiden yang sipil. Ke mana aparat sipil? Ke mana kantor gubernur? Ke mana kantor wali kota?
Jumat (5/10) pagi, sepekan setelah gempa dan tsunami, dalam program breaking news Metro TV, ditayangkan liputan kantor pemerintahan di Palu yang masih sepi dan tertutup. Saya geram dan berkomentar keras di acara itu agar pegawai negeri di situ dipecat saja. Maaf, komentar itu berlebihan, sekalipun fakta bahwa sense of crisis aparat sipil memang jelek. Padahal, dalam keadaan darurat, itulah sense yang sangat diperlukan.
Sejujurnya, reformasi birokrasi memang gagal. Bayangkan, ribuan aparatur sipil yang korupsi tidak dipecat. Mereka tetap makan gaji, tetap dalam kedudukannya. Apa artinya? Meminjam pertanyaan JK, ke mana aparat sipil?
Dalam keadaan normal saja, perkara yang tidak normal, yaitu korupsi dibiarkan hidup normal, hidup wajar dalam pembiaran aparat sipil. Bagaimana pula dalam keadaan tidak normal akibat gempa dan tsunami yang dahsyat? Terjadilah kenyataan buruk, aparat sipil yang pelayan warga itu 'tidak tampak' di tengah warga. Yang pegang kendali tentara. Ke mana aparat sipil?
Pelayan rakyat seyogianya punya sedikitnya tiga kapabilitas, yaitu dalam keadaan normal punya sense of urgency dan sense of proportion. Dalam keadaan darurat punya sense of crisis. Pertanyaan Wapres Jusuf Kalla, ke mana aparat sipil, ke mana kantor gubernur, ke mana kantor wali kota di Palu itu, kiranya pertanyaan yang juga menggugat dalam keadaan normal.
Hemat saya, pertanyaan Wapres JK yang sipil itu bahkan perlu dimaknai lebih jauh dan lebih dalam untuk mempertanyakan perkara yang lebih besar, yaitu supremasi sipil yang lebih bertanggung jawab.
Salah satu supremasi sipil yang bertanggung jawab itu kiranya diekspresikan dalam Pilpres 2019 yang menjunjung tinggi keadaban berdemokrasi. Di level elite, terlebih yang menyandang tokoh reformasi, memperlihatkan keteladannya tentang kehebatan supremasi sipil. Selanjutnya, rakyat berduyun-duyun menggunakan hak pilihnya dengan riang gembira seperti terjadi pada Pemilu 1955.
Berkeadaban jelas dan tegas antiberita bohong. Puncak keadaban berdemokrasi ialah saling menghormati pilihan masing-masing dan dengan jiwa besar menerima siapa pun terpilih menjadi presiden, termasuk bila yang terpilih Jokowi lagi.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved