Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Berpikir Positif

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
06/10/2018 05:10
Berpikir Positif
()

PERDANA Menteri Inggris Winston Churchill mengatakan orang yang optimistis itu selalu melihat persoalan sebagai sebuah kesempatan. Sebaliknya, orang pesimistis hanya melihat persoalan sebagai beban.

Di mana posisi kita sebagai bangsa? Kita harus berani mengatakan bahwa kita adalah bangsa yang melodramatik. Kita suka berlarut-larut dalam kedukaan. Ketika menghadapi persoalan, kita cenderung memilih lari dan mengeluh. Persis seperti burung onta, kita lebih suka membenamkan kepala di dalam pasir hanya demi menghindar dari persoalan.

Sekarang kita sedang dihadapkan dalam kedukaan menyusul bencana tsunami yang melanda Sulawesi Tengah. Dalam se­minggu ini pemerintah berusaha keras untuk menata agar kehidupan masyarakat bisa segera dipulihkan. Semua tenaga dan pikiran dicurahkan untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang masih hidup.
Secara bersamaan kita dihadapkan pada pekerjaan besar yang lain. Mulai Sabtu ini ribuan atlet penyandang disabilitas dari seluruh Asia memulai kompetisi di ajang Asian Para Games 2018 di Jakarta. Pekan depan di Bali akan digelar Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

Dua agenda terakhir ini bukanlah agenda yang bersifat dadakan. Seperti Asian Games 2018 yang baru kita selesai selenggarakan bulan lalu, agenda dunia itu sudah ditetapkan sejak beberapa tahun lalu. Indonesia sudah dipercaya sebagai tuan rumahnya.

Beberapa hari terakhir ini muncul pemikiran dari kelompok oposisi agar pemerintah menunda pelaksanaan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia. Pertemuan itu dianggap sebagai mewah-mewahan, padahal akan membahas masalah ekonomi dan moneter yang menyulitkan semua negara di dunia. Inilah salah satu cara pandang yang disebut Churchill sebagai kelompok pesimistis. Cara pandangnya begitu sempit seakan-akan tidak ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.

Padahal kehidupan ini harus terus berjalan. Kita tidak bisa hanya cukup mengeluh untuk keluar dari persoalan. Harus ada upaya dan kemauan untuk menyelesaikan masalah dan kemudian melangkah ke depan. Orang Inggris mengatakan, “The world will go on without you.”

Daripada sekadar mengeluh atau membuat sandiwara operasi plastik yang tidak bermutu, lebih baik kita sama-sama bekerja untuk membangun negeri ini. Jangan hanya karena kepentingan politik kita selalu berupaya untuk menarik orang turun ke bawah. Tidak ada manfaatnya juga kemenangan politik kalau negara ini selalu memulai pekerjaan dari titik nol.

Kalau ingin mendapatkan simpati, lebih baik tunjukkan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah. Kita bantu mereka untuk bisa bangkit. Kalau tahun depan terpilih sebagai pemimpin negara, kita sudah punya modal untuk tidak lagi membangun Sulteng dari reruntuhan.

Kita tidak pernah akan menjadi bangsa besar kalau sikapnya lembek seperti itu. Apalagi sekarang zamannya multitasking, kita harus mengerjakan semua secara bersamaan. Kita akan semakin ketinggalan kereta kalau masih bekerja satu-satu, sementara bangsa lain bekerja secara simultan.

Begitu banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Bukan hanya urusan Lombok, Sulteng, atau Bali. Bank Indonesia harus terus mengawal dan memberi respons terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, pemerintah harus terus merumuskan kebijakan fiskal yang bisa melengkapi kebijakan moneter guna meredam tekanan ekonomi dari luar.

Tidak bosan kita katakan, gejolak perekonomian global tidak bisa hanya direspons dengan kebijakan moneter. Kita harus menjaga bagaimana kegiatan bisnis bisa terus berjalan, produksi bisa terus dihasilkan, agar kita semua tetap menjadi pribadi yang produktif. Jangan peningkatan penerimaan pajak dijadikan indikator bahwa perekonomian berjalan baik-baik saja. Orang membayar pajak merupakan kewajiban. Apalagi di Indonesia petugas pajak tidak mengenal yang namanya merugi. Perusahaan diharuskan untuk membayar pajak yang lebih besar dari tahun sebelumnya, tidak peduli bagaimana kondisi bisnisnya.

Kenyataannya, kondisi bisnis tidak semua menggembirakan. Para pengusaha kelapa sawit dihadapkan pada kesulitan akibat harga yang rendah dan boikot produk sebagai bagian dari perang dagang. Para pengusaha barang konsumsi, baru Lebaran lalu mendapatkan perbaikan bisnis, sekarang terhadang lagi oleh kebijakan penghematan devisa yang dilakukan pemerintah.

Begitu banyak persoalan yang harus kita selesaikan secara bersama-sama. Oleh karena itu, mari kita hentikan sikap untuk hanya mengeluh dan mencari kesalahan orang lain. Kita harus menjadi orang optimistis karena itulah yang akan menjadi modal dari bangsa ini untuk keluar dari kesulitan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.