Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
"MENGHADAPI dunia maya yang bermetamorfosis ke dunia nyata kita mesti kuat. Harus cermat, sehat, sabar, dan lurus nalarnya. Kalau tidak, kita ambruk. Kita kalah. Bayangkan, dalam bencana yang penuh duka saja, banyak yang tega menghubungkan sebagai azab-Nya."
Begitu nasihat seorang teman via WhatsApp, ketika kami berbincang tentang hoaks dan politisasi bencana di media sosial. "Kalau tidak bisa, tinggalkan saja internet dan semua media sosial. Hiduplah di tempat sunyi." Ia menambahkan.
Memang, di media sosial berhamburanlah aneka politisasi bencana Palu dan Donggala yang terjadi Jumat pekan lalu. Bahwa bencana di Sulawesi itu karena rezim Jokowi zalim. Bahwa azab sudah sepantasnya tiba.
Padahal, gempa Lombok masih menyimpan duka yang belum hilang. Gempa 7,4 skala Richter dan tsunami di Pesisir Palu mengakibatkan lebih dari 1.000 orang gugur, puluhan ribu orang mengungsi, ribuan rumah dan fasilitas umum hancur. Duka yang yang tak terkira.
Dalam ghalibnya bencana gempa bumi disertai tsunami, kepedihan hadir berlipat-lipat. Mereka butuh orang-orang sehat untuk merawat. Mereka butuh berbagai elemen penguat, bukan menggugat. Mereka perlu suasana yang menghibur, bukan menggempur.
Justru ketika mereka butuh tiang-tiang penyangga jiwa, ada saja yang tega menambah duka. Mereka menghubungkan bencana sebagai azab. Sebagai siksaan terhadap orang yang kurang beriman.
Si pengirim pesan itu seolah ingin mengatakan, pihaknya lebih beriman, karena itu Tuhan tak menghadirkan bencana. Atas dasar apa? Atas dasar kebencian.
Jika opini serampangan dilakukan orang kebanyakan, mafhumlah kita. Namun, bagaimana jika orang-orang yang amat terpelajar yang melakukannya? Simak status seorang mahaguru bernama Suteki.
"Adakah itu (gempa dan tsunami) jawaban Allah atas kedholiman yang menimpa Gus Nur atas penetapannya sebagai tersangka?" tulis guru besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro itu, sehari setelah bencana tiba di dinding Facebook-nya yang ia beri judul, Gempa Sulawesi.
"Butuh beberapa lama Allah memberikan jawaban atas perbuatan dholim terhadap seorang ulama? Tapi, pasti pun banyak orang yang akan memberi pertanyaan saya ini tak ada hubungannya dengan gempa di Palu, Donggala, Mamuju, dan daerah lain di Sulawesi. Klenik?"
Suteki memang berpendapat seraya bertanya. Ia sengaja memakai ruang yang tak pasti. Namun, terang maksudnya bahwa bencana alam di Sulawesi,terjadi berkaitan dengan penetapan seorang yang bernama 'Gus Nur' sebagai tersangka dalam kasus pencemaran nama baik terhadap Banser.
Video pria ini (Gus Nur) memang sering beredar di jagat maya. Ia kerap memaki-maki beberapa tokoh NU dan Presiden Jokowi. Ia bahkan mengharamkan masyarakat memilih Jokowi.
Tak hanya, Nur, ada beberapa lagi sosok yang mengaku ustaz kerap memaki tokoh dengan kata-kata tak senonoh. Kenapa predikat mulia yang disandang tak mencerminkan laku mereka?
Dalam alam demokrasi, jamaklah para pembesar negara dikritik. Namun, jika dengan ujaran tak pantas, kotor, dan penuh kebencian, dan itu dilakukan beberapa pendakwah, apa tak sedang menyemai bibit-bibit generasi pembenci? Tak pandang ketika saudara kita tengah dilanda bencana. Tak tecermin ahlakul karimah sang Nabi.
Memang, yang paling mencemaskan tentang politik identitas di luar takaran, serta bertumbuhnya fanatisme buta akan sebuah pilihan, ialah terbunuhnya akal sehat.***
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved