Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Terbunuhnya Akal Sehat

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
02/10/2018 05:30
Terbunuhnya Akal Sehat
()

"MENGHADAPI dunia maya yang bermetamorfosis ke dunia nyata kita mesti kuat. Harus cermat, sehat, sabar, dan lurus nalarnya. Kalau tidak, kita ambruk. Kita kalah. Bayangkan, dalam bencana yang penuh duka saja, banyak yang tega menghubungkan sebagai azab-Nya."

Begitu nasihat seorang teman via WhatsApp, ketika kami berbincang  tentang hoaks dan politisasi bencana di media sosial. "Kalau tidak bisa, tinggalkan saja internet dan semua media sosial. Hiduplah di tempat sunyi." Ia menambahkan.

Memang, di media sosial berhamburanlah aneka politisasi bencana Palu dan  Donggala yang terjadi Jumat pekan lalu. Bahwa bencana di Sulawesi itu karena rezim Jokowi zalim. Bahwa azab sudah sepantasnya tiba.

Padahal, gempa Lombok masih menyimpan duka yang belum hilang. Gempa 7,4 skala Richter dan tsunami di Pesisir Palu mengakibatkan lebih dari 1.000 orang gugur, puluhan ribu orang mengungsi, ribuan rumah dan fasilitas umum hancur. Duka yang yang tak terkira.
Dalam ghalibnya bencana gempa bumi disertai tsunami, kepedihan  hadir berlipat-lipat. Mereka butuh orang-orang sehat untuk merawat. Mereka butuh berbagai elemen penguat, bukan menggugat. Mereka perlu suasana yang menghibur, bukan menggempur.

Justru ketika mereka butuh tiang-tiang penyangga jiwa, ada saja yang tega menambah duka. Mereka menghubungkan bencana sebagai azab. Sebagai siksaan terhadap orang yang kurang beriman.

Si pengirim pesan itu seolah ingin mengatakan, pihaknya lebih beriman, karena itu Tuhan tak menghadirkan bencana. Atas dasar apa? Atas dasar kebencian.

Jika opini serampangan dilakukan orang kebanyakan, mafhumlah kita. Namun, bagaimana jika orang-orang yang amat terpelajar yang melakukannya? Simak status seorang mahaguru bernama Suteki.

"Adakah itu (gempa dan tsunami) jawaban Allah atas kedholiman yang menimpa Gus Nur atas penetapannya sebagai tersangka?" tulis guru besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro itu, sehari setelah bencana tiba di dinding Facebook-nya yang ia beri judul, Gempa Sulawesi.

"Butuh beberapa lama Allah memberikan jawaban atas perbuatan dholim terhadap seorang ulama? Tapi, pasti pun banyak orang yang akan memberi pertanyaan saya ini tak ada hubungannya dengan gempa di Palu, Donggala, Mamuju, dan daerah lain di Sulawesi. Klenik?"

Suteki memang berpendapat seraya bertanya. Ia sengaja memakai ruang yang tak pasti. Namun, terang maksudnya bahwa bencana alam di Sulawesi,terjadi berkaitan dengan penetapan seorang yang bernama 'Gus Nur' sebagai tersangka dalam kasus pencemaran nama baik terhadap Banser.

Video pria ini (Gus Nur) memang sering beredar di jagat maya. Ia kerap memaki-maki beberapa tokoh NU dan Presiden Jokowi. Ia bahkan mengharamkan masyarakat memilih Jokowi.

Tak hanya, Nur, ada beberapa lagi sosok yang mengaku ustaz kerap memaki tokoh dengan kata-kata tak senonoh. Kenapa predikat mulia yang disandang tak mencerminkan laku mereka?

Dalam alam demokrasi, jamaklah para pembesar negara dikritik. Namun, jika dengan ujaran tak pantas, kotor, dan penuh kebencian, dan itu dilakukan beberapa pendakwah, apa tak sedang menyemai bibit-bibit generasi pembenci? Tak pandang ketika saudara kita tengah dilanda bencana. Tak tecermin ahlakul karimah sang Nabi.

Memang, yang paling mencemaskan tentang politik identitas di luar takaran, serta bertumbuhnya fanatisme buta akan sebuah pilihan, ialah terbunuhnya akal sehat.***

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.