Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DUKACITA mendalam kembali kita alami akibat gempa bumi dan tsunami yang menelan nyawa dan harta anak bangsa.
Menangani akibat gempa dan tsunami ialah urusan kita 'hari-hari ini'. Namun, kiranya perlu diingat gempa dan tsunami juga punya 'hari-hari yang lalu'. Di hari-hari yang lalu itu ada dua pokok pikiran yang perlu disebut kembali.
Pertama, tidak ada tsunami tanpa didahului gempa. Tidak semua gempa menimbulkan tsunami. Karena itu muncul pengumuman standar, berisi imbauan untuk masyarakat agar tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari BMKG.
Pandangan naif ialah tidakkah segala sesuatu menjadi terlambat karena menunggu informasi dari BMKG untuk tahu adanya potensi tsunami?
Kedua, gempa susulan yang pada umumnya kekuatannya semakin kecil. Yang perlu digarisbawahi frasa 'pada umumnya'. Alam yang 'marah' itu berkemungkinan berkelakuan 'pada khususnya', yaitu gempa susulan yang kekuatannya semakin besar. Karena itu, masyarakat diimbau agar tetap waspada terhadap gempa susulan.
Pandangan naif ialah bagaimana publik tahu yang bakal terjadi gempa bumi susulan yang lebih besar yang tidak umumnya terjadi?
Perihal gempa di Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, yang terjadi, Jumat (28/9) sore, kiranya publik perlu melihat kembali apa yang terjadi enam hari sebelumnya.
Menurut siaran pers BMKG, Sabtu, 22 September 2018, pukul 19.08.20 WIB, telah terjadi gempa bumi tektonik dengan kekuatan M 4,7 dan kedalaman 10 km yang berpusat di 4 km arah barat daya Palu. "Karena gempa bumi ini relatif kecil dan tergolong gempa bumi dangkal sehingga tidak cukup kuat untuk membangkitkan perubahan di dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami', demikian bunyi siaran pers BMKG. Disebutkan pula, guncangan gempa bumi ini dirasakan di Palu, Parigi, dan Donggala.
Pandangan naif ialah apakah gempa dan tsunami yang dahsyat yang terjadi pada 28 September 2018 itu bukan gempa susulan yang kecil dan dangkal yang terjadi sebelumnya pada 22 September 2018?
Ada pepatah latin yang berbunyi post hoc ergo propter hoc. Terjemahan bebas: Sekali ada kesimpulan yang salah, maka akibat berikutnya juga salah. Sebaliknya, sekali ada kesimpulan benar, maka akibat berikutnya juga benar.
Ada juga yang membahasakan pepatah itu sebagai pertimbangan kita yang paling lumrah bersifat intuitif. Apa itu? Pandangan naif bahwa yang terjadi sebelum suatu petistiwa pastilah menjadi penyebabnya.
BMKG sebagai lembaga yang otoritatif tentu tidak boleh intuitif atau berpandangan naif. Akan tetapi, saya yang awam ini mau nekat intuitif dan naif dengan pertanyaan, tidakkah gempa yang kecil dan dangkal pada Sabtu, 22 September 2018, berhubungan erat dengan gempa dan tsunami yang dahsyat pada Jumat, 28 September 2018? Tidakkah kita naif dengan imbauan masyarakat agar tetap tenang sampai kemudian terjadi malapetaka yang dahsyat?
Gempa bumi bukan hanya punya 'hari-hari ini', atau 'hari-hari yang lalu', melainkan juga punya 'hari-hari yang akan datang'. Kita tidak mengharapkan terjadi bencana. Akan tetapi, bukankah pandangan yang saintifik, bahwa kita sudah tahu di mana bakal terjadi gempa, tetapi kita tidak tahu kapan itu terjadi? Kita sudah tahu, karena kecuali Kalimantan, inilah negeri yang berkalung patahan gempa, yang dengan puitis dibahasakan sebagai negeri dilingkari cincin api.
Pandangan naif bilang betapa kita tidak berdaya perihal dimensi waktu di 'hari-hari yang akan datang' setelah Palu dan Donggala. Persis seperti setelah gempa beruntun di Lombok, kita tidak berdaya bahwa akan terjadi di Kota Palu dan Donggala. Pandangan naif bilang, bukankah lebih bijak kita bersama-sama secara bertahap mengajak warga bermigrasi lokal dan menjadikannya program nasional?
Terus terang, dengan penuh hormat kepada nenek moyang penemu pepatah, saya tidak bisa menerima 'Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak'.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved