Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Bahasa Benda-Benda

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/9/2018 05:30
Bahasa Benda-Benda
()

JANGAN dikira benda-benda mati tak berbicara. Begitulah kira-kira moto para ahli semiotika, ilmu tentang lambang dan tanda. Bagi mereka, benda-benda punya 'bahasa', 'percakapan', dan 'narasi' sendiri.

Benda-benda itu pula yang 'berbicara' ketika para calon presiden/wakil presiden berkunjung/meminta restu kepada keluarga mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta Selatan, beberapa hari ini. Sekurang-kurangnya ada empat benda yang 'berbicara', yakni tempe goreng, buku agama, bubur merah-putih, plus Mahfud MD.

Empat hal itulah yang memberi tanda keluarga Gus Dur menjatuhkan pilihan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Bukan kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Padahal, seperti banyak disebut, keluarga Gus Dur terutama Yenny Wahid akan menjadi tim sukses Prabowo-Sandi. Bahkan, seperti diwartakan, Yenny akan diberi tempat spesial di dalam tim pemenangan pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 02.

Tempe goreng (yang tak setipis ATM) disuguhkan kepada Sandiaga Uno. Sandilah yang bilang, untuk menggambarkan kehidupan yang kian sulit, tempe menjadi setipis ATM. Kira-kira tafsirnya ialah, "Tempe tak setipis yang Anda katakan, Sandi."

Lalu, buku-buku agama diberikan kepada Prabowo Subianto. Ketika hadir dalam Ijtima Ulama I Prabowo secara jujur mengatakan, "Saya agak grogi hari ini karena jarang saya bicara dengan ulama, biasanya saya bicara (sebagai) TNI purnawirawan, agak grogi juga. Karena memang saya akui, saya tidak berasal dari pesantren, mungkin agama Islam saya kurang bagus," kata Prabowo.

Sementara itu, bubur merah putih diberikan kepada Joko Widodo karena memang bertepatan dengan milad Gus Dur. Bubur merah putih (dalam perayaan) kerap dimaknai sebagai simbol manusia baru dan kesederhanaan. Bisa juga diperluas maknanya dalam konteks sekarang, menjaga keindonesiaan.

Yang banyak dibincangkan ialah ketika Ma'ruf Amin tiba. Di rumah keluarga Gus Dur, Mahfud MD menyambut Ma'ruf dengan pelukan hangat. Ini menunjukkan, ia yang batal menjadi bakal calon wakil presiden Jokowi--dari banyak informasi yang diterima Mahfud karena manuver Ketua MUI itu--hari itu kompak belaka.

Bolehlah diparafrasakan, demi memperkukuh Indonesia, para pengikut Gus Dur seia sekata mendukung Jokowi-Amin. Meskipun Mahfud menegaskan sebagai pejabat di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, ia netral adanya. Ini sudah tepat.

Tak hanya keluarga Gus Dur yang diwakili Yenny Wahid yang mendukung Jokowi-Amin, tetapi juga kader Gus Dur yang antara lain terdiri atas para kiai, ulama, dan habib. "Bismillah, Presiden Jokowi akan kembali memimpin Indonesia," kata Yenny dalam deklarasi dukungan di Rumah Pergerakan Politik Gus Dur di Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (26/9).

Sesungguhnya masuk akal jika keluarga Gus Dur mendukung Prabowo-Sandi. Suami Yenny, Dhohir Farisi, ialah kader Gerinda. Setidaknya irisan politik ini bisa menjadi salah satu pertimbangan. Selain itu, di kubu Jokowi ada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, yang di masa lalu 'mengalahkan' PKB Gus Dur.

Namun, ada alasan yang jauh lebih besar yang menurut keluarga Gus Dur menjadi pertimbangan utama, yakni memperteguh keindonesiaan yang belum sepenuhnya 'tiba'. Ini disimbolkan dengan lukisan yang dipamerkan Yenny, yakni gambar seseorang yang mirip Jokowi menghadap ke arah kanvas tengah melukis 'NKRI', yang 'I'-nya belum selesai. Itu sebabnya, Jokowi perlu melanjutkan kepemimpinannya.

Alasan lain ialah kesederhanaan Gus Dur, yang juga tak jauh dengan kesederhanaan mantan Wali Kota Solo itu. Ini penting dalam memimpin Indonesia yang besar dan kompleks. Meski ada yang mengkritik masyarakat terlalu mengultuskan kesederhanaan Jokowi, sulit dibantah inilah kekuatan mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Permintaan restu kepada keluarga Gus Dur membuktikan pengaruh Presiden Ke-4 Republik Indonesia ini masih besar. Kini dukungan secara resmi telah diberikan kepada Jokowi-Amin. Secara politis dan psikologis, ini besar maknanya. Namun, fakta sesungguhnya nanti pada 17 April 2019. Segala kemungkinan masih bisa terjadi dalam rentang waktu tujuh bulan. Kerja politik yang tepat dan brilianlah yang akan menentukan ke mana suara rakyat suara Tuhan itu dijatuhkan.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.