Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Harga Nyawa Manusia

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
27/9/2018 05:30
Harga Nyawa Manusia
()

KITA punya keprihatinan yang amat mendalam tentang harga nyawa manusia. Membunuh sepertinya menjadi pilihan yang terhormat untuk dan atas nama esprit de corps yang bernama bobotoh.

Pernyataan itu terbuka untuk dinilai mengandung dramatisasi atau dibesar-besarkan. Saya mesti bilang, nyawa tidak dapat dibesar-besarkan, nyawa tidak boleh dikecil-kecilkan, apalagi dikempiskan, terlebih dihabisi.

Nyawa manusia juga bukan perkara jumlah. Bukan perkara numerik atau angka, baik dalam nilai nominal, nilai absolut, maupun frekuensi dan agregat. Nyawa perkara mendasar, yaitu hak untuk hidup seorang anak manusia.

Izinkan saya menggarisbawahi kata 'seorang', bukan 'dua orang', atau 'banyak orang'. Buang jauh-jauh pernyataan 'baru satu yang mati' atau 'cuma satu yang mati.'

Dalam perspektif itu kematian seorang Haringga Sirila, suporter Persija yang dibunuh suporter Persib, bukan lagi soal sepak bola. Dia persoalan manusia menghargai dan melindungi nyawa manusia.

Orang lebih dulu menjadi manusia, baru kemudian menjadi pesepak bola atau suporter sebuah klub. Sedalam apa pun cinta seseorang terhadap sebuah klub, tidak boleh mengalahkan cintanya kepada sesama manusia.

Sebagai perbandingan, di mana-mana bertumbuh rasa sayang kepada binatang. Penyayang binatang menjadi orang-orang yang bermakna karena menyayangi makhluk hidup ciptaan-Nya.

Ada salon anjing, ada hotel tempat penitipan anjing, ada manusia yang 'care', yang berperhatian dan berkomitmen terhadap anjing. Ada filsafat bahwa anjing hidup lebih berharga daripada singa mati.

Dalam keadaban menyayangi anjing itu, memaki dengan kata-kata 'anjing kau' bukan saja kasar, tetapi salah alamat karena anjing dapat dipercaya dan setia kepada tuannya. Para penyayang anjing, yang tiap pagi mengajak anjingnya joging, protes keras dengan penggunaan kata 'anjing' sebagai ekspresi makian.

Di Jakarta ada sebuah hotel bintang 5 untuk manusia (bukan untuk anjing), yang petugas keamanannya selalu bersama anjing terlatih mengendus di pintu masuk. Terus terang eksistensi anjing itu membuat saya merasa sangat aman masuk ke hotel itu. Saya percaya endusan anjing itu endusan yang jujur dan akurat. Endusan yang tidak dapat disogok atau dibeli. Anjing hidup sungguh lebih berharga daripada singa mati.

Maaf, apakah setelah kematian Haringga Sirila makian yang kasar itu kini dapat diganti dengan 'Persib kau' atau 'Persija kau'? Jangan sampai itu terjadi.

Tragedi terbesar dalam hidup ini ialah bila yang hidup memelihara kematian di dalam hati dan pikirannya serta kelakuannya. Mereka bahagia memperlakukan nyawa manusia tidak ada harganya.

Bila itu yang terjadi, hukuman setahun pertandingan tanpa penonton sekalipun tidak mampu 'membersihkan' kultur kematian karena merupakan DNA. Saya pecinta sepak bola, dan saya lebih memilih di Republik ini lebih baik tidak ada Persib atau Persija.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.