Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Maut dalam Sepak Bola

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
25/9/2018 05:30
Maut dalam Sepak Bola
()

"SIAPA yang paling Anda benci?"

"Orang Kroasia, polisi, tak ada bedanya. Akan kuhabisi mereka semua."

"Metode yang paling Anda sukai untuk memukuli orang?"

"Potongan besi, tendangan khusus untuk mematahkan tungkai ketika si orang itu lengah."

Itulah sepenggal percakapan antara Franklin Foer dan Krle. Foer ialah penulis buku Memahami Sepak Bola (2006) dan Krle salah satu hooligan terkemuka klub Red Star Beograd asal Serbia. Kaum hooligan klub Red Star itu menamakan diri Utra Bad Boys. Namun, jangan kaget, para suporter beringas ini justru mendapat tempat terhormat di klub.

Red Star bukan klub guram Serbia. Ia juara Piala Champions 1991, penghargaan paling bergengsi kompetisi klub Eropa. Namun, begitulah cara klub ini membesarkan diri; memelihara para hooligan--diambil dari perusuh Irlandia bernama Patrick Hooligan. Mereka mendapat upah rutin dari klub. Mereka hobi menebar maut.

Seteru utama Red Star ialah Dinamo Zagreb, Kroasia. Dendam Serbia dan Kroasia memang tertutupi selama Yugoslavia dipimpin Marsekal Yosip Broz Tito. Namun, sesungguhnya perang tak pernah usai. Setiap Red Star dan Dinamo bersua, pertempuran di luar perebutan si kulit bundar sejatinya dimulai. Para hooligan beraksi, juga di beberapa klub Eropa. Itu dulu ketika mereka masih memelihara suporter beringas.

Di zaman ini keberingasan suporter sepak bola justru masih hidup dan bertumbuh di Indonesia. Tewasnya seorang suporter Persija, Haringga Sirila, yang dibunuh secara sadis di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Ahad lalu, kian membuktikan suporter kedua kesebelasan ini tetap memelihara dendam yang siap diledakkan pada waktu yang tepat. Ia hanya contoh dari sekian banyak kasus.

Haringga dikeroyok di tengah orang ramai, dihajar dengan balok, benda-benda keras, berkali-kali. Peristiwa itu terjadi 3 jam sebelum pertandingan kedua kesebelasan dimulai. Persib memenangi laga 3-2. Ada yang bersyakwasangka, bagaimana jika tim 'Maung Bandung' itu kalah?

Sejak 2012 telah tujuh suporter kedua belah pihak tewas, umumnya karena vandalisme suporter. Namun, tak ada tindakan tegas PSSI. Paling hukumannya membayar denda, pertandingan di tempat netral, dan tanpa suporter. Hanya itu. Sementara nyawa suporter yang merupakan 'pemain' ke ke-12, aspek vital industri sepak bola, dibiarkan mati berkali-kali.

Itu baru dua kesebelasan. Sejak 1995 hingga kini sedikitnya 67 suporter meninggal, umumnya dikeroyok, dihajar dengan benda-benda tajam. Sepak bola nasional sudah terlalu banyak dilumuri darah para suporternya. Rasa prihatin, penyesalan, hingga kutukan sudah berkali-kali dialamatkan kepada para pelaku kekerasan. Namun, tak ada tanda-tanda keberingasan yang membawa maut dihentikan.

Perkabungan demi perkabungan seperti dukacita yang diabadikan. Sepak bola sebagai hiburan rakyat, yang bermoto solidaritas dan persahabatan, telah menjelma menjadi ajang baku bunuh bagi sebagian penonton yang hatinya digelapkan selubung kebencian.

Bayangkan, setelah begitu banyak kematian, PSSI baru akan membuat aturan agar baku-bunuh para suporter tidak terjadi. Nantinya aturan itu akan menjadi pegangan Komisi Disiplin dan Komisi Banding PSSI. Namun, cara kerja seperti ini, yang baru akan bergerak setelah begitu banyak darah suporter tumpah, harus dikawal. Biasanya lesap begitu saja.

Olahraga, terutama setelah Asian Games, tengah menjadi oasis di tengah perseteruan politik yang tajam dan banal. Dalam politik, kebencian dan informasi hoaks diproduksi berkali-kali. Padahal, kita tengah dibangkitkan semangatnya setelah Asian Games, juga setelah timnas usia 16 menjadi juara AFF. Kita juga tengah bangga dengan Anthony Ginting yang baru saja menjadi juara China Open dengan mengalahkan para pemain elite dunia.

Olahraga yang penuh nilai-nilai sportivitas sesungguhnya tengah menjadi inspirasi dalam kehidupan kita. Terutama dalam dunia politik yang kerih dan gaduh. Dalam sepak bola, kalaupun ada teror, itu menyasar untuk menjatuhkan mental lawan bukan fisik.

Para pelaku kekerasan telah mencemari para penonton sejati, yang benar-benar mencintai sepak bola. Sayang, jika oasis itu dikeruhkan darah sebagian penontonnya.



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.