Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Mengendalikan Inflasi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
22/9/2018 05:30
Mengendalikan Inflasi
()

PEMERINTAH menjaga mati-matian agar harga beras tidak terus naik. Mengapa? Karena pemerintah sadar beras merupakan komoditas yang sangat sensitif. Pengaruh harga beras langsung dan nyata terhadap inflasi. Begitu inflasi tidak terkendali maka yang terkena adalah kehidupan masyarakat.

Pengusaha Theodore Permadi Rachmat berpandangan, inflasi jauh lebih menakutkan daripada nilai tukar. Ketika nilai tukar rupiah tertekan, yang terkena hanyalah mereka yang berkaitan dengan impor. Tetapi ketika ketika inflasi membumbung tinggi, yang terpengaruh adalah daya beli seluruh lapisan masyarakat.

Sejak 2015 kita mampu menjaga tingkat inflasi di bawah 4%. Inilah salah satu yang membuat gejolak nilai tukar rupiah tidak terlalu mengimbas kepada kehidupan masyarakat. Berbeda dengan 1998 di saat inflasi meningkat sampai 77% dan kita tahu lebih lanjut kerusuhan sosial kemudian merebak dan Presiden Soeharto harus meletakkan jabatannya.

Tentu dalam upaya menjaga harga beras dan inflasi agar tetap terkendali, yang harus diutamakan adalah produksi dalam negeri. Kita harus jadikan petani sebagai kekuatan untuk menopang ketahanan pangan. Kita harus merumuskan kebijakan yang bisa mendorong petani semakin meningkatkan produktivitasnya.

Namun kita juga harus paham siapa petani kita itu. Petani Indonesia sekarang ini umumnya adalah buruh tani. Mereka hanya bekerja di sawah tetapi tidak mempunyai lahan sendiri. Kalaupun memiliki lahan, umumnya luasannya kecil rata-rata hanya 0,25 hektare.

Dengan profil petani seperti itu memang sulit untuk mengharapkan mereka menerapkan teknologi. Pertanian tanaman pangan kita tidak secanggih petani Israel, misalnya, yang sudah menerapkan bioteknologi. Itulah yang menyebabkan produktivitas pertanian kita rendah.

Satu yang menguntungkan kita, cuaca di Indonesia lebih bersahabat jika dibandingkan dengan mereka yang hidup di empat musim. Sementara mereka satu tahun hanya bisa sekali tanam, kita bisa melakukannya dua sampai tiga kali. Jumlah penanaman yang lebih banyak inilah yang menutupi rendahnya produktivitas para petani kita.

Namun seperti berulang kali disampaikan, kita tidak pandai untuk menjaga lahan pertanian yang ada. Setiap tahun terutama di Pulau Jawa ribuan hektare sawah beralih fungsi. Itulah yang membuat produksi beras kita hanya meningkat di atas kertas, tetapi kenyataannya ketersediaan beras di bawah kebutuhan.

Untuk mengamankan ketahanan pangan, Kementerian Koordinator Perekonomian melakukan rapat koordinasi. Semua menteri dan pejabat yang bertanggung jawab dalam urusan beras dan pangan diminta untuk menaruh semua data di atas meja. Pemerintah harus merumuskan kebijakan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat.

Mantan Menteri BUMN Tanri Abeng melihat lemahnya koordinasi pemerintahan sekarang ini. Mereka tidak bekerja di dalam sebuah tim yang solid dengan visi yang sama. Tidak usah heran ketika diundang rapat koordinasi banyak pejabat yang hanya mengirimkan wakilnya, tetapi ketika keputusan diambil mereka bereaksi untuk menolaknya.

Tanri Abeng masih ingat di zaman Orde Baru, para menteri ekonomi selalu bertemu setiap minggu. Berbagai persoalan yang terjadi dan akan terjadi dicoba diantisipasi. Begitu keluar dari pertemuan, para menteri menjalankan pekerjaan rumah sesuai dengan keputusan yang diambil bersama.

Pejabat negara ketika mendapatkan amanah tidak bekerja hanya untuk kepentingannya sendiri. Para pejabat negara itu bekerja untuk kepentingan negara. Sekarang apa yang menjadi kepentingan negara itu? Menjaga kehidupan seluruh rakyat.

Kalau pemerintah menunda kenaikan tarif listrik dan harga bahan bakar minyak, karena pemerintah tidak mau ada dampak inflasi yang akan menyulitkan kehidupan rakyat. Kalau pemerintah memutuskan untuk mengimpor kebutuhan pangan dan beras, karena pemerintah tidak mau ada kenaikan harga yang bisa mengerek inflasi.

Apakah pemerintah tahu biaya yang harus ditanggung dari kebijakan itu? Pasti tahu karena memang mahal harganya. Tetapi kalau pemerintah tidak mau menanggungnya, maka beban itu akan dipikul langsung oleh masyarakat. Ketika beban itu sudah terlalu berat ditanggung rakyat akhirnya persoalan akan berbalik lagi ke pemerintah juga.

Pemahaman Inilah yang seharusnya dimengerti oleh para pejabat negara. Mereka seharusnya lebih tahu persoalan secara lebih menyeluruh. Kecuali kalau pejabat itu tidak pernah mau berkomunikasi, tidak mau berkoordinasi, dan lebih suka tampil hebat sendiri.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.