Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Rusia

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
12/9/2018 05:30
Rusia
()

KRISIS ekonomi pernah menghantam Rusia pada 2014. Menurunnya harga minyak dunia sampai di bawah US$40 per barel membuat perekonomian mereka mengalami kontraksi dalam. Apalagi sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat dan Uni Eropa menyusul pendudukan Rusia atas Crimea serta konflik dengan Ukraina membuat nilai tukar rubel terjungkal dari 33 rubel menjadi 79 rubel per dolar AS.
      
Duta Besar Indonesia untuk Rusia Wahid Supriyadi kagum dengan soliditas bangsa Rusia. Pengalaman panjang dari perang dunia yang selalu meminta banyak korban dari bangsa Rusia membuat bangsa itu selalu bersatu padu ketika menghadapi ancaman dari luar. Mereka justru kukuh sebagai bangsa, bukan malah saling menyalahkan.
        
Masyarakat Rusia tidak larut dalam kekhawatiran meski nilai tukar rubelnya terpuruk 139%. Sekarang ketika keseimbangan baru berada pada posisi 68 rubel per dolar AS, mereka pun tidak melihatnya sebagai sebuah kiamat besar.
          
Rusia menjawab tantangan itu dengan segera menata kembali perekonomian mereka. Memang butuh tiga tahun bagi Rusia untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Pada 2017, Rusia sudah menyatakan keluar dari krisis. Sekarang perekonomian mereka kembali normal, apalagi setelah sukses menyelenggarakan Piala Dunia 2018.
          
Apa yang kita bisa petik dari pelajaran Rusia? Hidup ini tidak bisa hanya diratapi dengan cara mengeluh apalagi mengumpat. Kesulitan itu jangan ditangisi, tetapi dijawab dengan berkarya. Semua warga bangsa harus berupaya memberikan yang terbaik untuk negeri ini.
         
Jangan kita terus larut dalam urusan perpolitikan. Bahkan semua masalah sekadar dilihat dari kacamata politik. Akibatnya, selama reformasi yang terjadi hanya talking democracy, tidak pernah berubah menjadi working democracy, demokrasi yang memberikan perbaikan pada kehidupan masyarakat.
          
Dalam kunjungan bersama direksi PT Perusahaan Listrik Negara dan tujuh rektor perguruan tinggi (PTN) negeri ke Rusia, kita merasakan bagaimana bangsa itu memikirkan karya di samping urusan perebutan kekuasaan politik. Semua tidak melupakan profesi yang diemban dan tanggung jawab yang mereka harus jalankan.
        
Salah satunya dirasakan ketika berkunjung ke National Research Nuclear University di Moskow. Perguruan tinggi itu sangat bangga telah melahirkan enam peraih Nobel sejak pertama kali berdiri pada 1942. Sekarang ini mereka mendorong para ilmuwan muda untuk menemukan sesuatu yang baru dan berguna bagi kehidupan umat manusia.
         
Bangsa Rusia tidak menjadikan nuklir sebagai sesuatu yang harus menakutkan. Bencana reaktor nuklir di Chernobyl tidak menyurutkan langkah mereka. Sekarang mereka sudah mengembangkan generasi kelima yang jauh lebih aman.
         
Dengan eksplorasi yang terus dilakukan, nuklir tidak hanya dijadikan alat persenjataan atau pembangkit listrik, tetapi juga diterapkan pada bidang kehidupan yang lain. Mereka sedang mengembangkan nuklir untuk biomedical, khususnya untuk membunuh sel kanker. Mereka menerapkan juga nuklir dalam bidang pertanian dan bahkan untuk teknologi informasi, termasuk sistem keamanan moneter dan keuangan.
         
Kalau kita berkaca pada diri kita, memang kita belum berhasil membangun kultur petualang. Kita cenderung melihat segala sesuatu dari kacamata negatif. Kita lebih banyak dihinggapi ketakutan-ketakutan. Tidak usah heran apabila kita fobia terhadap nuklir karena yang lebih didengungkan ialah dampak negatifnya.
         
Dengan sikap seperti itu, sulit bagi kita untuk mau melakukan eksplorasi. Kita tidak pernah berani mencoba apalagi mengembangkannya. Baru saja niatan itu muncul, pasti langsung diserang dengan stigma-stigma yang menakutkan.
         
Apalagi kalau isu itu digiring kepada kepentingan perpolitikan. Tidak akan pernah ada pemimpin nasional yang berani melakukan terobosan besar. Padahal tanpa ada terobosan besar tidak mungkin muncul generasi-generasi muda yang berani untuk melakukan petualangan, menaklukkan semua tantangan yang harus dihadapi.
         
Padahal persaingan ke depan ialah persaingan pada pembentukan manusia yang berkualitas. Bangsa pemenang ialah bangsa yang mampu menguasai teknologi untuk menjawab semua tantangan yang dihadapi.
         
Kita harus mau berubah kalau ingin menjadi bangsa yang besar. Jangan kita hanya pandai berargumen dengan bahasa-bahasa yang vulgar dan tidak mendidik. Lebih baik kita berlomba untuk berkarya agar bisa memberikan kebanggaan kepada bangsa dan negara. Tujuh rektor PTN siap membangun anak-anak muda yang menguasai teknologi tinggi.         
         

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.