Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Karubaga

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
24/7/2015 00:00
Karubaga
(Grafis/SENO)
BEBERAPA lokus di Papua, setiap perayaan Idul Fitri, juga pada Jumat (17/7) pagi silam, dijaga banyak pemuda Kristen. Itu bukti kerukunan antarumat beragama di Bumi Cenderawasih bertumbuh baik. Itu kata aktivis dakwah Papua Ustaz Abdul Wahab. Adat di Papua rupanya juga menjadi modal sosial yang kuat. Ia kerap melintasi batas-batas agama.

Ada keyakinan adat Papua bahwa yang merusak tempat ibadah, entah masjid entah gereja, akan kena bala. Keyakinan itu benar-benar dijaga, setidaknya hingga sebelum Idul Fitri 2015. Hanya di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, ada yang tak takut bala. Salat Idul Fitri di lapangan Koramil Karubaga, Jumat silam, justru jadi batal karena jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang tengah melakukan aktivitas merasa terganggu karena pengeras suara.

Mereka melakukan pelemparan. Akibatnya, Musala Baitul Muttaqin, sejumlah kios, dan puluhan rumah terbakar. Polisi bertindak. Satu orang tewas terkena peluru, 11 orang terluka. Ratusan orang mengungsi. Inilah kali pertama di Papua ada musala dibakar. Abdul Wahab mewanti-wanti kita jangan terprovokasi.

Akan salah besar jika kerusuhan di Karubaga diidentifikasi sebagai kebencian Kristen versus Islam di Papua. Jemaat GIDI, katanya, tak hanya anti-Islam. "Gereja yang tak sepaham dengan aliran GIDI juga akan dirobohkan," katanya. Karena itu, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Jayapura, Pater Neles Tebay, Jumat malam setelah kerusuhan segera meminta maaf pada umat Islam atas kerusuhan yang telah mencederai adat Papua.

"Budaya Papua tidak mengajarkan orang untuk mengganggu, apalagi membakar tempat ibadah," kata Tebay yang juga Koordinator Jaringan Damai Papua. "Oleh karena itu, orang Papua, entah apa pun agamanya, selama ini tidak pernah mengganggu, apalagi membakar entah gereja, entah masjid. Daun rumput selembar saja tidak pernah diganggu dan dipetik dari halaman gereja atau masjid," tambah Tebay.

Kini kerusuhan Karubaga, Tolikara, menjadi luka pertama Papua karena ada yang melanggar adat dengan membakar musala. Luka itu luka yang harus lekas disembuhkan. Kita semua mestinya berperan dalam penyembuhan itu. Sentimen agama memang punya potensi 'dimanfaatkan' sedemikian rupa oleh para pengail di air keruh.

Padahal, menurut banyak survei, tak ada konflik di Indonesia yang meletus karena satu sebab, juga yang disebut konflik agama. Ada tali temali faktor yang lain. Politik identitas yang buruk juga kerap ikut memanas-manasi situasi. Kabupaten Tolikara juga punya potensi serupa itu.

Tak hanya di Papua, di banyak tempat di Indonesia sesungguhnya ikatan-ikatan adat yang kuat, juga agama, kerap jadi modal sosial yang bisa menjadi penyangga banyak soal. Sayang dihancurkan. Kini, secara normatif, kita berharap pelaku kerusuhan di Karubaga ditindak sesuai dengan aturan hukum.

Namun, di luar itu, khususnya di Papua, sesungguhnya harta yang tak ternilai itu tengah dirusak aktivitas politik dan ekonomi yang liar dan juga brutal. Kita perlu meremajakan kembali pelapukan-pelapukan peran-peran adat seperti itu.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.